Beranda Hukum Kriminal Himpitan Ekonomi dan Minimnya Lapangan Pekerjaan Jadi Pemicu Aksi Kejahatan di Lampung

Himpitan Ekonomi dan Minimnya Lapangan Pekerjaan Jadi Pemicu Aksi Kejahatan di Lampung

450
BERBAGI
Kapilda Lampung Irjen Suroso Hadi Siswoyo menginterogasi beberapa pelaku kejahatan dalam ekspos perkara di Mapolda Lampung, Senin (30/10.2017).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG —  Sejumlah pelaku kejahatan yang berhasil ditangkap polisi di Lampung dalam sepuluh hari terakhir (20-30 Oktobr 2017) mengaku, mereka melakukan aksi kejahatan karena terdesak masalah ekonomi dan minimnya lapangan pekerjaan.

“Ya… gimana lagi… semua usaha mentok. Lapangan kerja nggak ada,” ujar Murni, bukan nama sebenarnya, salah satu tahanan Polda Lampung, (Senin (30/10/2017).

Murni mengaku terpaksa melakukan kejahatan karena tidak memiliki pekerjaan tetap.

Dalam kurun waktu 10 hari saja, mulai 16-25 Oktober 2017. Polda Lampung dan Jajaran Polres/Polresta menangkap sebanyak 81 tersangka dari 60 kasus yang diungkap dan menyita sejumlah barang bukti. Sementara hasil gelar ungkap kasus sebelumnya, pada Senin (16/10/2017) lalu. Dalam sepekan, ada 31 tersangka dari 16 kasus yang diungkap.

Radi (bukan nama KTP), tersangka kejatahan yang dihadiahi timah panas di kakinya oleh polisi, saat ditanya oleh Kapolda Lampung Irjen Pol Suroso Hadi Siswoyo, mengaku sehari-hari bekerja sopir serep mengungkapkan.

“Saya menyesal Pak melakukan ini semua,” ujarnya.

Menurut pria paruh baya tersebut, dirinya terpaksa melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan harus berurusan dengan kepolisian, karena desakan atau himpitan ekonomi untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Selain itu juga, lantaran tidak memiliki perkerjaan tetap dan laik.

“Ya kalau saya punya pekerjaan tetap dan layak, dan dapat penghasilan setiap bulannya Rp 1,5 juta atau 2,5 juta. Saya tidak melakukan kejahatan mencuri, apalagi saya harus menafkahi istri dan tiga orang anak yang butuh biaya sekolah,”ungkapnya di hadapan Kapolda Lampung dan awak media, Senin (30/10/2017).

BACA: 10 Hari, Polda Lampung Ungkap 60 Kasus dan Tangkap 81 Tersangka

Hal senada juga diungkapkan oleh Ranti (bukan nama sebenarnya), perempuan  yang bekerja di toko pakaian di Kota Metro. Ia mengaku nekat mencuri selimut dan popok bayi ditempat kerjanya lantaran upah yang ia terima sangat kecil dan jauh dari kata layak. Sehingga, tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya nekat mencuri karena desakan ekonimi pak, apalagi upah yang saya terima dari pekerjaan itu sangat kecil,”ucapnya dengan raut wajah yang menunjukkan kesedihan akan nasibya.

Kapolda Lampung Irjen Pol Hadi Siswoyo mengatakan, pihaknya melakukan evaluasi setiap pekannya dan dikompulir menjadi satu bulan hasil ungkap kasus. Hal itu sengaja dilakukannya, yakni untuk mengetahui sejauhmana kecenderungan mata pencaharian masyarakat lampung yang dinilai kurang baik tersebut.

“Ungkap kasus ini baru 10 hari dan sudah begini hasilnya, ada 81 orang tersangka ditangkap dari 60 kasus yang diungkap,”ujarnya.

Dengan demikian, kata Jenderal bintang dua ini, Pemerintah daerah harus bisa melihat bagaimana kondisi masyarakatnya. Lalu tindakan apa yang harus dilakukan, atas keberadaan mereka (pelaku) yang mencari nafkah dengan cara yang salah sehingga mereka melakukan perbuatan tindak kejahatan.

“Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang penghasilannya kecil dibawah garis kemiskinan, pemerintah harus membuat terobasan yang perlu diberikan untuk masyarakat agar tidak melakukan kejahatan,”ungkapnya.

Menurutnya, para pelaku kejahatan, tidak akan melakukan pekerjaan yang tidak baik atau melanggar hukum, apabila mereka diberikan lapangan pekerjaan yang baik dan juga laik untuk mereka.

“Semisal saja, mereka diberi pekerjaan dengan upah layak Rp 2 juta atau Rp 2,5 juta. Mudah-mudahan saja dan Insya Allah, mereka akan melakukan pekerjaan baik dan tidak melanggar hukum seperti mencuri atau yang lainnya,”jelasnya.

Loading...