Beranda Seni Sastra Heboh Tokoh Sastra: Saya Mencabut Puisi “Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta”...

Heboh Tokoh Sastra: Saya Mencabut Puisi “Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta” dan Mengembalikan Honor

178
BERBAGI


Sihar Ramses Simatupang*

Sihar Ramses Simatupang (dok Sihar)
Sejak
lama saya sudah berencana untuk membuat prosa liris sebagaimana yang pernah
dimuat dalam karya mendiang Linus Suryadi “Pengakuan Pariyem”. Ada sepuluh
prosa liris, tentang dunia pohon yang akan saya jadikan buku. Saya berencana
menjadikan kisah pohon sebagai diksi karena saya menyukai dunia tanaman
belakangan ini. Tanaman yang dekat dengan budaya peradaban.
Karena
itu, pada Oktober 2013, telepon dari Fatin Hamama untuk menulis puisi esai yang
bukan istimewa bagi saya itu, saya ladeni dengan mengirimkan satu prosa liris
saya. Saya tak memasalahkan honor sejak dulu karena saya sudah biasa bersama
kawan-kawan membuat kumpulan puisi bersama, gratis, sukarela dan semangat kebersamaan.
Tapi
siapa yang menyangka kalau puisi yang saya kirim akhirnya mengarah kepada gol
untuk buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”? Secara diksi, saya
merasa diksi saya lebih hebat dari diksi – pilihan kata – Denny JA.
Saya
terhenyak ketika sekitar satu bulan setelah kejadian itu tim 8 yang membuat
buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” dan merasa lemas karena
seumur hidup baru kali ini di dunia sastra ada kejadian politis (yang bahkan
bukan ideologis) sehingga saya merasa persahabatan dari saya memang tak selalu
dibalas dengan persahabatan. Selama ini, ajakan kawan untuk menulis kumpulan
puisi atau kumpulan cerpen selalu saya sambut baik bahkan tanpa latar honor
sekali pun.
Kawan-kawan,
harap kawan ketahui, kalau saja tak ada buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling
Berpengaruh”, semua yang saya lakukan halal dan professional, puisi saya kirim,
dan saya dibayar untuk satu puisi itu, jumlahnya Rp 3. 000.000,-
Saya
akan kembalikan uang itu, saya akan siapkan uangnya. Saya minta nomor rekening
Denny JA atau siapa pun yang dapat dijadikan sebagai saluran pengiriman. Dengan
begitu, saya harap puisi saya “KISAH POHON ASAM DI TANAH JAKARTA” tak dimuat di
dalam buku itu karena sudah menyentuh hati nurani saya, cinta saya kepada sastra
termasuk sejarah sastra Indonesia.
Tapi
saya tak menyesal menulis karya itu karena karya itu sudah aku buat sebelum
ditelepon, hanya saya akan menyimpannya di ruang perpustakaan pribadi saya yang
paling rapat. Bersama sembilan prosa liris saya tentang tanaman lainnya, akan
saya simpan untuk selamanya. Saya akan tetap mengeluarkan buku diksi tentang
pepohonan tapi dalam bentuk puisi liris, puisi yang mengandalkan kekuatan diksi
– non naratif – yang saya miliki untuk buku yang saya sedang persiapkan “Semadi
Akar Angin” – indie karena menerbitkan buku puisi amatlah sulit ketimbang novel
atau kumpulan cerpen.
Saya
hanya heran, biasanya saya punya intuisi untuk memilih tawaran mana yang
pantas, mana yang ideal, mana yang tak politis. Kali ini, saya terjerembab dan
tak tahu kalau tujuannya ternyata dapat merusak sejarah sastra Indonesia.
Selama ini, saya berusaha mencari penghasilan dengan cara yang halal,
sebagaimana gaji saya sebagai jurnalis selama ini juga kegiatan sastra baik
sebagai pembicara, pembaca puisi, juri, penulis puisi di koran, berencana akan
memelihara bonsai dan berpameran – plus bisnis bonsai. Bagi saya menulis puisi
– yang saya tulis atas nama dan kehendak saya sendiri adalah halal,
professional dan benar. Satu puisi saya lebih mahal dari itu. satu puisi saya
tidak terhingga harganya.
Saya
tak menyangka bila gol, tujuan dan incarannya ke arah buku “33 Tokoh Sastra
Indonesia Paling Berpengaruh”. Betapa sedihnya bila melihat banyak nama tokoh
sastra hilang dalam buku itu padahal sangat berperan dalam sejarah sastra
Indonesia, sebaliknya buku itu malah mengangkat nama yang belum teruji ke depan
baik karya dan pemikirannya.
Sekali
lagi, saya akan mengembalikan honor itu. Adakah kawan-kawan memiliki nomor
rekeningnya, saya akan mengirimkannya besok atau lusa – paling lama awal Minggu
depan.
Salam
cinta di dalam sastra,
5
Februari 2014
Sihar
Ramses Simatupang

* penyair cum jurnalis

Loading...