In Memoriam Ahmad Yulden Erwin

Ahmad Yulden Erwin. Foto: Oyos Saroso HN
Bagikan/Suka/Tweet:

Udo Z. Karzi

kita musti mencoba bertahan
di tengah sakit kegagalan
meski hidup yang kita jalani
mungkin tinggal sesayat ilusi

kita musti mencoba bertahan
di tengah sesak kebimbangan
meski hidup yang kita jalani
musti berakhir pada pertanyaan

kita musti mencoba bertahan
di tengah hunjam kepedihan
meski hidup yang kita jalani
musti tinggal setikam nyeri

kita musti mencoba bertahan
di tengah retak kenyataan
mesti hidup yang kita jalani
musti berakhir pada kekosongan

kita musti mencoba bertahan
meski harus menantang kematian

Itulah larik-larik puisi “Sugesti Bertahan” (Manuskrip kumpulan puisi Alasan untuk Melawan karya Ahmad Yulden Erwin, 2003). Namun, nyatanya ketentuan Ilahi tak bisa ditentang. Malaikat Izrail menjemput Ahmad Yulden Erwin (AYE) juga di rumahnya di bilangan Waydadi, Sukarame, Bandarlampung, Minggu, 13 Februari 2022 pukul 14.30 WIB.

Penyair-esais kelahiran Tanjungkarang, Bandar Lampung, 15 Juli 1972 ini pergi meninggalkan orang-orang terkasih dan sejumlah karya dan gagasan besar yang belum sempat terealisasi.

“Padahal kita udah janjian mau ngobrol dengannya (AYE) kan Udo Z Karzi tentang calon buku itu. Maaf aku menundanya dengan alasan sibuk ini itu. Sekarang tak ada lagi kesempatan untuk ngobrol itu. Bahkan ada obrolan di inbox FB yang belum kutanggapi. RIP,” tulis sastrawan Yuli Nugrahani dalam statusnya, 13/2/2022.

Benar, kami sedang merancang sebuah merancang sebuah project besar yang berpusar pada ide dan upaya kreatif anggota Akademi Lampung (AL) ini menerbitkan 100 Penyair Indonesia Modern pada 2023.

“Alhamdulillah, sudah ada satu penerbit yang siap menerbitkan buku ini,” ujar AYE sekitar tiga minggu lalu.

Sedianya, Dewan Kesenian Lampung (DKL) akan menggelar Pertemuan Para Penyair Indonesia Modern 2023 pada peluncuran buku itu nanti. Dari 100 penyair yang ada dalam dua jilid antologi ini, ada sekitar 60 penyair yang bisa diundang. Sedangkan 40-an yang lain sudah meninggal.

“Kalau sepakat buat proposalnya sekarang dengan Yuli (Sekretaris Komite Sastra Yuli Nugrahani). Ajukan kepada Bang Ans (Ketua Akademi Lampung Anshori Djausal). Ini sudah ada penerbit yang mau,” tulis AYE dalam pesan Facebook, 19/1/2023.

“Ini akan jadi acara besar kita,” ujarnya lagi.

Lalu, untuk kesekian kalinya, hehee… ia memuji puisi saya dan teman-teman, “Puisi kau bagus Udo, puisi Yuli juga bagus, tidak memalukan ditayangkan tingkat nasional. ”

Hiks, saya jadi tersipu. Untung gak ada yang melihat.

Demikianlah, kami belum lagi merapatkannya. Tapi, draf kegiatan sudah hampir lengkap. Pelaksanaannya dirancang 3–5 hari, 10-14 Juli 2023 dengan detil kegiatan baca dan diskusi puisi sepanjang kegiatan berlangsung. Bahkan, kepanitiaan , baik steerring committee (SC) maupun organizing committee (OC) pun sudah AYE sebutkan.

Pembicaraan dengan AYE ini saya sampaikan ke Komite Sastra. Yuli dan Asril Barning menyambut gagasan ini. Kami pun sepakat untuk mengunjungi rumah AYE untuk membicarakan dan menindaklanjuti rencana ini. Namun, belum sempat mengobrolkannya secara langsung, AYE dipanggil menghadap Allah Swt. Lagi-lagi, kita hanya berencana, Tuhan juga yang menentukan. Buku 100 Penyair Indonesia Modern belum lagi terbit, penyusunnya sudah tiada. Semoga karya, gagasan, dan pemikiran AYE ini bisa mewujud dalam bentuk lain.

***

Ahmad Yulden Erwin muda. Foto: dok pribadi/Istimewa

Puisi AYE, “Sugesti Bertahan” yang termuat dalam Alasan untuk Melawan (manuskrip kumpulan puisi, 2003) ini sebenarnya suara hati saya juga. Bedanya, AYE bisa merangkainya menjadi puisi yang menggetarkan. Sedangkan saya tidak.

Naskah kumpulan puisi AYE yang salah satu sajaknya saya petik di atas saya simpan–lebih tepatnya saya amankan karena jumlah eksmplarnya sedikit—dari sebuah perhelatan baca sastra di Teater Halaman Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, di Kelurahan Gotongroyong, Bandar Lampung yang menghadirkan AYE, Zen Hae, dan cerpenis Sunda Darpan Ariawinangun tahun 2003.

AYE memang mengagumkan. Meskipun saya kakak kelasnya di SMAN 2 Bandarlampung–saya masuk 1986, AYE setahun setelah itu, 1987 seleting dengan Panji Utama dan Pondi, termasuk Iswadi Pratama yang berbeda SMA — saya mengikuti benar-benar jejak kepenulisannya bersama penyair-penyair Lampung lainnya.

