Hutan Mangrove Pulau Pahawang Terancam Jadi Tinggal Cerita

  • Bagikan
Beberapa batang pohon mangrove di Pulau Pahawang yang ditebang oleh anggota DPRD Pesawaran pemilik tanah yang berbatasan dengan pantai Pulau Pahawang.
Beberapa batang pohon mangrove di Pulau Pahawang yang ditebang oleh anggota DPRD Pesawaran pemilik tanah yang berbatasan dengan pantai Pulau Pahawang.

Oyos Saroso H.N.| Teraslampung.com|Pulau Pahawang

JUMAT siang, 18 Maret 2016. Kapal ketinting yang kami tumpangi merapat di bibir pantai Desa Pulau Pahawang,  Kabupaten Pesawaran.  Begitu menjejakkan kaki di tanah berpasir, perhatian kami langsung tertuju pada gerumbul pohon pohon mangrove yang rebah ke tanah.

BACA: Saatnya Mengintip Kemolekan Pantai Pulau Pahawang

Saya mengeluarkan kamera dari tas sambil sesekali melihat raut wajah Herza Yulianto (45), mantan Direktur Mitra Bentala yang menampingi kami datang ke desa di pesisir Lampung itu.

Pohon-pohon mangrove yang sudah ditebang itu adalah hasil kerja buruh yang diupah oleh Eko Supriyadi, anggota Kabupaten Pesawaran yang tidak lain adalah pemilik tanah yang berbatasan dengan hutan mangrove itu.

Herza Yulianto, mantan Direktur Mitra Bentala, NGO lingkungan hidup yang sudah lama mendampingi warga Desa Pulau Pahawang melestarikan mangrove, terlihat tercenung  menyaksikan pohon-pohon mangrove tumbang di bibir pantai.

Ia mengaku heran: bagaimana mungkin pendidikan tentang lingkungan hidup yang diajarkannya kepada warga desa dan anak-anak SD di kampung itu hancur oleh kekuasaan uang?

Beberapa pohon mangrove yang sudah ditebang dan batangnya sudah dibersihkan itu memang tidak ditanam warga binaaannya. Namun, bagi aktivis lingkungan seperti Herza yang sudah belasan tahun mengadvoksi warga melestarikan mangrove, pembabatan pohon mangrove tidak bisa diterima. Apalagi, yang membabat pohon mangrove adalah seoranag anggota DPRD sekaligus pengusaha.

“Kalau dia warga biasa yang awam tentang aturan dan lingkungan hidup mungkin bisa dimaklumi. Tetapi ini yang menebang pohon adalah wakil rakyat Kabupaten Pesawaran sendiri. Dan ironisnya, penebangan pohon dengan dalih untuk membangun bisnis wisata di Pulau Pahawang yang andalannya adalah hutan mangrove,” kata Herza.

Menurut Herza, menurut UU Lingkungan Hidup, batas wilayah pantai dengan daratan adalah batas air pasang tertinggi. Di areal itu, kata Herza, siapa pun tidak boleh mengklam sebagai miliknya. Apalagi menebangi tanaman yang tumbuh di atasnya.

Herza mengaku, rimbun pohon mangrove yang mengelilingi Pulau Pahawang tidak ada begitu saja. Hutan mangrove yang menjadi sabuk hijau itu selama ini dipelihara warga. Sebagian lagi diusahakan lewat penanaman. Itulah sebabnya, luasa hutan mangrove di Desa Pulau Pahawang terus bertambah. Bahkan, berkat kerja keras warga desa–termasuk anak-anak sekolah dan guru–pengelolaan hutan mangrove Pulau Pahawang menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan hutan mangrove oleh masyarakat.

Berkat kerja keras warga Pulau Pahawang, pohon mangrove pun sudah memberi banyak manfaat. Salah satu manfaat nyata yang dirasakan warga adalah saat ini sudah banyak turis berdatangan, terutama pada hari libur. Mereka ingin menikmati pantai Pulau Pahawang yang masih perawan, dengan balutan rimbun pohon mangrove yang tumbuh di sekitar bibir pantai.

Rimbun hutan mangrove yang selama ini menjadi sabuk hijau Desa Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran, kini terancam menjadi tinggal cerita. Cerita tentang kemolekan Pulau Pahawang yang sejak beberapa tahun tersebar lewat dunia maya pun akan meluruh dan hilang.

Itu terjadi jika penebangan pohon mangrove yang diawali oleh Eko Supriyadi, anggota DPRD Kabupaten Pesawaran dari Partaai Hanura pada 15 Maret 2016 terus dilanjutkan. Apalagi jika kemudian ditiru oleh para pemilik lahan yang berbatasan dengan bibir pantai lainnya.

Eko Supriyadi memang sudah menghentikan penebangan beberapa pohon mangrove di bibir pantai, di sebuah suwak di Desa Pulau Pahawang. Penghentian itu dilakukan Supriyadi setelah ada teguran dari Kepala Desa Pulau Pahawang, Muhammad Salim. Namun, niat Supriyadi untuk melanjutkan penebangan pohon mangrove belum surut.

“Dia tetap akan menebang mangrove hingga ketebalan beberapa meter sehingga tempat usahanya nanti bisa langsung menghadap ke pantai,” kata Muhammad Salim, kepada saya dan tiga wartawan lain yang menyanginya di lokasi penebangan mangrove di Pulau Pahawang, Jumat lalu (18/3/2016).

Selain legislator, Supriyadi adalah seorang pengusaha. Pada Januari 2016 lalu  membeli lahan sekitar tiga hektare di salah satu pinggir Desa Pulau Pahawang yang berbatasan dengan pantai.

Supriyadi agaknya tahu betul bahwaa investasi yang sangat menjanjikan di Pulau Pahawang adalah bisnis wisata. Maklum, eskotisme Pulau Pahawang sejak beberapa tahun lalu kian dikenal luas. Yang jadi andalan adalah vegetasi mangrove yang mengelilingi pulau.

Salim mengaku, ketika diingatkan soal penebangan pohon mangrove Supriyadi ngotot penebangan mangrove itu ada dasar hukumnya. Entah memakai dasar hukum yang mana, Supriyadi mengaku tetap akan melanjutkan menenang pohon agar usaha wisatanya bisa segera dimulai.

  • Bagikan