Beranda News Pilpres 2019 Heboh Survei Litbang Kompas, Jarak Jokowi-Prabowo Makin Tipis

Heboh Survei Litbang Kompas, Jarak Jokowi-Prabowo Makin Tipis

375
BERBAGI
Jokowi dan Prabowo berjabat tangan usai debat capres, Minggu malam, 17 Februari 2019. Foto:detik.com

TERASLAMPUNG.COM –– Hasil survei terbaru Litbang Kompas menunjukkan bahwa elektabilitas turun, sementara elektabilitas Prabowo naik menjelang Pilpres 2019. Dalam survei tersebut, selisih elektabilitas antara Jokowi dan lawannya, Prabowo Subianto menipis dan tinggal 11,8 persen.

Dalam rilis yang dimuat Kompas.com itu disebutkan  survei yang dilakukan pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019. Hasilnya elektabilitas antara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno, semakin tipis.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berada di angka 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 37,4 persen. Adapun, 13,4 persen responden menyatakan rahasia.

Angka tersebut berbeda ketimbang survei Litbang Kompas pada Oktober 2018. Saat itu jarak elektabilitas keduanya 19,9 persen. Pasangan Jokowi – Ma’ruf mengantongi 52,6 persen dan Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, sementara 14,7 responden menyatakan rahasia.

Hasil survei tersebut kemudian menjadi heboh di media sosial lantaran tak lama setelah hasil survei dirilis muncul foto yang menunjukkan Pemred Kompas, Ninuk Mardiana Pambudy bersama dengan Prabowo Subianto dengan latar belakang peternakan sapi.

Foto itu banyak mendapatkan kritik netizen, termasuk kritik dari mantan redaktur senior Kompas (kini sudah pensiun), Rene Pattirajawane.

Di Twitter, Rene mengritik keras dengan twit: Sejak kapan Pemred @ninuk_pambudy di masa-masa kampanye pilpres nempel disalah satu calon….nanti semboyannya berubah menjadi “ Amanat Nurani Hati 02” siapa yang bertanggung jawab.

Ninuk pun menjawab,”Ini bagian dari menjaga independensi karena pada Januari 2019 sudah bertemu Joko Widodo.”

Jawaban Ninuk dijawab kembali oleh Rene Pattiraawane:  That was not the point…..bukan tugas pemred utk jaga independesi dg pres/capres….Steve Jobs punya ungkapan bagus: If ypu want every one happy dont be a leader. Sell Ice Cream!!!! capiche???

Lalu @ninuk_pambudy menjawab: Terima kasih masukannya. Tiap orang punya jalannya sendiri. Dan saya yakin, saya tidak sedang jualan es cream.

Cuitan Rene dan Ninuk pun menjadi bahan Djadjang Nurjaman melakukan analisis. Menurut Djadjang, “berbalas pantun” Rene dan Ninuk tersebut menunjukkan bahwa saat ini sedang ada dinamika di Kompas.

Menurut Djadjang Nurjaman, sejak Ninuk menjadi Pemred terasa adanya pergeseran arah kebijakan redaksi Kompas. Pemberitaannya relatif lebih berimbang.

Pemred Kiompas, Ninuk Mardiana Pambudy (kedua kanan), bersama Prabowo Subianto di sebuah kompleks peternakan sapi (Foto: Facebook.com| dok)

“Berita kritis atas berbagai kebijakan pemerintah mulai muncul dan ditayangkan. Bersamaan dengan itu pemberitaan terhadap paslon 02 juga mulai mendapat porsi yang layak,” tulis Djadjang.

“Apakah ini hanya karena faktor kehadiran Ninuk, atau Kompas melihat arah angin perubahan besar pada masyarakat?
Dilihat dari sejarahnya, kebijakan redaksi Kompas selalu mengambil jalan aman. Sejak masa Orde Baru mereka selalu berpihak kepada kebijakan penguasa.”

Sejumlah warganet menilai Kompas kini sedang mengubah arah kebijakan redaksinya.

Sementara itu, terkait hasil survei Litbang Kompas, Ninuk dalam konferensi pers yang digelar Rabu, 20 Maret 2019, menyebutkan redaksi Kompas tidak turut campur dalam survei. Menurutnya, meskipun Litbang Kompas secara struktural berada di bawah Redaksi Kompas, tetapi mereka melaukan survei secara independen.

Ninuk pun menolak survei yang dilakukan Litbang Kompas disamakan dengan lembaga survei lain.

“Survei Litbang Kompas untuk kepentingan internal Redaksi Kompas ya. Tujuannya untuk kepentingan liputan. Jadi berbeda dengan lembaga survei lain,” katanya.

Loading...