“Ilmu Kudu”

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu di Pascasarjana FKIP Unila

Menjelang senja ruangan kerja yang sunyi mendadak kedatangan tamu seorang anak muda enargik ahli perangkat hubung masa kini. Anak muda ini tidak seperti lainnya; yang bersangkutan tampilannya sederhana, tidak menunjukkan seorang ahli yang mumpuni. Agak sedikit terkejut karena yang bersangkutan memohon mengajak diskusi berkaitan dengan beberapa aspek perilaku sosial di masyarakat, yang beliau tidak pahami.

Persoalan yang di bahas bermula dari persoalan keseharian, yang kemudian meningkat ke esensi dari persoalan kehidupan. Fokus yang menjadi seru pada waktu mendeskripsikan perilaku manusia yang sulit dipahami. Anak muda ini mendapat keluhan teman bahwa temannya memiliki pimpinan yang berperilaku semua tuntutan atau permintaan harus dipenuhi saat itu juga, cenderung otoriter walaupun tidak tampak karena tertutupi oleh perilaku keagamaan yang sempurna.

Anak muda ini juga punya teman lain lagi yang memiliki pimpinan berperilaku kebalikan dari teman di atas. Pimpinan yang satu ini justru membiarkan semua terjadi, bahkan tampak tidak ada marwah pemimpin, sehingga orang bisa berbuat apa saja, asal tujuan yang telah disepakati berhasil, dan atau bekerja dipersilahkan menggunakan metode apapun, yang penting segala sesuatu selesai pada waktunya yang disepakati.

Diskusi berlanjut panjang kali lebar, ternyata ditemukan ada istilah lama yang sering dipakai orang dulu yaitu “ilmu kudu” (bahasa Jawa = ilmu harus); dalam dialek Banten juga disebut “Kudhu”. Maksudnya, ada sebagian kita memiliki karakter jika punya keinginan harus dituruti, entah dengan cara bagaimana. Hal seperti ini banyak dijumpai pada kanak kanak yang karena sesuatu hal, seperti salah didik, merasa anak tunggal, dan lain sebagainya.

Menjadi persoalan adalah jika “penyakit kudu” ini merasuki pemimpin yang barang kali terbawa dari masa kecilnya. Akibat dari itu perilaku aneh muncul, seperti membuat bangunan “kudu” ditempat yang dia suka, terlepas apakah itu sudah ada bangunan fasilitas umum. Membeli kendaraan dinas “kudu” yang dia inginkan, terlepas itu melanggar aturan. Banyak lagi kudu kudu yang lain harus dipenuhi, tidak peduli bagaimana bawahan tungganglanggang dalam memenuhi selera dan atau keinginannya.

Jika perilaku kudu itu pada hal yang positif konstruktif, itu malah sangat dibenarkan dan perlu didukung. Contoh perilaku ini instansi atau lembaganya “kudu” bebas dari perbuatan korupsi. Tentu hal seperti ini perlu diaprisiasi oleh semua kita, menjadi persoalan kalau bunyinya menjadi “bagaimanapun saya kudu dapat bagian”. Ini menjadi bahan pertanyaan muka belakang, samping kiri kanan dan atas bawah.

Ternyata dari hasil penelusuran soal “kudu” (Kompas.com), slogan ini dipakai oleh salah satu Universitas Swasta di Jagakarsa (Jakarta Selatan); Tujuan pihak yayasan menyatakan bahwa alumninya harus memiliki ilmu kudu; maksudnya apabila diimplementasikan di dalam dunia kampus, maka berarti kudu bisa selesai tepat waktu, kudu bisa berprestasi, kudu bisa langsung bekerja setelah lulus. Selain itu juga kudu berjuang menghadapi segala tantangan dan rintangan, baik selama mengenyam pendidikan di kampus maupun setelah lulus. Paling utama adalah kudu bisa sukses baik di dunia dengan karir maupun profesi tanpa melupakan budi dan akhlak sebagai makhluk Tuhan.

Ternyata “ilmu kudu” sudah masuk ke dunia perguruan tinggi. Artinya berarti melembaga; bukan lagi personal, walaupun sasarannya adalah pembentukan karakteristik personal. Ini meneguhkan bahwa “kudu” pada saat di wilayah ontologis memang masih bebas nilai; artinya diksis itu belum memiliki dampak apa apa. Jika maasuk kewilayah epistemologi dan aksiologi; maka diksi itu menjadi sangat multitafsir.

Ternyata pemikiran “kudu” jika kita gunakan kerangka berpikir garis lurus, dan “kudu” kita letakkan di tengah garis yang membagi dua; maka arah panah dari “titik kudu” ke kanan itu positif; sementara kalau ke kiri itu negatif. “Zona kudu” adalah zona nyaman dan aman karena dia berada wilayah ontologi yang tidak perlu berbuat apa-apa. Sementara garis lurus ke arah kanan, maupun ke arah kiri dari titik nyaman, adalah wilayah epistemologi dan aksiologi.

Mereka yang memiliki “krida” untuk maju dalam pengertian positif, maka dia akan bergerak mengejar epistemologi dan aksiologi yang kanan. Sementara jika dia memiliki “krida” untuk mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya, maka dia akan bergerak mengejar epistemologi dan aksiology yang kiri.

Implementasi dari garis lurus ini adalah terinspirasi dari diskusi dengan seorang Anggota Legeslatif senior, beliau mengeluhkan ada pimpinan eksekutif yang selama menjabat berada di wilayah zona nyaman terus (zona ontologi); sehingga periodesasi yang dimilikinya terbuang sia-sia. Melanjutkan program pendahulunya tidak, lebih parah lagi program yang diusung sebelum maju sebagai pimpinan eksekutif juga tidak bergerak sama sekali, bahkan boleh dikategorikan gagal, walaupun itu tidak pernah diakui sebagai kegagalan, karena dia tidak mengetahui bagaimana anak buah selalu mengerjain dengan memanfaatkan “kudu”.

Model yang seperti ini ilmu kudunya hanya untuk berlindung diri dengan niatan kudu aman setelah berakhir masa jabatan, caranya tidak usah sentuh epistemologi dan aksiologi. Kata lain dia tidak lebih seperti siput yang berlindung di dalam cangkangnya; bergerak tidak, bahkan keluar pun tidak; merasa damai sejahtera ada dalam cangkang. Atribut kebesaran sebagai penguasa sudah cukup memuaskan dirinya, bahkan libido kekuasaannya serasa mendapatkan penyaluran.

Lalu mana yang akan di pilih? Tentu semua kembali kepada niatan kita masing-masing. Apakah kita ingin hidup bermakna bagi orang lain, dan jika mungin bermanfaat pada dunia dan isinya; atau hanya sebatas menghabiskan umur untuk kemudian mati, dengan harapan tidak berbuat apa apa, karena konsekuensi berbuat itu ada dua pahala atau dosa.

Agar aman dan tidak berdosa, maka memilih tidak berbuat apa apa: sehingga berharap mati tidak banyak hisabnya dan langsung masuk surga, Semua adalah pilihan, apakah kita yakin bahwa hari esok itu milik kita? Rasanya pilihan ini terlalu jumawa karena mendahului ketentuan Yang Maha Memiliki Ketentuan.

Selamat ngopi pagi.