Hubungan Kualitas Air dengan Ekonomi dan Kesehatan Masyarakat (1)

  • Bagikan
Oleh Kristian M Warella
Sebagai akibat terjadinya degradasi
lingkungan yang disebabkan oleh berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi
kebutuhannya maka dampak utama yang dapat dirasakan dan dilihat secara nyata
dialam adalah terjadinya perubahan dan penurunan sumberdaya air baik secara kuantitas
dan kualitas.
Secara kuantitas, sebagai salah satu contoh
akibat penurunan kemampuan daerah resapan dalam menahan dan menyimpan air hujan
maka pada setiap musim hujan tiba selalu terjadi bencana banjir yang telah
memakan harta benda dan nyawa yang sangat besar. Kejadian bencana banjir bukan
disebabkan oleh bertambahnya volume air (secara umum volume air adalah tetap).
Namun, permasalahan utamanya adalah berkaitan dengan pengelolaan wadah
sumberdaya air (watershed=daerah resapan DAS) yang buruk sehingga air hujan
tidak dapat tertahan disaat hujan dan yang akan dialirkan ke hilir (sungai) di
saat musim kemarau tiba.
Secara kualitas, pada saat musim hujan dan
kemarau walaupun keberadaan sumberdaya air masih melimpah tetapi tidak dapat
dijadikan sebagai bahan baku
air bersih. Hal ini disebabkan terjadinya polusi dengan peningkatan beberapa
parameter kualitas air yang sudah diatas ambang baku yang diperbolehkan. Polusi terjadi bukan
secara alami, akan tetapi sebagai akibat perilaku manusia yang masih belum
menyadari tentang bagaimana mengelola dan menjaga sumberdaya air tersebut
secara baik. Pembuangan berbagai jenis sampah/limbah yang langsung dibuang ke
badan-badan air, mengakibatkan sumberdaya air tersebut tidak layak sebagai
bahan baku air
bersih.
Upaya-upaya perbaikan daerah resapan dan
pengelolaan sumberdaya air yang benar terus dilakukan oleh berbagai pihak
dengan berbagai metoda dan teknis, seperti pendekatan rehabilitasi/konservasi
lahan atau kawasan resapan sungai atau DAS.
Untuk mengetahui kondisi sebelum kegiatan
perbaikan dilakukan dan untuk mengukur tingkat keberhasilan
rehabilitasi/konservasi tersebut maka perlu dilakukan pengukuran dan pemantauan
terhadap beberapa parameter kualitas maupun kuantitas sumberdaya air yang
terpengaruh secara langsung oleh kegaiatan rehabilitasi/konservasi tersebut.
Pada akhirnya berdasarkan data dan
informasi yang didapat dari hasil pengukuran di lapangan maka dapat disimpulkan
tentang tingkat keberhasilan dan kecenderungan kondisi sumberdaya air dalam
kawasan dimana kegiatan rehabilitasi/konservasi dilakukan.
 Air dan Kehidupan Manusia
Air merupakan salah satu zat yang paling
dibutuhkan oleh manusia dalam proses kehidupan ini setelah udara, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Tanpa zat air, manusia akan mengalami berbagai
kesukaran dan kendala dalam menjalankan kehidupan ini. Air yang dimaksud dalam
konteks ini adalah air tawar, karena hanya air tawar (air bersih) yang akan
dapat secara langsung dipakai dalam menunjang kehidupan masyarakat/manusia
(ekonomi/kesejateraannya) dan kesehatannya.
Adapun pengertian atau batasan dari air
bersih adalah semua air yang dapat digunakan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan sehari-harinya dimana kualitasnya dapat memenuhi syarat-syarat
kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
Kondisi kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat sangat ditentukan oleh tingkat ketersediaan air bersih. Apabila
masyarakat dapat dengan mudah mendapat air bersih, maka dapat dipastikan
tingkat kesehatannya akan meningkat. Secara otomatis apabila kesehatannya baik,
maka masyarakat akan dapat melakukan kegiatan perekonomiannya secara baik,
sehingga akan dapat meningkatkan kualitas kehidupannya.
Di samping memegang peranan sangat penting
dalam keberlangsungan kehidupan, sumberdaya air apabila tidak dikelola dan
dipergunakan dengan baik (tepat) maka akan mengakibatkan beberapa permasalahan
dalam kehidupan masyarakat. Pada musim hujan sering terjadi banjir di mana-mana
yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda yang sangat
besar. Sebaliknya, pada saat musim kemarau akan terjadi kekeringan dan kesulitan
air yang mengakibatkan gagal panen serta diikuti dengan terjangkitnya berbagai
penyakit yang berkaitan dengan kurangnya suplai dan ketersediaan air bersih dan
sanitasi bagi masyarakat.
Air Sendang Agung, Lampung Tengah.
Banyak penyakit menular yang disebabkan
oleh menurunnya kualitas dan kuantitas air, terutama di musim kemarau; seperti
muntaber, diare, gatal-gatal, dan lain-lain. Hal ini terjadi karena di saat
musim kemarau terjadi penurunan kuantitas (tidak terjadi pengenceran) atau akan
