Hedonisme

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial pada FKIP Unila

Pada saat melakukan seminar hasil penelitian mahasiswa pasca sarjana yang meneliti tentang dampak adanya jalan tol di suatu wilayah Ujung Pulau Sumatera; saat proses ujian berlangsung, mahasiswa menemukan perubahan perilaku hedonis pada responden.

Menurut Collins Gem (1993: 97) hedonisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan merupakan hal yang paling penting di dalam hidup. Dengan kata lain, hedonisme merupakan suatu paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Pandangan atau gaya hidup hedonisme ini tentu tidak lahir begitu saja. Ada faktor-faktor yang menjadi penyebab seseorang memutuskan untuk menganut ideologi hedonisme ini. Berdasarkan penelusuran literature yang ada faktor-faktor tersebut bisa muncul dari dalam diri sendiri (internal), ataupun dari luar (eksternal) (Merdeka.com).

Faktor internal; faktor internal atau dari dalam diri sendiri, merupakan penyebab hedonisme yang paling utama. Setiap manusia sudah pasti memiliki sifat dasar yang ingin memiliki banyak kesenangan dan kebahagiaan. Ditambah lagi dengan sifat lain dari manusia, yaitu rasa tidak pernah puas yang mereka miliki. Sifat-sifat inilah yang pada akhirnya mengantarkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup yang hedonisme. Itu dicapai dengan cara apapun untuk mewujudkannya.
Faktor eksternal; adalah fakor dari luar. ini bisa berasal dari informasi atau juga globalisasi. Apalagi saat ini internet dan media sosial membuat kita bisa melihat bagaimana kehidupan orang lain. Kebiasaan-kebiasaan serta paham yang di dapat di dunia maya atau di lingkungannya, dianggap menjadi penyebab orang-orang tertarik untuk mengadaptasi gaya hidup hedonisme.

Perilaku dan gaya hidup hedonisme yang dianut, juga akan memberikan dampak pada dirinya dan juga lingkungan sekitar. Sayangnya, dampak yang muncul dari perilaku hedonisme ini cenderung negatif. Secara Individu; Seseorang yang memiliki perilaku dan gaya hidup hedonisme cenderung individualis, atau juga menganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain. Akhirnya memunculkan perilaku konsumtif, egois, cenderung pemalas, kurang bertanggung jawab, boros.

Untuk memenuhi kebutuhan semua itu tidak jarang orang melakukan korupsi. Oleh karena itu,  tidak salah pimpinan tertinggi Kepolisian Republik ini memecat seorang perwira dari jabatannya karena yang bersangkutan berperilaku hedonis. Pejabat yang sudah terjerumus di dalam perilaku hedonisme tidak akan sungkan serta juga tidak akan malu untuk korupsi demi kesenangan hidupnya.

Setidaknya ada tiga jenis hedonisme. Pertama, Psychological Hedonism. Jenis hedonisme ini menganggap bahwa manusia diciptakan secara lahiriah menginginkan kesenangan. Secara naluri, manusia itu memang mempunyai sifat untuk menghindari rasa sakit serta juga derita. Kedua, Evaluative Hedonism. Jenis hedonisme yang satu ini menganggap bahwa kesenangan merupakan apa yang seseorang inginkan serta kejar. Dalam konsep evaluative hedonism, hanya kesenanganlah yang berharga serta rasa sakit atau ketidaksenangan merupakan hal yang mengecewakan atau dianggap sebagai sesuatu yang tidak layak untuk dirasakan oleh manusia.

Ketiga, Rationalizing Hedonism. Jenis hedonisme yang terakhir memiliki pandangan bahwa seseorang mencari kesenangan, tapi juga memahami konsekuensi yang akan mereka terima. Contohnya seseorang mengonsumsi NAPZA untuk mencari kesenangan dan melepaskan beban masalah sejenak. Tapi mereka para pengguna tahu bahwa hal tersebut buruk untuk kesehatan dan juga bisa membawanya ke ranah pidana.

Pertanyaan terakhir apakah kita sebagai manusia tidak boleh senang ?. Di sini peran agama menjadi mengemuka. Karena agamalah yang mengatur perilaku bagaimana menyikapi kesenangan sebagai rahmat atau karunia Tuhan. Pertama, selalu bersyukur, sehingga tidak menjadi hilaf mata. Kedua, menyadari bahwa rezki yang diberikan Tuhan kepada umatnya itu ada hak orang lain di sana. Oleh karena itu, kewajiban sedekah kepada yang wajib menerimanya adalah sebagai suatu keharusan. Ingat bahwa setiap orang yang mati, ingin meminta kepada Tuhan untuk dihidupkan kembali di dunia ini hanya untuk bersedekah. Betapa dahsyatnya pahala bersedekah jika kita ingin memahami eksistensi dari hidup ini.

Hidup harus terus berjalan, senang dan sedih datang silih berganti; ingat di tengah kesenangan itu ada kesedihan, ditengah kesedihan itu ada rahmat. Oleh karena itu, memahami hidup saja tidak cukup, karena harus diteruskan untuk memberikan makna dalam hidup itu jauh lebih penting. Bersenang tidak harus sampai dengan hedonis, bersedih juga tidak harus sampai skeptis.

Selamat ngopi…

  • Bagikan