Beranda Views Inspirasi I Wayan ‘Mochoh’ Sumerta Dana Arta, Promotor Alat Musik Tradisional Lampung

I Wayan ‘Mochoh’ Sumerta Dana Arta, Promotor Alat Musik Tradisional Lampung

1087
BERBAGI
Oyos
Saroso H.N./Teraslampung.com
I Wayan Mochoh (dok thejakartapost/Oyos Saroso HN)
Konflik
horizontal di Lampung Selatan yang melibatkan warga suku Bali dengan suku
Lampung, beberapa waktu lalu, masih menyisakan trauma bagi sebagian besar warga
Bali. Termasuk warga Bali yang tinggal di luar Kabupaten Lampung Selatan. Salah
satunya adalah I Wayan Sumerta Dana Arta alias Wayan Mochoh.
I
Wayan Mochoh sempat beberapa minggu tidak berani masuk kantor. Bahkan, ia sudah
berniat pulang ke Bali bersama keluarga karena takut akan menjadi sasaran amuk
massa. Namun, niat itu dicegah sahabat sekaligus saudara angkatnya yang dikenal
sebagai tokoh dan seniman Lampung, Syafril Yamin.
“Karena
Bang Syafril Yamin mencegahnya, akhirnya saya batal pulang ke Bali. Bang
Syafril yang menjamin keselamatan saya. Ia minta saya dan keluarga tidur di
rumahnya,”kata I Wayan Mochoh.
I
Wayan Mochoh adalah salah satu seniman asli Bali yang sejak belasan tahun lalu mengembangkan
dan mempromosikan seni tradisional Lampung ke luar daerah. Meskipun asli Bali,
Wayan Mochoh, 41,  sejak 1995 sudah
menjadi penduduk Lampung.
Pada
berbagai even seni nasional, ia bersama kelompok tari dan kelompok musiknya
selalu membawa nama Lampung. Dalam beberapa even nasional itu Mochoh bersama
kelompok seni tradisi Lampung menjadi juara. Terakhir, pada sebuah even
Festival Seni Tradiosional Nusantara di Yogyakarta, Oktober 2012 lalu, tim seni
tradisional yang dididik dan dipimpin Mochoh menjadi juara.
Wayan Mochoh
mengaku ia sebenarnya sudah berencana untuk menggelar syukuran di Desa
Balinuraga untuk merayakan kemenangan tim seni tradisi dari di Desa Balinuraga dalam
festival seni di Yogyakarta.
Wayan
Mochoh mengaku sudah lama dia menjadi pelatih para remaja Desa Balinuraga menekuni
kesenian. “Yang mereka pelajari bukan seni Bali, tetapi justru seni tari dan
seni musik tradisional Lampung. Seni yang mereka tampilkan dalam festival di
Yogyakarta dan menag itu juga seni tradisional Lampung,” kata alumni Institut
Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.
Wayan
Mochoh  datang ke Lampung pada 1995 atas
permintaan Gubernur Lampung (ketika itu) Poedjono Pranyoto. Ia diminta Gubernur
Poedjono Pranyoto untuk membina kesenian warga transmigran asal Bali yang ada
di Lampung. Setahun mengabdi, Wayan kemudian diangkat menjadi pegawai negeri
sipil (PNS) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ia pun kemudian menikahi gadis
Bali dan menetap di Bandar Lampung hingga sekarang.
Wayan
Mochoh mengaku mau menerima ajakan Poedjono Pranyoto karena ia mendukung
semangat Poedjono untuk menjadikan Lampung sebagai “Indonesia mini”. Menurut
Wayan Mochoh semangat Poedjono layak didukung karena sesuai dengan cita-citanya
untuk mencintai semua budaya Indonesia.
“Apalagi
ketika kuliah di ISI saya memang belajar berbagai seni tradisi Indonesia.
Termasuk seni musik Jawa, Sunda, dan Padang,” ujarnya.
Setelah
tinggal di Lampung dan mengenal seni tradisi Lampung, lambat laun kecintaan
Wayan Mochoh kepada seni tradional Lampung pun menjadi lebih berkembang. Mochoh
tekun belajar seni tradisi lain, mulai tari tradisional, seni rupa, hingga seni
musik tradisional Lampung.
“Dalam
beberapa segi ada kemiripan antara seni tradisi Bali dengan seni tradisi
Lampung. Itulah yang membuat saya merasa makin tertantang untuk terus belajar
seni tradisional Lampung. Agar generasi muda Bali di Lampung mengenal dan
mencintai seni tradisi Lampung, saya mengajari mereka seni tradional Lampung.
Sebab, bagaimanapun mereka kini sudah menjadi penduduk Lampung,” kata Mochoh.
“Bahkan,
saya juga mengajari orang asli Lampung tentang seni ukir. Selama ini kami hidup
berdampingan secara damai dengan orang Lampung. Bahkan, saya diangkat sebagai
saudara oleh tokoh seni musik tradisional Lampung, Syafril Yamin,” kata dia.
Di
Lampung, I Wayan Mochoh dikenal sebagai penemu nada alat musik cetik atau gamolan pekhing, yaitu alat musik tradisional Lampung yang sudah
berusia ratusan tahun. Alat musik yang dibuat dari bilah bambu itu menurut
Wayan Mochoh dipengaruhi oleh budaya Cina. Alat musik itu disebut cetik karena
jika dimainkan bunyinya ‘cetik-cetik’. Orang Lampung ada juga yang menyebutnya
sebagai gamolan pekhing (alat musik
bambu)