terjadi peningkatan konsentrasi bahan-bahan terlarut termasuk bakteri-bakteri
yang berasal dari limbah domestik, sehingga tingkat kejadian penyakit tersebut
akan meningkat tajam.
Berbagai aspek dan permasalahan yang
berkaitan dengan air, baik secara kuantitas dan kualitas air tersebut akan
sangat ditentukan oleh baik dan buruknya sistem pengelolaan dan pengaturan
daerah penampungan sumberdaya air, baik di bagian hulu, bagian tengah dan bagian
hilir yang disebut dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) atau watershed system, terutama pengaturan dan pengelolaan
peruntukan serta penggunaan lahan di bagian hulu, yang berfungsi untuk
meresapkan, menahan dan menampung air.
Kuantitas
Air Bumi
Hampir dua per tiga permukaan bumi ini
ditempati oleh air, dengan komposisi perbandingan lokasi dan fase air sebagai berikut
:
Ø  97,2 % merupakan air laut yang bersifat asin sebagai akibat
terlarutnya berbagai jenis garam dan mineral lainnya;
Ø  2,14 % sebagai es dan geltser yang membeku/fase padat yang berada di
puncak-puncak gunung yang sangat tinggi (Puncak Jayawijaya di Indonesia);
Ø  0,16 % sebagai air tanah yang berada dibawah permukaan tanah yang
berupa air tanah dalam dan dangkal;
Ø  0,009 % sebagai air permukaan yang menempati sungai, danau, situ,
kolam, sawah, bendungan, dan lain-lain;
Ø  0,005 % sebagai uap air yang berada dalam ruang antar butir tanah
pucuk (soil) yang dapat mendukung per-akaran dan pertumbuhan tanaman; serta
Ø  0,001 % sebagai uap air dan hujan yang berada di udara bebas.
Memperhatikan data umum perbandingan dan
distribusi tersebut di atas, terlihat bahwa jumlah volume air tawar yang ada di
muka bumi ini hanyalah sedikit saja (total sekitar 2,309 % saja), yang
dipergunakan oleh semua mahluk hidup/manusia dalam semua aktivitas dan
keperluannya.
Walaupun sumberdaya air didunia ini dipakai
oleh seluruh mahluk hidup dalam kehidupannya, tetapi secara jumlah (kuantitas)
sumberdaya air tersebut adalah tetap sama (tidak berkurang walaupun dipakai)
akan tetapi bentuk/fase dan kualitasnya saja yang akan mengalami perubahan yang
sesuai dengan proses pemanfaatan yang dialaminya.
Hujan
dan Siklus Air
Seluruh sumberdaya air di muka bumi ini
dengan berbagai bentuk. Fase dan distribusinya selalu berkaitan dan
berinteraksi secara dinamis dalam sebuah siklus tertutup, yang dinamakan siklus
air yang melibatkan seluruh sumberdaya air di dunia ini.
Awal mula fase siklus air ini tidak dapat
ditentukan secara pasti, hanya saja untuk mempermudah dalam memahami siklus
tersebut dapat dimulai dari :
Ø  proses penguapan dari sumberdaya air di permukaan bumi (air laut,
sungai, daun tumbuhan, dll) sebagai akibat adanya proses pemanasan oleh sinar
matahari, dalam fase ini air berupa uap air yang akan membentuk gumpalan awan
di udara;
Ø  selanjutnya air dalam fase uap atau awan tersebut dengan proses
fisika dan kimia (proses penurunan suhu dan kondensasi) akan menjelma menjadi
butiran air hujan yang akan jatuh ke permukaan bumi;
Ø  selama proses hujan berlangsung, maka sebagian kecil air hujan
tersebut akan menguap kembali ke udara dan sebagian besar akan jatuh ke bumi
(termasuk ke pepohonan/tumbuhan);
Ø  proses berikutnya adalah air permukaan tersebut akan tertahan dan
diserap oleh tumbuhan untuk dipergunakan dalam proses pertumbuhannya, dalam
tahapan ini tumbuhan juga akan menguapkan sebagian air melalui daunnya dalam
proses fotosintesa dan sebagian lagi dilepaskan kedalam tanah (soil) melalui kegiatan perakaran
tumbuhan tersebut;
Ø  sebagian besar air hujan yang jatuh di permukaan tanah tersebut akan
bergabung membentuk aliran air permukaan (air larian) yang akan bergabung
membentuk sistim sungai di permukaan, juga sebagian lagi akan meresap ke dalam
tanah menjadi air tanah (dangkal dan dalam dan mata air);
Ø  air larian/sungai/mata air akan membentuk mengalir menjadi sebuah
sungai yang mengalir dari hulu ke arah hilir, juga dalam tahapan ini terjadi penguapan
dan peresapan sumberdaya mata air menjadi uap air dan air tanah;
Ø  proses berikutnya adalah air sungai tersebut mencapai laut dan
proses pemanasan oleh sinar mata hari akan menimbulkan penguapan dari air laut
menjadi butiran uap air yang terdorong oleh angin membentuk gumpalan awan di
angkasa dan karena proses alam lainnya (kondensasi dan penurunan suhu) maka
awan tersebut akan turun menjadi hujan kembali yang jatuh ke permukaan bumi.
Proses siklus sumberdaya air tersebut akan
terus berlangsung secara berulang-ulang dalam setiap waktu/periode, sehingga
dikenal periode banyak kejadian hujan disebut musim hujan dan periode kejadian
sedikit hujan dinamakan musim kemarau.
  
