Horee! Harga Singkong Naik Jadi Rp9.000 per Kilogram!

  • Bagikan
Ilustrasi/Supriyanto

Oyos Saroso H.N.

“Horeeeee!” Mat Dra’up teriak kegirangan ketika membaca berita di media online bahwa harga singkong naik dari Rp810 menjadi Rp9.000. “Ini baru Kades top! Baru kali ini ada kades bisa menaikkan harga singkong dengan kenaikan fantastis!”

BACA: Gubernur Lampung – Pengusaha Sepakati Harga Singkong Minimal Rp900 per Kilogram

“Singkong yang mana, Mat?” tanya Mbak Caca Marica Hehe.

“Ya singkong petani. Mosok singkong suamimu! Suamimu kan nggak nanem singkong!”

“Wuih…gitu aja marah. Ditanya serius kok marah,” kata Mbak Caca sambil menyeduh kopi untuk pelanggan barunya.

“Betul kata Caca. Cek dulu, itu berita kapan. Harga singkong di mana yang naik segitu. Jangan-jangan singkong di Mesir,” timpal Karto Klete.

Mat Drau’up terdiap. Diseruputnya kopi yang sudah mulai dingin.

Ia kembali menggeser-geserkan layar ponsel untuk membaca berita kenaikan harga singkong dari Rp 800 per kilo menjadi Rp 9.000 per kilo.

Lama ia terdiam.

“Jadi kesimpulannya itu harga singkong di mana? Benar itu di Kampung Waru Doyong?” tanya Mbak Caca.

Mat Dra’up masih diam.

Beberapa saat kemudian ia baru menjawab. “Bukan. Ini di Lampung.  Bukan di kampung kita.”

“Tuh kan…makanya baca dulu yang teliti,” kata Karto Klete. “Kalau begitu, besok kita berangkat nyebrang ke Sumantrah. Ke Lampung! Kita tanam singkong di sana. Kakekku masih punya warisan tanah yang luas di sana….”

“Kamu juga jangan terburu-buru. Baca yang teliti. Benarkah harga singkong di Lampung naik jadi Rp9.000 per kilo….”

Seperti Mat Dra’up, Karto Klete kemudian membuka tautan berita kenaikan harga singkong.

“Benar, naik Rp9.000 per kilo?” Mbak Caca kembali bertanya, sambil beranjak ke dapur untuk menggoreng pisang.

Kini giliran Karto Klete yang diam.

Karto Klete menggeser-geser layar ponsel untuk menemukan kalimat “Harga singkong dinaikkan menjadi Rp9.000”. Lama ia mencari, tetapi gagal. Yang ada justru kalimat “Gubernur dan pengusaha menyepakati harga singkong di Lampung sebesar Rp900/kg dan rafaksi atau pengurangan harga maksimal 15 persen”.

“Sudah ketemu?” tanya Mbak Caca.

Bajinguk! Bukan naik jadi Rp9.000 per kilo tapi naik dari harga Rp700-an per kilo menjadi Rp900 per kilo! Angka 0-nya ngglundung!” pekik Karto Klete.

“Kan yang penting naik!” timpal Mbak Caca.

“Ya, naik. Tapi dengan rafaksi atau pengurangan harga alias bisa turun sampai 15 persen. Artinya bisa saja turun jadi Rp765!” kata Karto Klete.

“Ya…. itu artinya enggak niat naikin harga. Hehehehe. Nglawak aja,” kata Mbak Caca.

“Hiya,” potong Mat Dra’up. “Saya sudah gooling….terrnyata di Kabupaten Way Kanan, Lampung, pada Januari 2020 lalu harga singkong di kisaran Rp1.200 per kilo, Februari turun menjadi Rp1.050 per kilo, Maret harga turun menjadi Rp 950 per kilo, lalu turun lagi hingga di kisaran Rp 700-an per kilo….”

“Ya…. kalau begitu kita nggak perlu nyebrang ke Sumantrah. Kita di sini saja, miara lele dan belut,” timpal Karto Klete.

Loading...
  • Bagikan