Bersama Syafril Yamin, pengrajin alat musik cetik
dari Lampung Barat, Wayan Mochoh kemudian memperkenalkan alat musik cetik ke
sekolah-sekolah di Lampung. Ia juga menggelar workshop cetik di beberapa
sekolah tinggi seni di Indonesia. Antara lain di Institut Seni Indonesia (ISI)
Denpasar, STSI Bandung, ISI Solo, Isi Medan dan ISI Surabaya.

“ISI
Denpasar merencanakan alat musik cetik
menjadi salah satu materi kurikulum musik Nusantara di perguruan tinggi itu.
Saya akan terus berusaha musik tradisional Lampung menjadi salah satu mata
kuliah perguruan tinggi seni di Indonesia,” kata Magister Ilmu Agama dan
Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, ini.
Bersama-sama
Syafril Yamin, seniman tradisi yang memang asli Lampung, Wayan Mochoh mengajari
para siswa dan  guru-guru menabuh cetik. Berkat kerja kerasnya kini alat
musik tradisional asli Lampung itu dikenal di seluruh Lampung.
Menurut
Wayan Mochoh alat musik yang menyerupai gamolan pekhing ada di beberapa daerah
di Indonesia.Misalnya, di Bali, Jawa, dan Sulawesi. Di setiap daerah, alat musik dari bilah
bambu itu  mempunyai nada gamolan yang
berbeda-beda.
“Saya
memperlajari semuanya sampai ketemulah kekhasan cetik dibanding yang lain. Cetik memiliki  karakter nada yang berbeda dengan kulintang. Cetik
terdiri dari enam (6) nada dan satu (1) oktaf, yaitu do, re, mi, so, la, si,
do, dan do oktaf. Di mana nada-nada tersebut kena pengaruh sedikit diatonis dan
sedikit sentuhan Cina sehingga saya menamakan nadanya atau larasnya pelog enam
nada,” ujarnya.
“Kenapa
tidak ada nada 4 (fa)? Saya menduga karena bagi etnis Cina angka empat (4) itu
angka mati sehingga dianggap tabu. Maka, nada fa dalam Cetik dihilangkan.  Inilah
yang saya sebut bahwa alat musik tradisional Lampung itu ada pengaruh Cina,”
ujarnya.
Sebelum
tercatat dalam rekor MURI, temuan Wayan itu juga sempat diperkenalkan dengan
cara ’’mengamen’’ ke beberapa hotel berbintang di Lampung. Hal itu dilakukannya
sejak 2003 hingga sekarang. Pada Februari 2012 lalu, hasil penelitian Wayan
tentang alat musik tradisional Lampung itu diterbitkan dalam bentuk buku
berjudul Gamolan Pekhing (Alat musik
Bambu).
“Buku
tersebut akan menjadi salah satu rujukan pengajaran ekstrakurikuler seni musik
tradisional Lampung di sekolah-sekolah di Lampung,” kata dia.
Dedikasi
Mochoh terhadap seni tradisional Lampung membuatnya diberi Anugerah Mahakarya Kebudayaan oleh Musium
Rekor Indonesia (MURI) pada 2011 lalu. Wayan dinilai berjasa karena menemukan laras pelog enam nada dalam cetik atau gamolan pekhing dan membuat alat musik tradisi itu dikenal para
siswa di Lampung.
Wayan Mochoh
mengaku setelah warga Bali dan Lampung di Lampung Selatan damai, ia dan para
seniman Lampung lainnya akan lebih banyak turun ke desa-desa untuk saling
memperkenalkan seni Bali dan Lampung.
Kini Wayah
Mochoh juga sedang menggarap program pembelajaran seni tradisional Lampung bagi
para siswa Sekolah Dasar yang orang tuanya beretnis Jawa yang tinggal di
perbatasan Kabupaten Lampung Selatan dengan Kota Bandarlampung. Wayan Mochoh
meyakini seni budaya bisa menjadi perekat antarsuku di Indonesia.
“Kami ingin
agar akulturasi seni budaya bisa berlangsung secara alami. Saya yakin
pendekatan budaya bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi konflik yang
disebabkan perbedaan suku, agama, dan adat istiadat,” kata dia.

Loading...