Beranda News Pelayanan Publik Ibu Asal Kotabumi Ini Nekat Menggendong Mayat Anaknya Pulang Naik Angkot karena...

Ibu Asal Kotabumi Ini Nekat Menggendong Mayat Anaknya Pulang Naik Angkot karena Tarif Ambulans RSUAM Sangat Mahal

13451
BERBAGI
Ardiansyah, ayah dari Berlin Istana menceritakan kisah pilu mereka kepada awak media.

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi — Kisah pilu ibu yang membawa jenazah bayinya dengan menumpang angkutan umum diduga disebabkan oleh ‘tingginya’ tarif penggunaan jasa ambulans R‎umah Sakit Umum Abdul Moeloek, Bandar Lampung.

Gurat kesedihan yang jelas terpancar dari raut wajah ibu bernama Delpasari, warga Desa Gedung Nyapah, Abung Timur, Kapupaten Lampung Utara ini akibat ditinggal anaknya untuk selamanya.

Meski Ardiansyah, suami Delpasari,  telah berulang kali mencoba mengetuk hati si oknum, ‎namun oknum sopir itu tetap bersikukuh ‎biaya yang harus dikeluarkan Rp2.000.000 jika ingin diantar hingga ke rumah duka.

Alhasil, sang suami terpaksa meminta istrinya (Delpasari) untuk turun dari mobil ambulans dan memutuskan untuk naik angkutan umum.

Menurut penuturan Ardiansyah, kisah pilu ini berawal saat ia mengurus proses administrasi kepulangan jenazah bayinya. Ternyata diketahui nama anaknya yang tertera di kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) anaknya dan di formulir pendaftaran tak sama.

Perbedaan nama ini harus diurus kembali dan menghabiskan waktu yang lama, sedangkan jenazah harus segera dimakamkan. Saat itulah oknum supir ambulans meminta uang agar persoalan ini tak berlarut – larut.

“Alasannya perbedaan nama antara nama yang tertera di pendaftaran by Delpasari, dengan kartu BPJS tertera Berlin Istana,” kisahnya kepada wartawan saat ditemui di rumah duka, Rabu (20/9).

Oknum sopir meminta uang sebesar Rp2 juta jika ingin diantar hingga ke rumahnya. Lantaran tak memiliki uang sebesar itu, ia lantas meminta istrinya untuk turun dari ambulans dan langsung naik angkutan umum. Jenazah Berlin digendong oleh istrinya.

“Isteri saya yang menggendong Berlin naik angkot,” tutur dia lagi.

Delpasari pun membenarkan jika ia diminta suaminya turun dari mobil ambulans lantaran tak mempunyai uang untuk mengantarkan mereka ke rumahnya. Kondisi itu membuat perasaannya semakin tak keruan. Ia pun menangis saat menggendong mayat bayinya di dalam angkot jurusan Tanjungkarang – Rajabasa.

Untunglah saat di dalam angkutan umum, ada penumpang yang terpanggil hatinya melihat kondis ibu balang itui.

Perem‎puan itu kemudian memberitahukan jika ada layanan mobil ambulans gratis milik Pemkot Bandarlampung yang dapat mereka gunakan. Sopir angkutan umum yang mereka naiki turut membantu mereka dengan segera menelepon layanan ambulans gratis tersebut.

“Saya sempat menunggu setengah jam datangnya ambulans di Bundaran Rajabasa,” ujarnya.

Begitu ambulans gratis Pemkot Bandarlampung datang, Delpasari pun langsung naik. Perasaannya masih tak menentu dengan jasad bayi kesayangannya berada di pelukannya.

Begitu tiba di rumah, jenazah bayinya langsung dimakamkan tak lama setelah tiba di rumah. Pemakamannya berada persis di belakang rumah mereka.

Saat pemakaman hukan turun sangat deras. Usai pemakaman, langsung digelar tahlilan di rumah bercat hijau itu.

Kisah pilu keluarga Ardiansyah ternyata sampai ke Pemkab Lampung Utara yang langsung menindaklanjutinya dengan memberikan bantuan uang tunai.

Masih menurut Delpasari, anaknya yang lahir pada 17 Agustus 2017 lalu di RSU Ryacudu Kotabumi terpaksa dirawat karena memiliki benjolan di kepala. RSU Ryacudu merujuk bayinya ke RSUAM karena sudah tak sanggup untuk mengobati. Mereka dua kali membawa anaknya berobat atau berkonsultasi ke RSUAM, yakni pada 25 Agustus dan 18 September 2017 lalu.

Pada keberangkatan yang kedua kalinya ke RSUAM, bayi mereka mengalami kejang – kejang usai turun dari angkutan umum. Bayi malang itu langsung dirawat di ruang Alamanda RSUAM BandarlLampung hingga meninggal dunia.

Setelah dibawa pulang naik angkot kemudian dilanjutkan dengan baik ambulans milik Pemkot Bandarlampung, jenawah Berlin langsung dimakamkan tak lama setelah tiba di rumah.

Pemakamannya berada persis di belakang rumah mereka. Saat pemakaman berlangsung, hujan turun sangat deras. Usai pemakaman, langsung digelar tahlilan di rumah bercat hijau itu.

Di sisi lain, Jefri Irwansyah, sopir ambulans gratis mengaku naluri kemanusiaannya terpanggil melihat kondisi yang dialami keluarga Ardiansyah. Ia langsung membawa mereka ke rumahnya yang berada di Dusun Labuhan Dalam, Desa ‎Gedung Nyapah, Abung Timur, Lampung Utara.

“Kami langsung antar ke rumah setelah dapat telepon,” tuturnya.