Banjir
dan Kekeringan
Permasalahan klasik yang selalu terjadi
secara berulang dalam setiap tahunnya yang berkaitan dengan aspek kuantitas
sumberdaya air adalah terjadinya banjir yang selalu menimbulkan kerugian harta,
benda dan jiwa yang selalu terjadi di musim hujan dan terjadinya
kekeringan/kekurangan air pada waktu musim kemarau tiba. Hal itu menimbulkan bencana
kelaparan dan kebakaran hutan dan lahan dengan kerugian yang sedemikian besar
juga kerusakan lingkungan yang tidak ternilai harganya. Kedua permasalahan
tersebut hanyalah merupakan permasalahan tentang bagaimana melakukan
pengelolaan (mengatur) dan menjaga wadah alam dari sumberdaya air tersebut yang
dinamakan Daerah
Aliran Sungai (DAS) atau disebut juga dengan sistem daerah tangkapan hujan (watersheed).

Apabila wadah alami berupa daerah resapan
hujan tersebut dapat dipertahankan sebagai hutan (secara umum) dan penggunaan
lahan tersebut dapat dikontrol sedemikian rupa sehingga kemampuan daerah resapan
tersebut masih tetap dapat menahan dan menampung sumberdaya air (hujan) secara
baik di saat musim hujan tiba, wadah alami tersebut akan melepaskan sumberdaya
air yang ditahannya oleh hutan . Dengan begitu, alam tersebut secara perlahan-lahan
dan sedikit demi sedikit pada waktu atau saat musim kemarau tiba, sehingga keseimbangan
jumlah sumberdaya air tersebut pada waktu musim hujan dan musim kemarau akan
seimbang dan terjaga dengan baik.

*Konsultan PT. Kreasi Cipta

  • Bagikan