Beranda Teras Berita Herman Delago & Austrian Tobatak Orcherstra: Konser Lagu Batak Diusung Orkrestra Kelas...

Herman Delago & Austrian Tobatak Orcherstra: Konser Lagu Batak Diusung Orkrestra Kelas Dunia di Medan dan Samosir

2560
BERBAGI
Tyrol
adalah sebuah provinsi di negara Austria yang memiliki sejarah multinasional.
Provinsi ini terletak di jantung pegunungan Alpen, antara Italia dan Jerman.
Secara geografis Tyrol mempunyai kemiripan dengan Pulau Samosir yang
bergunung-gunung, dan merupakan salah satu pulau terindah di Indonesia. Pulau
Samosir atau kini disebut Kabupaten Samosir, berada di tengah-tengah Danau
Toba, tak heran Pulau Samosir menjadi salah satu tujuan wisata terpopuler di
Indonesia.
Di
Provinsi Tyrol, tepatnya di Kota Zams, lahir seorang musisi bernama Hermann
Delago. Semenjak masa remajanya, dia telah menggeluti bidang musik, bermain
musik dengan beberapa group band, hingga membentuk suatu group band yang bisa
membawa mereka populer di Austria dan Eropa, bernama ClockWerk Orange di tahun
1975.  Peran penting Hermann di dalam band ini, sebagai  lead vocal
dan memainkan alat musik. Atas perannya itu kemudian mampu membuat nama gorup
ini dikenal banyak orang, baik nasional maupun internasional.
Talenta
alami yang dimiliki oleh Hermann, baik olah vocal maupun memainkan berbagai
macam alat musik, mungkin juga warisan dari ayahnya sebagai musisi dan dirigen
sebuah orkestra. Beliau memperdalam ilmunya lewat pendidikan dan lulus dari
salah satu universitas musik di Austria. Di samping perkuliahan, band yang
dibentuknya juga dijalankan dengan tekun, sembari mengikuti banyak konser,
sehingga aksi panggung buat beliau sudah merupakan bagian besar dari hidupnya
mulai dari remaja hingga saat ini.
Melihat
talenta, pengetahuan dan style musik Hermann, salah satu organisasi orkestra di
Austria tergiur untuk memintanya sebagai pimpinan, dirigen sekaligus arranger
untuk orkestra itu. Hermann pun berhasil membawa nama orkestra itu, menjadi
suatu group sangat diminati banyak orang dan di setiap konser yang mereka
bawakan selalu dipadati para penonton dan fans. 
Salah satu kunci
keberhasilannya adalah karena bentuk gubahan musik orkestranya unik, terkesan
modern, namun tidak melupakan rootsnya. Di Austria, group orkestra sangatlah
banyak, namun mayoritas masih membawakan musik-musik klasik. Oleh karena
itulah, group Hermann Delago ini, sangat dikenal di Austria terutama di
Propinsi Tyrol dan juga di negara Eropa lainnya.
Pada
tahun 1995 Herman Delago melakukan perjalanan ke Indonesia untuk pertama
kalinya dan terpesona melihat  berbagai budaya dan musiknya. Perjalanannya
dimulai dari Bali. Tak lama setelah itu, dia tiba di Danau Toba,
 Kabupaten Samosir. Di Bali, dia mendengar sebuah lagu Batak, Butet,
dinyanyikan di cafe-cafe. Dia sangat menyukai lagu itu dan langsung mempelajari
lagu tersebut di Bali
.
Setibanya
di Kabupaten Samosir, dia sangat merasakan betapa indahnya daerah itu dan ada
kemiripan dengan kampung halamannya di Austria. Dia pun jatuh cinta terhadap
daerah itu, hingga mendalami keunikan budaya dan musik yang dimiliki oleh
penduduk lokal. Salah satu tempat favoritnya adalah Kedai Tuak. Kedai Tuak
hampir setiap hari dia kunjungi dan mencoba mendengar dan mempelajari secara
terus menerus lagu-lagu Batak, yang setiap hari dinyanyikan di kedai itu.
Setelah
kembali ke Tyrol, dia pun sangat serius mempelajari lagu-lagu Batak, baik dalam
menyanyikannya maupun memikirkan suatu gubahan orkestra yang cocok dengan
lagu-lagu tersebut. Dia pun membuat partitur lagu-lagu Batak, dan membagikannya
ke semua musisi orkestranya. Akhirnya lagu-lagu Batak pun menjadi bagian besar
dari setiap play list yang dibawakan dalam setiap konser mereka hingga saat
ini.
Perjalanannya
ke Kabupaten Samosir pun dilakukan secara reguler, demi menambah wawasan terhadap
lagu-lagu Batak. Sebelumnya dia pernah mendengar nama seorang musisi Batak muda
sangat kreatif, Viky Sianipar. Beberapa album karya Viky, didengar oleh Hermann
dan sangat dia sukai, membuat keinginannya bertemu langsung dengan orangnya.
Hal ini pun dilakukannya, menemui Viky Sianipar di studionya, Jakarta.
  
