Opini  

Idul Adha 1436 H: Robohnya Observatorium Kita (4)

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh Ma’rufin Sudibyo

Plakat memorial Observatorium Istanbul 

Apa lacur, impian Taqi al-Din ibarat pungguk merindukan Jupiter. Segera intrik dan konlik meletup dengan para mufti (ulama). Selain merasa dianaktirikan, para mufti berang dengan sosok Taqi al-Din yang gemar menyerempet dunia astrologi, wilayah yang diharamkan dalam Islam. Puncaknya adalah tatkala sebuah komet sangat terang menampakkan diri di langit Istanbul.

Komet tersebut, kini dikenal sebagai Komet Terang 1577 atau komet C/1577 V1, berbinar demikian terang hingga melebihi terangnya Venus. Komet itu nampak di langit Istanbul semenjak November 1577 dan terus bertahan hingga tahun itu berakhir. Sultan Murad III segera memerintahkan Taqi al-Din dan para stafnya untuk mengamati komet C/1577 V1 terus-menerus. Baik siang maupun malam. Sekaligus menafsiri apa pengaruhnya bagi manusia khususnya untuk sultan dan kerajaannya. Setelah beberapa lama mengamati, Taqi al-Din menyajikan laporan berbau astrologi yang berbunga-bunga pada sultan. Intinya komet tersebut adalah pertanda baik. Pertanda Turki Utsmani akan terus berjaya. Pertanda Turki Utsmani akan terus bertambah besar. Bahkan laporannya menyebut bahwa komet inilah pertanda kemenangan Turki Utsmani atas Persia, jikalau sultan berkehendak melancarkan invasi ke sana.

Tragisnya, hanya beberapa waktu pasca laporan tersebut wabah penyakit justru berkecamuk hebat. Sebagian Turki Utsmani tergerogoti. Beberapa tokoh penting negeri turut berkalang tanah, menjadi korban. Maka jangankan menginvasi Persia, Turki Utsmani justru sibuk sendiri mencoba mengatasi wabah. Mulai saat itu perhatian sultan terhadap Taqi al-Din sontak memudar. Kini giliran para mufti yang mengambil hati sang sultan. Sebagai kulminasinya, pada 1580 TU mufti kepala Syaikh Qazidada mengajukan saran agar Taqi al-Din disingkirkan sepenuhnya dari istana dan observatoriumnya dibongkar. Gayung bersambut. Sultan Murad III menyetujui sepenuhnya. Maka palu godam pun berayun-ayun, merobohkan Observatorium Istanbul hingga tak berbekas.

Observatorium yang (di)-roboh-(kan) sejatinya bukan hanya monopoli Istanbul. Hal serupa juga dialami Observatorium Uraniborg dalam satu dasawarsa kemudian. Begitu dukungan kerajaan menyurut seiring mangkatnya raja tua dan bertahtanya raja baru yang tak peduli ilmu, Tycho Brahe pun menyingkir. Ia pindah ke Praha (Ceko) dan meneruskan kerja astronominya dengan mendirikan observatorium baru. Disinilah Johannes Kepler datang mengabdi sebagai asisten yang produktif dan kreatif. Kelak berbekal data-data observasi Brahe inilah Kepler menelurkan ketiga hukum pergerakan planetnya yang legendaris sepeninggal Brahe. Uraniborg yang terlantar akhirnya benar-benar dirobohkan (hingga tinggal pondasinya) begitu Brahe wafat. Namun sebaliknya astronomi justru bersemi di tanah Eropa. Fajar astronomi modern akhirnya benar-benar menyembul tatkala hanya dalam beberapa dekade kemudian Galileo Galilei memperkenalkan radas teropong (teleskop) untuk observasi benda-benda langit.

Tidak demikian dengan dunia Islam. Imperium Turki Utsmani masih tetap berdiri hingga tiga setengah abad kemudian meski kian tertatih-tatih. Ia baru benar-benar lenyap dari panggung sejarah pada 1922 TU. Namun sepanjang masa tersebut tak pernah lagi berdiri kompleks observatorium besar nan monumental, yang dioperasikan dengan tekun oleh astronom-astronom Muslim yang disegani. Entah di wilayah Turki Utsmani, maupun di negara-negara Islam lainnya yang semasa seperti Mughal (India) maupun Qajar (Persia). Produk-produk observasi dalam wujud tabel astronomi (zij) maupun katalog bintang dengan tingkat akurasi yang lebih baik seiring perkembangan zaman pun tak pernah lahir. Pun turunan monumentalnya, seperti misalnya garis meridian acuan. Tak mengherankan bila dalam momen sepenting Konferensi Meridian Internasional 1884 yang digelar guna menentukan garis meridian utama yang menjadi acuan titik koordinat dan jam sejagat, Turki Utsmani (sebagai satu-satunya representasi dunia Islam saat itu) justru memberikan suaranya kepada meridian Greenwich dari Inggris. Padahal meridian Greenwich harus bersaing ketat dengan meridian Washington dari Amerika Serikat dan meridian Paris dari Perancis.

