Beranda Hukum Hina Wartawan, Kapolres Way Kanan Panen Kecaman

Hina Wartawan, Kapolres Way Kanan Panen Kecaman

618
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Kapolres Way Kanan AKBP Budi Asrul Kurniawan panen kecaman setelah mencaci dan menghina wartawan. Penghinaan diakukan AKBP Budi ketika pihaknya menertibkan dua kelompok massa yang pro dan kontra terhadap angkutan batubara di Kampung Negeribaru, Blambanganumpu, Waykanan sekitar pukul 02.30 WIB , Minggu (27/8).

Saat kedua kelompok itu hampir bentrok, para wartawan pun menyiapkan kamera untuk merekam peristiwa tersebut. Melihat para wartawan merekam kejadian, AKBP  Budi langsung melarang para wartawan melanjutkan kerjanya.

Ia lalu memerintahkan anggotanya untuk menggeledah Dedy Tornando (wartawan Radar TV) dan Dina Firasta (wartawan Tabikpun.com).

“Saat kami mau melakukan tugas kami, Pak Kapolres melarang kami berdua menggunakan kamera. Dia hanya membolehkan merekam suara saja. Perintah itu sudah kami turuti tapi Kapolres malah menyatakan wartawan sebagai kotoran,” kata Dedy Tornando, seperti ditulis radarlampung.co.id .

Kedua wartawan itu pun kemudian minta klarifikasi soal itu pelarangan itu. Hal itu justru membuat Kapolres marah besar dan mengeluarkan caci maki dan hinaan.

Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan. Menurut Budi, koran di Lampung tidak ada yang membaca.

Kepada dua wartawan itu AKBP Budi mengaku melarang wartawan meliput (merekam) dirinya karena trauma dengan peristiwa buruk yang katanya pernah dialaminya terkait dengan rekaman video yang dalam peristiwa  di Tulungbuyut, Gununglabuhan beberapa waktu lalu.

Menurut AKBP Budi, saat itu rekamannya yang tengah berbicara di depan warga  diunggah ke media sosial dan menimbulkan tanggapan pro-kontra.

Sekretaris IJTI Lampung Jefri Ardi meminta agar Kapolres Waykanan segera meminta maaf secara terbuka kepada kedua jurnalis tersebut.

IJTI Lampung mengancam akan membawa masalah ini kepada Kapolda Lampung atau Kapolri jika Budi Asrul Kuniawan tidak menanggapinya.

“Kalau Kapolres itu tidak mau minta maaf, IJTI Lampung akan meminta kepada Kapolda dan Kapolri untuk mengevaluasi jabatannya sebagai Kapolres Waykanan,” kata Jefri.

Kecaman juga dilontarkan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Bandarlampung, Padli Ramdan.

Menurut Padli, hinaan dan pelarangan kepada wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik tidak sepantasnya dilakukan Kapolres Way Kanan.

“Wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi Undang-Undang. Saat bekerja, wartawan tidak hanya bekerja untuk publik. Searusnya kepolisian juga menghargai tugas wartawan yang dilindungi oleh undang-undang,” kata Padli.

Ketua PWI Lampung Supriyadi Alfian juga menyayangkan aksi Kapolres Way kanan.

 

Supriyadi mengaku pihaknya akan mempelajari kronologi kejadian sebelum mengambil langkah untuk menyikapi kasus tersebut.

“Kami sangat mengecam aksi tersebut,” katanya.