Pertemuan
mereka yang singkat, namun berkesan telah menghasilkan sebuah ide projek,
kolaborasi album Batak bernama TOBATAK dan telah didistribusikan secara
worldwide. Projek ini mendapat respon sangat positif dari berbagai pihak. Di
saat mengerjakan projek ini, Hermann sendiri meminta kepada salah satu teman
dekatnya Henry Manik, untuk menjadi Projek Manger.
Kesuksesan
album ini sepertinya belum memuaskan Hermann dalam menunjukkan kecintaanya terhadap
musik Batak dan juga Pulau Samosir. Henry Manik, pria kelahiran Garoga Samosir
dan tinggal di Belanda pun mendapat tawaran ide lagi dari Hermann, yaitu
mengadakan konser tour ke Medan dan Samosir, dengan melibatkan 80 orang dari
Austria, terdiri dari para musisi, vocalis, dan team lainnya. 
Bagi
Henry Manik, tawaran ini sangat menantang karena akan melibatkan begitu banyak
orang dari Eropa. Tentu juga akan sangat rumit dan butuh pendanaan operasional
sangat besar. Namun dengan modal pengalamannya beberapa kali membawa musisi
Batak tour konser di Eropa, seperti Marsada Band dan juga kecintaanya terhadap
kampung halamannya, terlihat dari berbagai aktivitasnya di Belanda, aktif
melakukan promosi terhadap Danau Toba, baik lewat even maupun online dengan menciptakan
sebuah websitesamosirtourism.com. Lewat wadah ini, dia
beberapa kali bekerjasama dengan sekolah maupun universitas jurusan pariwisata,
dalam hal pengiriman pelajar ke Kabupten Samosir. Dia pun menyambut baik ide
tour konser tersebut, dan memikirkan semua hal hal yang berhubungan dengan itu.
Pengurusan
pun dimulai dengan mencari dukungan keberbagai pihak di Indonesia, baik
pemerintah maupun swasta. Henry Manik pun membicarakan ide ini ke para
kenalannya yang berpotensi untuk bisa diajak tukar pikiran, kerjasama, dan bisa
saling mengerti jalur tujuan rencana ini, sebagai projek berbasis sosial dan
sukarela. 
Aksi Herman Delago (dok metrosiantar.com)

Gagasan
besar ini disambut baik oleh beberapa temannya di Medan yang tergabung di
Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), diketuai Marulitua Damanik.
Melihat konsep rencana dengan mendatangkan banyak orang Eropa ke Sumatera dan
untuk menggelar sebuah even, ternyata juga merupakan suatu misi dari organisasi
pelaku pariwisata ini.

