Ihwal Pendidikan Kita

  • Bagikan

Oleh Handrawan Nadesul

Izinkan saya urun rembuk soal pendidikan. Pendidikan kita bikin rata-rata anak sudah stres sejak masih membutuhkan bermain. Mereka harus kehilangan masa bermainnya. Dan secara psikologis mestinya kita, orang yang lebih tua, yang diberi mandat membesarkan anak tanpa merampas haknya, yakni bermain dan mendapatkan yang terbaik untuk bertumbuh dan berkembangnya, tidak keliru membangun hari depannya.

Tidak ada kesempatan kedua untuk itu. Bukan saja kurikulum kita kelewat banjir oleh yang tidak perlu, sehingga sebagian menjadi sia-sia mengisi otak mereka. Mengejar ranking di sekolah dengan menghafal semua yang belum tentu anak butuhkan buat hari depannya. Karena sebetulnya perlunya pendidikan ialah yang ada kaitannya dengan life skill, yang menjadi bekal untuk memampukan anak mengambil keputusan dalam hidupnya.

Maka,  jangan bangga kalau anak sudah pandai menyebut nama-nama presiden, nama bendera, atau berhitung ketika masih bayi, lalu latah mengajari anak kita supaya sama hebatnya dengan anak seumurnya. Atau memasukkan sekolah dengan cara mencuri umur kalau anak belum waktunya sekolah, supaya terpenuhi syarat boleh sekolah. Atau membiarkan anak yang masih sekolah bermain sudah mendapat PR.

Banyak studi mengungkap, ada dampak buruk bila anak kehilangan masa bermainnya. Untuk sisi ini kita menaruh penghargaan kepada pendidikan sekolah Katolik, yang ketat menerima anak masuk sekolah dengan persyaratan umur. Bahwa kematangan anak diperlukan.

Hal lain, bukan dengan cara mengisi otak anak dengan sebanyak mungkin kursus, kegiatan macam-macam, sehingga anak kehilangan waktu untuk relaks, dan mungkin malah menjadi stres — beranggapan itu yang kelak menjadikannya sukses. Sukses anak tidak harus dengan seberapa banyak mengisi kepalanya, bahkan untuk yang belum tentu diperlukan, melainkan melatih bagaimana anak mempergunakan isi kepalanya.

Kita tahu bahwa setiap anak khas. Juga warisan fisik, bakat, dan jiwa yang diwarisinya. Ibarat bermain kartu, tiap anak menerima kartu yang belum tentu sama dengan teman sebayanya. Maka sukses bagi seseorang tidak selalu hanya karena menerima kartu yang bagus. Kartu bagus namun tak tepat memainkannya juga belum tentu menjadi pemenang. Belum tentu meraih Oscar dalam kehidupan kelak.

Sebaliknya, anak yang memiliki kartu yang kurang bagus, atau bahkan kartu yang jelek, tapi cerdik dan cerdas memainkannya, dia akan sukses juga. Seperti itu hendaknya anak dididik. Bahwa di sebelah ketajaman otak kiri ada belahan otak kanan yang membuat orang menjadi bijak.

Sekolah kita cenderung hanya mengasah otak kiri yang cerdas menganalisis dan berpikir, namun melupakan untuk menajamkan belahan otak kanan untuk menyeimbangkan agar arif mempertimbangkan. Berkesenian,pendidikan dengan metadologi berdialog, bukan satu arah, banyak memuji bukan mencela anak, bagian dari mencerdaskan otak kanan.

Kelak bila ia menjadi hakim tidak kaku mengambil keputusan. Tidak hanya tajam melihat pasal dan ayat hukum, tapi bijak pula keputusannya. Otak kiri benar membaca pasal kesalahan orang yang mencuri sandal, dan memenuhi syarat untuk dihukum. Tapi kalau otak kanan cerdas, akan mempertimbangkan dalam menghayati ia mencuri karena belum makan. Pendidikan yang baik dan sehat tepat kurikulum, tepat pula metodologinya.

Pendidikan yang benar mendidik, bukan hanya mengajarkan. Sekolah kita sekarang cenderung hanya mengajarkan dan kurang dalam mendidik. Hanya dengan mendidik akan terbentuk karakter, ketika kertas jiwa anak masih putih. Itulah tabula rasa, tergantung bagaimana orangtua, guru, sekolah dan pemerintah (departemen pendidikan) mengisi, melukis, dan mewarnainya. Nasib generasi ditentukan oleh kita, orang yang lebih tua mengisi kertas jiwa anak. Maafkan kalau saya keliru. Salam sehat.

  • Bagikan