Beranda Teras Berita Idul Fitri: Diri yang Baru

Idul Fitri: Diri yang Baru

199
BERBAGI
Oleh Nusa Putra*
Alhamdullillah,
Ramadhan telah dilewati dengan sepenuh usaha untuk dapatkan yang terbaik.
Melewati Ramadhan tentulah dengan perasaan bahagia sekaligus sedih. Bahagia
karena telah berusaha lakukan semua ibadah wajib dan sunat dengan
sebaik-baiknya. Sedih karena tak ada jaminan bahwa kita akan bertemu Ramadhan
lagi.
Inilah
perjalanan hidup manusia, kita semua. Lewati waktu, terus maju, tak akan pernah
kembali. Dan tak pernah tahu dimana,kapan dan dengan cara apa kita akan finis,
stop. Yang pasti adalah, saat Ramadhan berlalu, kita semakin dekat lekat erat
dengan maut. Waktu sungguh menggerogoti kita bagai ular menelan kodok, pelan,
dikit-dikit, tapi sangat pasti.
Ramadhan mestinya telah menumbuhkan kebiasaan untuk menahan
diri. Menahan diri memiliki banyak perujudan praktis. Pertama. Mampu
mengendalikan dorongan atau impuls-impuls liar yang berasal dari dalam diri.
Pada banyak ayat dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa manusia adalah
makhluk yang lemah, suka berkeluh kesah, tidak bersyukur, gampang melupakan
nikmat yang diberikan padanya, dan memiliki kecondongan untuk mengikuti
dorongan ke arah sebaliknya dari kebenaran. Adam adalah contoh terbaik. Ia diberi
kesempatan di syurga bersama istrinya dengan satu syarat tidak mendekati
sebatang pohon. Namun, syetan menggelincirkannya, ia tergoda untuk melanggar
aturan. Itulah contoh dorongan liar dalam diri manusia.
Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman menjelaskan bahwa manusia
dikendalikan oleh kehendak buta. Kehendak yang paling utama adalah kehendak
untuk hidup. Pemikiran ini memengaruhi Nieztsche yang melahirkan kehendak untuk
berkuasa, dan Sigmund Freud yang merumuskan adanya pemikiran bawah sadar.
Keseluruhannya menunjuktegaskan bahwa manusia dikendalikan kehendak kuat yang
irrasional, yang mengalahkan dan mengendalikan pemikiran rasional logis.
Kehendak buta inilah yang selalu menggelapkan mata hati dan mata
pikiran manusia yang mendorongnya untuk berbuat kekhilafan dan kesalahan. Puasa
Ramadhan bertujuan membangun kesadaran manusia tentang bagaimana caranya
kendalikan diri, kehendak dan dorongan-dorongan liar itu dengan cara mengalami
sendiri menahan diri dalam rentang waktu yang panjang. Bukan saja mengendalikan
diri dengan cara menarik jarak dari dorongan untuk makan dan minum. Pun
mengendalikan mata, telinga, lidah, dan fikiran-fikiran yang tak pantas. Bila
dorongan liar itu menyelinap, kita bisa bilang, aku berpuasa. Kendali diri ini
tentulah bermakna jika dapat dilanjutkan pada kehidupan keseharian di luar
Ramadhan.
Kedua, mampu menjaga keseimbangan diri. Puasa Ramadhan
mengharuskan kita untuk mengubah pola makan minum dan istrihat serta
beraktivitas. Keharusan ini membuat kita melakukan sejumlah penyesuaian diri
dan melakukan perencanaan dan pelaksanaan secara cermat berbagai aktivitas
dengan memertimbangkan kondisi tubuh yang memang berbeda dari biasanya.
Pastilah kita tidak boleh menjadikan puasa sebagai alasan untuk tidak
beraktivitas seperti biasa.
Namun, biasanya kita menjadi lebih sadar diri untuk menempatkan
dan menjalankan berbagai aktivitas dengan cara yang berbeda dari biasanya.
Karena kita tak ingin puasa terganggu, aktivitas seperti kewajiban bekerja dan
sekolah atau kuliah tetap berjalan, dan berbagai aktivitas ibadah tambahan juga
bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Keseluruhan pola baru inilah yang membuat kita sangat
memerhatikan porsi, proporsi, dan kalkulasi baru yang memungkinkan semuanya
dapat berjalan dengan selaras. Dari hari ke hari selama Ramadhan, kita terus
mencari dan menjalani keseimbangan diri, menjadi lebih hati-hati dalam menata
semua aktivitas. Karena kita ingin kewajiban-kewajiban rutin yang memang harus
dipenuhi dapat terus berjalan bersamaan dengan sejumlah ibadah tambahan yang
juga membutuhkan waktu, tenaga dan konsentrasi. Kita akan mencari, merumuskan
dan menjalani suatu keseimbangan diri yang jarang dirasakan di luar Ramadhan.
Bila menggunakan model psikologi humanistik dari Carl R. Rogers
dan Maslow, Ramadhan membuat kita mampu menata keseimbangan untuk memenuhi
semua kebutuhan secara lebih proposional dengan memberi lebih banyak perhatian
pada kebutuhan tingkat tinggi yaitu aktualisasi diri dan spiritualitas.
Kebutuhan yang sering terabaikan di luar Ramadhan, terutama spiritualitas.
Ketiga, kemampuan untuk konsisten dan memiliki daya tahan jangka
panjang. Kemampuan ini merupakan buah dari kemampuan menahan diri. Ramadhan
dengan puasa, taraweh, tadarus dan amalan lain memberi kesempatan pada kita
untuk mengalami secara langsung praktik-praktik ibadah yang berkelanjutan dalam
rentang waktu yang panjang. Apalagi bila berkesempatan untuk i’tikaf di masjid,
larut dalam kesyahduan zikir, pastilah daya tahan itu semakin baik.
Menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan dan menurunkan
nilai puasa saja pasti menumbuhkan sikap konsisten. Apalagi bila diperkaya
dengan semua ibadah sunnah yang makin mendekatkan diri pada Sang Khalik,
pastilah membangun kesadaran mendalam bahwa hidup kita ada dalam tilikan dan
perhatian penuh Sang Pemberi Hidup.
Kesadaran akan kehadiran Yang Maha Ada ini sungguh akan membuat
kita menjadi diri yang baru. Diri yang semakin konsisten dalam kebenaran dan
kebaikan, dalam situasi apapun.
Pada tingkat tertentu rasa kehadiran inilah yang membuat Rabiah
el Adawiyah berdoa, bila aku beribadah pada-Mu karena takut pada neraka-Mu,
masukkan aku ke situ, bila aku beribadah karena inginkan Syurga-Mu, jangan
biarkan aku masuk ke dalamnya. Namun, bila aku beribadah pada-Mu karena cintaku
pada-MU, biarkanlah.
Puasa Ramadhan membuat kita lebih awas dan hati-hati karena rasa
kehadiran ini. Inilah akar dari konsistensi dan daya tahan jangka panjang itu.
Keempat, fokus. Rangkaian ibadah selama Ramadhan karena
berlangsung relatif sepanjang hari selama satu bulan membuat kita fokus. Tidak
sedikit di antara kita yang menyisihkan lebih banyak waktu untuk melakukan
ibadah seperti tadarusan dan i’tikaf di masjid, juga menambah shalat-shalat
sunnat. Semuanya membuat kita lebih fokus.
Kini sudah semakin terbukti melalui berbagai penelitian ilmiah
bahwa kondisi fokus merupakan prasyarat bagi manusia untuk sukses mencapai
tujuan-tujuan yang ingin dicapainya. Para peneliti dalam neurosains yang secara
khusus meneliti otak bahkan berani menyimpulkan bahwa fokus adalah syarat
mutlak bagi kesuksesan dalam segala bidang kehidupan. Golleman yang sangat
terkenal dengan buku Kecerdasan Emosional, membuat buku khusus tentang Fokus
dan fungsinya dalam hidup manusia, terutama terkait dengan kesuksesan hidup.
Oleh karena puasa Ramadhan berlangsung selama satu bulan, semua
ibadah yang kita lakukan dengan khusuk atau fokus itu pastilah membawa sejumlah
perubahan di dalam otak kita. Perubahan-perubahan itu terkait dengan sejumlah
kebiasaan yang terus menerus dilakukan. Berbagai perubahan di dalam otak itulah
yang membuat kita menjadi diri yang baru. Bahasa hadis untuk diri yang baru ini
adalah seperti bayi yang baru dilahirkan.