Saya menempatkan peristiwa robohnya Observatorium Istanbul sebagai sebuah penanda penting dalam perkembangan ilmu falak. Yakni sebagai transisi dari ilmu falak era klasik ke era kegelapan yang berlanjut hingga nyaris tiga abad kemudian. Segenap kemegahan ilmu falak era klasik terjungkal hingga ke titik nadirnya begitu memasuki era kegelapan. Nyaris tak ada lagi observatorium yang disegani di dunia Islam. Apalagi observatorium yang melengkapi dirinya dengan radas teropong. Tak ada lagi aktivitas observasi benda langit yang sistematis dan berkesinambungan. Tak ada lagi perdebatan ilmiah nan riuh dari teori yang dilontarkan.

Tiada lagi manuskrip yang ditulis. Era klasik mewariskan tak kurang dari 10.000 buah manuskrip yang terserak di segenap penjuru. Jumlah itu diyakini hanyalah sebagian kecil dari karya produktif astronom Muslim era klasik. Peperangan, penaklukan dan penghancuran kota-kota beserta segenap isinya yang kerap terjadi pada masa itu membuat banyak manuskrip, dari bermacam bidang ilmu pengetahuan, yang termusnahkan. Baik sengaja maupun tidak. Pemusnahan paling menonjol adalah tatkala Baghdad (ibukota imperium Abbasiyah), diserbu dan ditaklukkan pasukan Mongol. Perpustakaan Baghdad turut diserbu dan banyak manuskrip yang dibuang ke sungai Tigris, hingga air sungai menghitam sampai ke muaranya akibat tinta yang luntur.

Dan hal yang paling menonjol, adalah terceraikannya hisab dengan rukyat. Rukyat, lebih spesifiknya rukyat hilaal, menurun kualitasnya dan hanya dipandang sebagai bagian dari tradisi. Tanpa pencatatan untuk kepentingan pengetahuan. Ironis memang. Apalagi di saat dunia Islam demikian terpuruk dalam era kegelapan ilmu falak, astronomi modern justru berkembang pesat di daratan Eropa (dan kemudian Amerika) dalam era pencerahan mereka. Dan astronomi modern pun seakan terlepas dari sentuhan Umat Islam khususnya cendekiawan-cendekiawannya. Meski kemudian ilmu falak era modern berkembang dalam satu setengah abad terakhir, namun dampak yang menyakitkan dari keterpurukan di era kegelapan masih kita rasakan (sebagian).

Perjanjian Internasional

Istanbul kembali mengemuka di masa berikutnya, berselang empat abad setelah robohnya Observatorium Istanbul. Pada 27 hingga 30 November 1978 TU berlangsung sebuah konferensi internasional di kota ini. Topiknya bukan main, yakni tentang kalender Hijriyyah internasional. Pesertanya pun bukan main, yakni para ahli falak utusan dari sejumlah negara Islam ataupun negara berpenduduk mayoritas Muslim. Keputusannya juga bukan main, yakni memperkenalkan sebuah “kriteria” yang menjadi dasar operasi kalender Hijriyyah dalam lingkup global.

 “Kriteria” tersebut bernama “kriteria” Istanbul. “Kriteria” Istanbul terdiri dari tiga syarat yang harus terpenuhi seluruhnya. Yakni beda tinggi Bulan-Matahari minimal 5 derajat (tinggi Bulan minimal 4 derajat), elongasi Bulan minimal 8 derajat dan umur Bulan geosentrik minimal 8 jam. “Kriteria” ini dinyatakan berlaku global. Bilamana ada satu titik saja dimanapun di globe Bumi yang terletak di antara garis bujur 180 BB di sisi barat hingga 180 BT di sisi timur yang telah memenuhi ketiga syarat “kriteria” Istanbul, maka seluruh Bumi telah memasuki tanggal 1 bulan kalender Hijriyyah yang baru, tanpa terkecuali.