Beranda News Lingkungan Hutan Mangrove Berubah Tambak

Hutan Mangrove Berubah Tambak

875
BERBAGI
Tambak tradisional di Bandaragung, Lampung Selatan: Menghancurkan hutan mangrove. (Foto: Oyos HN)
Tambak tradisional di Bandaragung, Lampung Selatan: Menghancurkan hutan mangrove. (Foto: Oyos HN)

 Oyos Saroso H.N. |Teraslampung.com

BANDAR AGUNG — Abrasi pantai timur Sumatera wilayah Lampung yang disebabkan rusaknya sekitar 80 persen hutan mangrove di wilayah itu tidak hanya menyebabkan perusahaan tambak modern terancam. Para petani di kawasan pesisir Lampung Selatan dan Lampung Timur pun sejak setahun terakhir beralih profesi sebagai petani tambak. Mereka terpaksa mengolah sawahnya menjadi tambak karena tanaman padinya selalu gagal akibat terintrusi air laut.

”Sepuluh tahun lalu, hutan mangrove di wilaya kami ketebalannya mencapai 3 kilometer dari batas pantai. Sejak lima tahun terakhir pohon mangrove dan pohon api-api yang menjadi penahan air laut habis dibabati para pendatang. Air laut pun masuk ke sawah-sawah kami,” ujar Jayus, 61, warga Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan.
Menurut Jayus, kalau dulu perbandingan tanah untuk persawahan dan untuk pertambakan 75: 25, kini keadaannya berbalik.

”Sekarang 90 persen areal pertanian di daerah kami sudah menjadi tambak, sisanya persawahan yang ditanami padi,” kata Jayus.

Jayus mengaku berubahnya profesi dari petani padi menjadi petambak bukan berarti kehidupan petani menjadi lebih baik. Sebab, kata dia, selama menjadi petani tambak warga susah mendapatkan air tawar.

”Karena pengairan tambak hanya mengandalkan air laut, hasilnya menjadi tidak baik,” kata dia.

Muhammad, Kepala Desa Bandaragung, mengatakan sudah beberapa kali kawasan pesisir pantai timur Lampung ditanami pohon mangrove lewat proyek rehabilitasi mangrove. Namun, kata Muhammad, karena tidak ada pengawasan pohon-pohon mangrove yang masih baru itu mati atau dicabut orang.

Eksekutif Nasional Walhi, Mukri Friatna, mengatakan kerusakan hutan mangrove tidak hanya disebabkan serbuan para pendatang yang beramai-ramai membabati mangrove untuk dijadikan tambak tradisional.

Abrasi di Bandar Agung Lampung Selatan akibat pembabatan hutan mangrove. (Foto Oyos HN)
Abrasi di Bandar Agung Lampung Selatan akibat pembabatan hutan mangrove. (Foto Oyos HN)

Data Walhi menyebutkan 70 persen hutan mangrove di Lampung rusak akibat penambangan tambak udang. Dari total 160 ribu ha lahan bakausebanyak 136 ribu ha di antaranya rusak.

”Kerusakan mangrove juga disebabkan tidak ada keseriusan pemerintah dalam melakukan rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Lampung. Dana yang sudah dikucurkan pemerintah pusat sudah puluhan miliar rupiah. Sebab, rehabilitasi dilakukan dengan pendekatan proyek dan tidak melibatkan masyarakat setempat,” kata Mukri.

Kerusakan terparah justru terjadi di kawasan pertambakan tradisional. Par petambak tradisional yang membabati hutan mangrove di kawasan pesisir pantai timur Lampung dengan leluasa membuka areal tambak dan mendirikan bangunan di kawasan itu.

Hutan mangrove di Kecamatan Ketapang dan Sragi di Lampung Sekatan serta Pasir Sakti dan Kuala Penet di Lampung Timur yang pada 2007 lalu lalu masih memiliki ketebalan 100-300 meter dari garis pantai, kini nyaris habis. Di sepanjang pantai itu hanya terdapat beberapa baris pohon mangrove dengan ketebalan rata-rata kurang dari 10 meter.

Di wilayah pesisir Lampung Selatan, sisa-sisa penebangan pohon mangrove masih tampak. Di areal itu kini berubah menjadi tambak tradisional yang diusakan para pendatang dari Tangerang (Banten), Indramayu, Cirebon (Jawa Barat), dan Brebes (Jawa Tengah).

Tarnyem, 44 tahun, mengaku dia bersama suaminya datang dari Brebes ke kawasan itu beberapa tahun lalu. ”Saya menyewa tanah dari seseorang. Tanah itu kami buat tambak ikan bandeng,” kata ibu empat anak yang bersama suaminya mengolah satu hektare areal tambak tradisional itu.

Data di Dinas Perikanan dan Kelautan Lampung menyebutkan, Lampung sebenarnya memiliki 1, 9 juta hektare lahan mangrove yang ada di pesisir Lampung. Menurut data Dinas Perikanan, sebanyak 736 ribu hektare atau 60 persen di antaranya rusak parah.

Pembabatan hutan mangrove juga terjadi di kawasan pantai timur wilayah Kabupaten Tulangbawang. Penebangan mangrove yang selama ini menjadi sabuk hijau bagi areal tambak udang modern eks-PT Dipasena Citra Darmaja (DCD) dan PT  Central Pertiwi Bahari (CPB) menyebabkan tambak udang terbesar di Asia Tenggara itu terancam. Hutan mangrove yang dibabat warga di sekitar tambak PT DCD mencapai 3.000 hektare—sepanjang 27 km dan lebar 300 hingga 700 meter.

Loading...