Dengan demikian secara sederhana bisa disimpulkan, bila tidak
terjadi perubahan dalam hidup dan kebiasaan ke arah yang lebih baik setelah
kita melewati Ramadhan ini, maka bisa dipastikan ada yang tidak beres dengan
diri kita saat melakukan semua ibadah itu. Bisa jadi kita tidak
sungguh-sungguh, tidak ikhlas, dan sekadar menjalankan ibadah minimal karena
tidak enak dengan lingkungan sosial. Jadi, ibadah tidak dilakukan dengan niat
yang benar dan dilakukan seadanya saja. Sekadar bayar hutang, tanpa penghayatan
mendalam, sehingga tidak memberi bekas dakam sistem otak. Inilah orang yang
setelah letih berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus, tak lebih dan tak
kurang.
Bila ibadah Ramadhan dilakukan dengan benar, saat idul fitri
kita sungguh menjadi diri yang baru. Dalam konteks ini baju baru, dan cat rumah
serta perhiasan rumah yang baru, serta semua kebaruan yang lain sama sekali tak
penting.
Diri yang baru itu bukan saja sebuah perubahan yang melulu
bersifat internal yang terjadi di dalam diri. Perubahan di dalam diri itu juga
membawa pengaruh yang sangat jelas keluar diri, kepada sesama. Ini terjadi
karena hakikinya manusia itu bersifat intensional, mengarah keluar. Manusia
adalah makhluk yang keberadaannya selalu bermakna ada bersama.
Selama Ramadhan kita dianjurkan dan didorong untuk peduli dan
berbagi. Kebanyakan dari kita memang melaksanakannya dengan banyak cara. Ini
bermakna Ramadhan memang secara sekaligus menumbuhmekarkan keshalehan pribadi
dan sosial.
Seberapa besar keberhasilan kita merubah diri menjadi diri yang
baru selama Ramadhan, indikatornya adalah hari-hari yang merentang setelah
Ramadhan. Ibarat telepon genggam yang diisi ulang, begitulah Ramadhan mengisi
ulang dan memperbarui kita. Seberapa besar energi yang kita dapatkan, semuanya
tergantung seberapa besar kapasitas diri kita masing-masing menyerap energi
itu.
Bila kita mampu menyerap lebih banyak energi kebaikan selama
Ramadhan, boleh jadi ia akan bertahan sampai datang Ramadhan berikutnya.
Artinya kita tetap berbuat baik, dan meyebarkan kebaikan itu terus menerus.
RAMADHAN SUNGGUH MEMBERI KESEMPATAN PADA SETIAP INDIVIDU MENJADI
DIRI YANG BARU SAAT IDUL FITRI.

* Dr. Nusa Putra, M.Pd adalah dosen Universitas Negeri Jakarta

Loading...