Ikan dan Air

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Ada pesan dari sahabat mengatakan gunakan media sosial (medsos) dengan bijak; karena medsos tidak mampu membawa rasa kepada orang lain. Yang dibawa hanya berita yang berupa sederet huruf atau angka. Kata bijak ini diulang lagi oleh seorang sohib yang sekarang memangku jabatan tertinggi pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri di republik tercinta ini. Bahkan, beliau menambahkan dalam bahasa jawa kalimat lain yang menghunjam; yang aslinya bertulis “upama urip iku kaya iline banyu, aja mandheg yen durung nelesi, nangin aja ngrusak sing diliwati” (ibarat hidup ini seperti air mengalir, jangan berhenti sebelum membasahi, tetapi jangan merusak yang dilalui).

Sanepa atau tamzil di atas sangat filosofis sekali karena memberikan makna hidup yang harus bermanfaat kepada sesama dengan tidak harus membuat susah bersama, akibat ketidaksambungan rasa, karena kesalahan penggunaan media. Hidup yang dilambangkan sebagai air harus mampu memberikan kehidupan kepada mahluk lain, termasuk ikan di dalamnya, dan mahluk mahluk biota lainnya.

Kenapa harus ikan ? Ternyata ikan itu juga membawa pesan tersendiri pada dunia, jika kita mau memahaminya dibalik apa yang dipahami selama ini. Orang sufi mengatakan “segemuk-gemuk ikan pasti ada tulangnya. Sekurus-kurus ikan pasti ada dagingnya. Sebaik-baik orang pasti ada buruknya. Seburuk-buruk orang pasti ada baiknya, oleh karena itu carilah baik dalam buruk orang, itulah akhlak. Carilah buruk sendiri dan perbaiki, itulah ikhlas”.

Betapa ikan dan air ternyata berkelindan membawa pesan kehidupan yang luar biasa dahsyatnya kepada kita sebagai umat manusia. Ini dibuktikan oleh pesan leluhur kita dahulu yang ditulis di banyak buku, tetapi sudah tidak kita minati untuk membacanya; apalagi memaknainya dalam kehidupan.

Pesan bijak yang masih sering disinggung oleh seniman dalang wayang golek atau wayang purwa bersumber dari buku buku kuno; salah satu di antaranya adalah Ki Ageng Suryomataram yang menukil seperti ini: dadiya lancip tanpa natoni, (menjadi runcing tidak harus melukai), dadiya landhep tanpa nglarani, (menjadi tajam tidak harus menyakitkan), dadiya obor tanpa mblerengi, (menjadi obor tidak harus menyilaukan mata), dadiya dhuwur tanpa nganciki, (menjadi tinggi tidak harus dengan memijak orang lain), dadiya bener tanpa keminter (menjadi benar dengan tidak harus pongah), dadiya unggul tanpa njegal (menjadi unggul tanpa harus menelikung orang lain), dadiya mulyo tanpa ngina (menjadi mulya dengan tidak harus menghina), dadiya cahyo sinebar tanpo datan nyulapi (menjadi cahaya yang menyebar dengan tanpa harus membuat orang nanar). Dadiya  aguna mring sesama (jadilah orang yang berguna bagi sesama), welas asih lan tepa selira mring sephada- padha (saling mengasihi dan tenggangrasa kepada sesama) ”.

Kalau kita pahami nukilan di atas ternyata untuk menjadi manusia insan kamil sebagai tujuan pendidikan di negeri ini; sudah lama ada dan dideskripsikan dengan gamblang pada buku kuno tadi. Tinggal bagaimana kita mempelajarinya kemudian menjadikan referensi yang tidak kalah berwibawanya secara ilmiah, dengan tulisan berbahasa asing, yang tidak jarang rasa bahasanya berbeda dengan apa yang ingin kita sampaikan.

Sebagai contoh simpul yang dapat kita tarik dari tamzil di atas; bahwa akal budi, agama dan perilaku, merupakan segitiga sama sisi yang jika salah satu sudutnya melebar maka akan disertai pelebaran pada sudut yang lain. Berarti peningkatan ketajaman akal budi, idealnya akan disertai meningkatnya pemahaman akan agama, dan disertai semakin santun atau halusnya perilaku. Dan seterusnya jika satu meningkat akan diikuti peningkatan intensitas pada bidang lainnya. Hal ini terjadi karena akal budi bersumber dari filsafat (hidup), agama bersumber dari wahyu, dan perilaku bersumber dari (ilmu) pengetahuan. Ketiganya harus jumbuh sehingga keselarasan dan keharmonisan akan tumbuh dan berkembang secara serasi.

Kearifan lokal seperti ini sudah lama hidup di negeri ini; hanya pada masa lalu ajaran budi ini berada pada kalangan ningrat keraton, tidak keluar kepada masyarakat umum. Oleh karena itulah maka khasanah keilmuan lokal terhenti di dalam kitab-kitab karya pujangga keraton saja, tidak mampu diserap oleh masyarakat biasa.

Ditambah lagi politik penjajah yang memperlebar jarak antara orang cerdik pandai, para pujangga, dengan masyarakat dengan cara membuat kasta baru di dalam masyarakat. Dampaknya karya-karya adiluhung dari para pemikir zaman itu hanya tertinggal di dalam buku yang tersimpan rapi di almari perpustakaan keraton. Karya sastra tadi dijadikan bahan keramat yang dimistiskan untuk tidak disentuh, sehingga hanya para penjajah yang menikmati ketinggian ilmu tadi. Maka tidak salah jika kita ingin mencari karya sastra pujangga Nusantara harus pergi ke Leiden.****

  • Bagikan