Heboh Sumbangan Rp2 Triliun: Jangan Membelakangi Tuhan

  • Bagikan
Pro. Dr. Sudjarwo/Foto: Istimewa

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila

Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan Oyos Saroso H.N. pada media terkait hibah Rp2 triliun keluarga Akidi Tio (Hibah Rp2 Triliun: Terima Kasih Keluarga Akidi Tio, Terima Kasih Greysa Polii/Apriyani Rahayu). Tulisan itu memukul semua kita dengan kalimat “Pertanyaan bagi kita: kalau uang itu tidak ada, apa maknanya bagi kita? Apakah kita akan marah-marah dan mengumpat dengan menyebut semua nama penghuni kebun binatang? Apakah kemarahan itu berujung laporan ke polisi dan pemidaaan terhadap anggota keluarga mendiang Akidi Tio dan dokter pribadinya?” ini belum parah, ditambah lagi dengan kalimat kunci pada alinie akhir “ Maka itu, kita tidak perlu sakit hati jika pada akhirnya uang Rp2 triliun hanyalah pepesan kosong atau mimpi di siang bolong. Kalau uang itu benar-benar ada? Ya Alhamdulillah. Itu artinya tamparan mahakeras. Itu pun kalau kita merasa tertampar”.

Ingatan jadi jauh melayang kebelakang saat hidup di Kota Palembang selama puluhan tahun di sana, dan pemahaman akan budaya “wong Plembang” paling tidak cukup dipahami secara baik. Kebiasaan keseharian dan cara hidup pada Kota Tepian Musi ini sangat khas, mereka memiliki bahasa pergaulan tersendiri, karakter juga agak berbeda dengan daerah lain. Akulturasi budaya dari Arab, Cina, melayu, dan daerah sekitar sudah berlangsung lama semenjak Kesultanan Palembang. Dan semua ini ada bukti–bukti tertulis, jika ada diantara kita ada yang bawel menanyakan bukti. Ya, ada beberapa tipologi sosial khas Wong Plembang yang perlu dipahami.

1.Proteksi diri tinggi

Salah satu di antaranya ialah jika mereka merasa disudutkan, maka kalimat yang keluar “nak ngapo kamu?” (mau apa kalian), dan kalau itu berkaitan dengan kebendaan; maka akan keluar kalimat “punyo punyo ku nian ” (kepunyaan kepunyaan saya). Hal hal seperti ini akan menjadi lebih protektif jika berkaitan dengan harga diri mereka. Proteksi seperti inilah tidak jarang mereka bungkam dan tidak mau diajak bicara, biasanya kalimat yang dilontakan “lantak ke la”; jika tersudut mereka justru mengajak penyelesaian cara mereka.

2.Paling tidak suka urusannya dicampuri

Mereka sangat tidak suka jika urusannya dicampuri tanpa diminta; mereka merasa tidak nyaman, maka akan keluar kalimat “jangan crodekan igo samo gawe wong” (jangan sok ingin tau urusan orang); ketidaksukaan seperti inilah yang juga tidak jarang membuat mereka acuh tak acuh jika merasa orang yang mengajak bicara akan ikut campur urusan mereka. Tidak ada basa basi, mereka dengan tegas mengatakan,“Urus bae gawi dewek dewek!” (urus saja pekerjaan masing masing).

3.Suka “pernesan” (membuat joke)

Mereka memiliki rasa humor yang tinggi, sering berbicara santai dengan diselingi joke , ini mereka sebut pernesan ; sehingga seberat apa pun masalah, mereka hadapi dengan santai, dan tidak harus serius. Perilaku pernesan ini tidak melihat strata sosial, semua lapisan ada dan memiliki kekhasan tersendiri.

Hal di atas baru beberapa hal saja; jika ingin diperpanjang maka tidak akan cukup halaman yang ada. Inti pokok yang ingin disampaikan adalah jika ingin menyampaikan ulasan yang berhubungan dengan sikap dan perilaku dari satu masyarakat; tolong pahami terlebih dahulu budaya dan sikap hidup masyarakat tempatan.

Sekaliber mantan petinggi bahkan petinggi aktif apapun, jika memberikan justifikasi hanya berdasarkan bukti formal; sangat sulit dijadikan bahan pertimbangan. Harus ada upaya ilmiah lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebagai contoh kita tidak akan menemukan bukti outentik tertulis untuk orang kaya dimasa lalu; karena banyak pertimbangan mereka tidak ingin disebut orang kaya. Sebagai contoh di Palembang banyak orang kaya masa lalu; namun sedikit sekali yang tercatat pada arsip penjajahan bahkan republik; karena ada pertimbangan individual, budaya dan sosial mereka tidak mau melakukan itu. Menggunakan bahasa mereka “gati gino” (perhatian amat) mengurus pekerjaan seperti itu.

Jadi, biarkanlah jika ada orang kaya raya mau menyumbangkan hartanya, bahkan semuanya; karena para tenaga kersehatan menyumbang malah nyawanya, mereka pertaruhkan demi negeri tercinta ini. Menggunakan bahasa Plembang “jangan crodekan gino” (jangan ngurusin kerjaan orang), yang penting bagaimana sekarang kita membantu negeri ini cepat keluar dari pandemi, siapapun kita dan apa pun jabatan kita.

Tamparan mahakeras istilah Oyos itu di antaranya adalah ini; yaitu kita belum berbuat apa apa, tetapi sudah ngopeni perbuatan orang lain; bahkan sudah berprasangka buruk terlebih dahulu terhadap perbuatan mulia sekalipun yang dilakukan orang lain. Mestinya kita memahami sesempurnanya yang dimiliki manusia, pasti ada kekurangannya, karena kesempurnaan itu hanya milik Sang Pencipta.

Mari kita jangan membelakangi Tuhan dalam berbuat di muka bumi ini; karena rahmat-Nya setiap hari kita nikmati, tetapi alangkah nistanya kita mengisi pemberian nikmat itu dengan menelisik semua pekerjaan orang untuk dicari cacatnya, seolah kita tidak pernah berbuat dosa sekecil apa pun.

Kita tidak ikut memiliki harta orang, tetapi kita ingin membeli dengan dosa; betapa sudah jongcaknya kita dengan membelakangi Tuhan dalam berbuat. Mari kita menyadari masih banyak pekerjaan lain yang harus kita selesaikan dan lebih lebih lagi memuliakan sesama adalah perintah utama kita sebagai pelaku rahmattanlilalamin.***

 

 

 

 

  • Bagikan