Beranda Views Opini Hujan Turun Bukan Berarti Musim Berganti

Hujan Turun Bukan Berarti Musim Berganti

330
BERBAGI

Oleh Ramadhan Nurpambudi
Prakirawan BMKG Radin Inten II Lampung

Beberapa hari ini sudah mulai turun hujan di beberapa wilayah Lampung namun tidak merata di seluruh daratan Lampung. Berdasarkan kejadian tersebut sudah banyak masuk pertanyaan ke kami apakah sudah masuk musim hujan ? Hujan ini akan turun sampai berapa hari kedepan ya ? Baik, mari kita ulas mengapa sampai turun hujan pada periode musim musim kemarau.

Hujan itu bisa terjadi karena beberapa faktor, yang pertama adanya penguapan uap air dari permukaan bumi ke atmosfer. Uap air ini menjadi bahan dasar untuk pembentukan awan. Faktor kedua diperlukan kelembapan udara yang basah di atmosfer. Untuk membentuk awan hujan paling tidak kelembapan udara di lapisan 850mb dan 700mb dalam kondisi basah. Dengan ini maka uap air yang naik ke atmosfer akan mengalami kondensasi menjadi awan.

Selain itu faktor lainnya yang juga penting adalah adanya aliran udara yang mengumpulkan butiran butiran awan hasil kondensasi uap air. Jika terjadi perlambatan aliran udara di atmosfer, hal ini akan membuat butir butir awan berkumpul dan membuat sel yang lebih besar. Semakin besar maka awan tersebut akan semakin berat karena semakin banyak jumlah kandungan airnya. Pada satu titik ketika kandungan air di dalam awan ini jenuh maka akan jatuh kembali ke permukaan bumi menjadi hujan.

Secara ringkas begitulah proses terjadinya hujan. Untuk kondisi yang ada saat ini di wilayah Lampung masih belum terlihat adanya perubahan yang signfikan pada atmosfer yang ada. Secara prediksi musim bulan November mendatang sudah akan masuk musim hujan namun untuk saat ini perubahan yang mengarah kesana masih belum jelas terlihat.

Untuk memastikan datangnya musim hujan, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menetapkan awal musim hujan adalah kejadian 3 kali dasarian atau dalam 1 bulan hujan ≥50 mm berurutan, maka masuknya awal musim hujan adalah dasarian pertama dimana hujan ≥50 mm tersebut, sedangkan kriteria awal musim kemarau kebalikan dari awal musim hujan. Dengan syarat yang ditetapkan oleh BMKG masuk musim hujan berarti dalam 10 hari pertama terdapat hujan ≥50 mm diikuti 10 hari berikutnya dan 10 hari setelahnya. Jadi dalam 1 bulan terjadi hujan terukur minimal ≥150 mm.

Jadi untuk menentukan sudah masuk atau sudah berjalan musim hujan atau belum tidak hanya berdasarkan turun hujan dalam 2-3 hari saja tetapi dalam pengamatan yang panjang.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pembentukan awan hujan, meskipun dalam musim kemarau jika kondisi dinamika atmosfer terdapat gangguan cuaca maka bisa saja terjadi hujan bisa dengan skala yang lokal sampai dengan skala yang lebih luas dilihat dari seberapa kuat gangguan cuaca yang terjadi.

Seperti kejadian yang ada di wilayah Lampung beberapa waktu yang lalu, dalam waktu yang lama kondisi kelembapan udara di wilayah Lampung selama musim kemarau dalam kondisi yang sangat kering 850mb dan 700mb sehingga uap air yang naik ke atmosfer sulit untuk terbentuk awan. Tiba-tiba ada dorongan massa uap air yang basah masuk ke wilayah Lampung dari perairan Laut Jawa yang membuat wilayah Lampung mendapat suplai kelembapan udara basah sehingga bisa untuk terbentuk awan-awan hujan meskipun tidak merata di seluruh wilayah Lampung.

Pola curah hujan di wilayah Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pola Monsoon, pola ekuatorial dan pola lokal. Pola Moonson dicirikan oleh bentuk pola hujan yang bersifat unimodal (satu puncak musim hujan yaitu sekitar Desember). Selama enam bulan curah hujan relatif tinggi (biasanya disebut musim hujan) dan enam bulan berikutnya rendah (bisanya disebut musim kemarau). Wilayah Lampung memiliki pola hujan Monsoon, karena dominan curah hujan di wilayah Lampung bergantung kepada pola Monsoon yang ada hanya sebagian kecil yang tidak bergantung pada pola Monsoon seperti wilayah Pesisir Barat dan Lampung Barat yang hampir ada hujan di sepanjang tahun.

Secara umum musim kemarau berlangsung dari April sampai September dan musim hujan dari Oktober sampai Maret. Pola equatorial dicirikan oleh pola hujan dengan bentuk bimodal, yaitu dua puncak hujan yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober saat matahari berada dekat equator.

Pola lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodal (satu puncak hujan) tapi bentuknya berlawanan dengan pola hujan pada tipe moonson. Wilayah Indonesia disepanjang garis khatulistiwa sebagian besar mempunyai pola hujan equatorial, sedangkan pola hujan moonson terdapat di pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sebagian Sumatera. Sedangkan salah satu wilayah mempunyai pola hujan lokal adalah Ambon (Maluku).

Kondisi yang ada saat ini memang sedikit mengalami kemunduran sebab yang normalnya bulan Oktober sudah masuk musim hujan pada saat ini sudah memasuki akhir bulan Oktober belum juga terlihat tanda tanda perubahan pola Monsoon. Monsoon Australia masih sangat kuat mendominasi pola pergerakan angin di wilayah Lampung.

Semoga bulan depan Monsoon Asia sudah aktif dan segera mengakhiri musim kemarau yang ada saat ini di wilayah Lampung. Dengan datangnya musim hujan akan mengakhiri kebakaran lahan yang terus berlangsung terjadi baik di wilayah Lampung dan juga diseluruh wilayah Indonesia.

Hujan akan menghentikan kekeringan yang terjadi dan juga mengatasi defisit air bersih di wilayah Lampung. Para petani juga kembali memiliki harapan karena sungai sungai yang mengairi lahan mereka perlahan akan terisi. Untuk masyarakat yang ada di wilayah Mesuji, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, dan sekitarnya diimbau untuk tidak menyulut api di lahan-lahan yang sudah tidak terpakai karena dampak asap sangat berbahaya untuk kesehatan.***

Loading...