Hidup dalam Perspektif Rasa

  • Bagikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial Pascasarjana FKIP Unila

Melalui media sosial seorang anggota grup mengirim artikel yang sangat inspiratif menceritakan bagaimana pasangan tua yang menggunakan kendaraan tua juga; melakukan perjalanan ke luar kota. Di tengah perjalanan mereka dipotong oleh kendaraan merek yang sama dengan yang mereka kendarai, namun usianya terbaru dan dikendarai oleh anak muda gagah perkasa.

Kakek berguman dalam hati,”Enak sekali anak muda itu mengendarai mobil keluaran terbaru, sehingga bisa laju sekali dalam berjalan, tidak seperti dirinya sudah tua renta, berkendaraan tua lagi dan sering dandan dari pada jalan….”

Beliau tidak menyadari, anak muda yang mengendarai kendaraan keluaran terbaru tadi pun sebenarnya juga berguman dalam hati, “Enak sekali bapak tua itu pergi bermesraan dengan istrinya dan bahagia sekali karena beliau naik kendaraan walaupun tua usianya, tetapi tidak kredit seperti saya, sehingga tidak harus hidup seperti dikejar bayang bayang, karena takut akan tagihan kredit mobil seperti dirinya saat ini.”

Sejurus kemudian kendaraan pak tua tadi berhenti karena lampu lalu lintas sedang menyala merah. Entah mengapa sang istri menoleh memperhatikan sesuatu, ternyata di pinggir jalan ada pasangan tua seperti mereka sedang menaiki mobil dengan usia mobil lebih tua. Sang suami bersusah payah membukakan pintu istrinya, dan kemudian menuntunnya untuk menepi.

Nenek dan kakek yang sedang menunggu lampu lalu lintas tadi berguman,”Bahagia sekali mereka. Sekalipun kendaraannya lebih tua dari kendaraan kami, tetapi suaminya yang tua itu masih mau membukakan pintu mobil untuk istrinya.”

Ya. Itu berbeda jauh dengan suaminya yang tidak pernah membukakan pintu, apalagi menuntun jika berjalan. Kemesraan itu sudah lama hilang seiring perjalanan usia, tidak seperti waktu muda dulu.

Sebaliknya,  kakek tua yang ada di tepi jalan ternyata mobilnya mogok. Karena terlalu tuanya usia kendaraan, sehingga untuk membuka pintunya pun susah. Setiap kali istrinya akan turun, terpaksa dengan susah payah dia membongkar pintu itu agar terbuka.

Dalam hati kakek ini berguman, “Enak sekali pasangan itu, mobilnya masih agak mudaan usianya dari miliknya. Kondisinya masih bagus, sehingga membuka pintu istrinya bisa sendiri, tidak merepotkan suami, tidak seperti dirinya, setiap berhenti repot mengeluarkan istri dari mobil, sehingga istrinya berpeluh kelamaan di dalam, dan harus dituntut menepi. Kalau tidak fertigonya bisa kumat. Memang jadi menjengkelkan….”

Kakek tua yang sedang menunggu lampu merah akan menghadiri reuni; sesampai di gedung megah mereka berbaur bersama. Sang kakek terkagumkagum dengan seorang temannya yang sekarang sudah menyandang gelar akademik tertinggi dan belum purnabakti, sementara dirinya sudah lama purnabakti dan sekarang hidup dengan pas-pasan. Karena tidak mau merepotkan anak, selalu jika anaknya bertanya tentang kebutuhannya, dia jawab cukup; walaupun sebenarnya kurang. Sebaliknya sang teman yang memiliki gelar panjang kali lebar itu, terpana melihat temannya, dalam hati berguman,”Bahagianya mereka… sudah bisa menikmati hari senja, sementara diriku masih harus mengejar mimpi dunia yang entah kapan berakhir.”

Menyimak dari keempat peristiwa di atas, ternyata orang mengatakan gunung itu indah dipandang dari jauh, namun saat kita daki, ternyata di sana ada jurang yang terjal, ada lembah yang landai ada binatang buas, dan lain sebagainya. Benar adanya; dalam bahasa Jawa “sawang sinawang” yang terjemahan bebasnya saling memandang dari jauh, segala sesuatu tampak indah. Padahal, sebenarnya sama saja: penuh onak dan duri. Itulah kehidupan yang memang indah jika kita selalu mensyukurinya, dan terasa hampa jika kita hanya selalu menuntut lebih.

Para ulama mengatakan Tuhan memberikan anugerah dan cobaan pada kita, bukan berarti Tuhan membenci atau menyenangi kita, akan tetapi yang dinilai adalah rasa syukur yang ada di dalam diri saat menerima semua pemberian-Nya. Baik menurut manusia, mungkin tidak menurut Tuhan. Sebaliknya,  tidak baik menurut manusia, mungkin justru terbaik menurut Tuhan. Karena rasa bahagia dan menderita itu didatangkan adalah untuk mengukur sejauh mana tingkat kesyukuran kita terhadap apapun yang Tuhan berikan.

Selamat ngopi pagi….

  • Bagikan