Mereka
pun bersedia meluangkan waktu, pikiran maupun dana sendiri agar hal ini bisa
terealisasi. Di bawah nama ASPPI, mereka membentuk suatu team, mengurusi
penyelenggaraan konser Hermann bersama orkestranya di Medan. Mereka juga
menilai konsep konser ini merupakan ide menantang buat mereka.
Di
Samosir sendiri, rencana projek ini mendapat sambutan baik dari Dinas
Pariwisata dan Budaya Kabupaten Samosir. Mereka menyadari bahwa rencana ini
adalah misi yang perlu didukung untuk menstimulasi kepariwisataan di Kabupaten
Samosir. Konon kegiatan ini nantinya juga sangat sesuai dengan tagline
Kabupaten Samosir yang sedang digalakkan saat ini. Maka, rencana konser di
Kabupaten Samosir pun nantinya, sudah merupakan agenda yang sudah dimasukkan ke
paket even mereka untuk tahun ini dan didukung penuh oleh Dinas Pariwisata dan
Budaya Kabupaten Samosir.
Konsep
rencana konser akan melibatkan beberapa artis ternama Batak, seperti Viky
Sianipar, Tongam Sirait dan seorang artis pendatang baru dan kreatif, Retta
Sitorus. Mereka nantinya akan berkolaborasi dengan Hermann Delago dan group
orkestranya. Di samping suguhan orkestra ini, juga akan disajikan sebuah
penampilan benar-benar menunjukkan keoriginalan lagu-lagu Batak oleh Marsada
Band. Band ini sudah cukup dikenal oleh pecinta lagu-lagu Batak. Band ini telah
sukses dua kali tour di Eropa, juga dihaturkan oleh Henry Manik. Di samping
semua group ini, ada juga Jajabi Band, yaitu band lokal dari di Tuk-tuk
Siadong, akan tampil di Kabupaten Samosir.
“Konser
Tour oleh Hermann Delago & Orkestranya ini mempunyai tujuan untuk
menunjukkan rasa kecintaan dan memberi apresiasi tinggi terhadap musik dan lagu
Batak, serta menunjukkan bahwa lagu Batak sangat berterima hingga di dunia
internasional,” kata Henry Manik, Projek Manager konser ini.
Konser
juga menurutnya, untuk menstimulasi pertumbuhan kunjungan pariwisata di
Sumatera Utara pada umumnya dan Kabupaten Samosir dengan Danau Tobanya secara
khusus. Bertujuan juga agar lebih memperkenalkan Danau Toba ke dunia
internasional, lewat group besar yang akan didatangkan dari Austria.
“Tentu
juga even ini untuk lebih memotivasi dan menginspirasi generasi muda Batak agar
lebih bergiat berkarya dan berkreatifitas di dunia musik atau lagu-lagu Batak,
yang ternyata bisa berterima dalam world music. Dengan harapan  agar
budaya dan tradisional musik Batak dapat dipertahankan dan dikembangkan dengan
tanpa meninggalkan rootsnya,” ujarnya. 
Ditambahkan
Henry, adapun rencana konser akan diadakan di dua lokasi yakni, indoor di Tiara
Hotel Convention Medan pada tanggal 20 Augustus 2014, diselenggarakan atas
kerjasama dan dukungan penuh ASPPI Medan. Konser outdoor digelar di Open Stage
Tuk-tuk Siadong, Kabupaten Samosir pada tanggal 23 Augustus 2014,
diselenggarakan atas kerjasama dan dukungan penuh Dinas Pariwisata dan Budaya
Kabupaten Samosir.
“Kita
semua pihak yang terlibat dalam rencana ini, mempunyai harapan besar, semoga
semuanya akan berjalan dengan lancar dan mendapat dukungan dari seluruh pihak.
Kita juga berharap seluruh masyarakat meyempatkan waktu untuk bisa hadir dan
menyaksikan acara yang unik ini. Karena konser ini merupakan projek yang bisa
dibanggakan, terutama karena berbasis sosial, misi budaya dan musik antara
Propinsi Tyrol, Austria dengan Sumatera Utara, yang didasari rasa kesukarelaan
semua tim yang terlibat dan didukung oleh pemerintah kedua belah pihak,” kata Henry Manik. (Rl)

Loading...