Sampai tamat SMA, saya tidak kenal dengan AYE, hanya tahu puisi-puisinya yang dimuat di beberapa media dan buku-buku puisi seperti Memetik Puisi dari Udara (Arie S Muchtar & Sutjipto, Ed, 1987) menggunakan nama pena Ahmad Geboh; Temu Penyair se Bandar Lampung (Isbedy Stiawan & Iwan Nurdaya-Djafar, Ed, 1987) dengan nama AJ Erwin; Pewaris Huma Lada (1988), dan Tap! (antologi puisi berdua dengan Panji Utama, 1988). Satu antologi puisi lagi, Gelang Semesta (1988) yang diterbitkan Himpunan Remaja Pencinta Seni Lampung (HRPSL), Bandar Lampung, AYE bertindak sebagai desainer sampul bukunya.

Awal masuk kuliah, saya bertemu Iswadi Pratama sesama mahasiswa Angkatan 1990 Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung (Unila). Saya dengar Panji Utama di Fakultas Pertanian. Saya pikir, Juperta itu di depan nama Panji Utama itu karena dia memang Jurusan Pertanian. Tapi, ternyata itu nama asli dia. Lalu, AYE saya tidak tahu dia ke mana.

Oh, saya tahu kemudian AYE mahasiswa Fakultas Ekonomi Unila ketika Panji Utama, Iswadi Pratama, dan Ahmad Julden Erwin, yang aktif di Unit Kegiatan Bidang Seni (UKMBS) Unila menggebrak dengan antologi puisi bertiga berjudul Belajar Mencintai Tuhan (1992) dengan catatan pembuka Yoke Muelgini dan dilengkapi dengan Manifesto Gerakan Puisi Pencerahan 90.

Erwin, Panji, dan Iswadi memang tiga serangkai di era 1980-an dan 1990-an, meskipun di kemudian hari bergerak di bidang masing-masing. Tahun 1988—2000 saya sempat sekantor dengan Panji dan Iswadi sebagai sesama redaktur Surat Kabar Umum Sumatera Post di Bandarlampung.

Kembali ke AYE, sebagai jurnalis kampus Surat Kabar Mahasiswa Teknokra dan Majalah Republica, saya memiliki kecenderungan mengikuti acara-acara seni dan budaya. Peristiwa sastra di lingkungan kampus dan juga di luar kampus mesti saya ikuti sebagai penonton tentunya, hahaa…

Karena itulah sedikit banyak saya jadi tahu tentang potensi kepenyairan di Unila. Bersama Sakwan Rejab, saya sempat menulis artikel “Menggugat Eksistensi Sastrawan Kampus” (Teknokra, Mei 1992). Nyatanya, geliat sastra di Unila memang menggembirakan.

Melihat kondisi ini, saat menjadi staf Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Teknokra pada (1994—1996), saya bersama (alm) Syafarudin mengusulkan beberapa program penerbitan buku. Dari tiga usulan, yang langsung disetujui adalah penerbitan buku antologi puisi. Saya pikir wajar karena pada dasarnya Pemimpin Umum Teknokra Affan Zaldi Erya dan Pemimpin Redaksi Anton Bahtiar Rifa’i adalah penyair, minimal pernah atau suka puisi. Lalu, di jajaran redaksi ada Sakwan yang juga (pernah) menulis puisi.

Demikianlah program Memetakan Penyair Kampus Hijau pun dilaksanakan dengan komando Pemimpin Usaha Mohammad Ridwan dengan menyeleksi naskah puisi dari mahasiswa dan dosen Unila. Tiga Serangkai Panji Utama, Iswadi Pratama, dan Ahmad Julden Erwin menjadi editornya. Untuk puisi yang sudah bagus, langsung lolos seleksi. Sementara yang masih perlu perbaikan, penulisnya diberi workshop terlebih dahulu dengan pemateri Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS.

Di sinilah, Anton Bahtiar Rifa’i ‘gagal’ menjadi penyair karena ogah mengikuti pelatihan. Lagi pula… Pemred disuruh pelatihan. Hahaa…

Akan halnya saya, saya heran kok nama saya tidak tercantum sebagai penyair yang naskah puisinya lolos seleksi atau penulis yang mesti ikut workshop. Ya sudah, saya pasrah saja. Namun, saat sedang ada tiba-tiba AYE muncul di ruang komputer Teknokra yang kebetulan ada saya juga di situ. Dia bilang, “Ada ketinggalan. Ini masukkan juga dalam antologi.” Oh, puisi-puisi saya rupanya.

“Puisi saya jelek ya,” kata saya beberapa hari berselang.

“Bagus kok,” sahut AYE.

Singkat cerita, terbitlah buku Daun-daun Jatuh, Tunas-tunas Tumbuh (SKM Teknokra, 1995). Sebuah buku antologi yang termasuk luks kala itu yang memuat 25 penyair Unila. Peluncurannya menghadirkan Redaktur Budaya Harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda. Oleh Ahmadun, puisi-puisi Iswadi Pratama, Muhtar Ali, Ahmad Julden Erwin, Anshori Djausal, dan Panji Utama dalam buku tersebut dimuat di Rubrik Orbit, Republika, 19 November 1995 di bawah judul “Sajak-sajak dari Kampus Unila” disertai box tentang penerbitan buku puisi oleh Teknokra dan menyebutkan semua nama penyair dalam buku tersebut.

Bersama penyair-penyair lain, puisi-puisi dan cerpen AYE juga dimuat dalam Jung, Segabung Puisi Penyair Lampung (Isbedy Stiawan ZS & Iwan Nurdaya Djafar, Ed, 1995); Sajak-sajak Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka di Taman Budaya Jawa Tengah, Semarang, 1995); Festival Januari (1996); Mimbar Abad 21 (Slamet Sukirnanto Taufiq Ismail & Sutardji Calzoum Bachri Ed., 1996), Antologi Cerpen dari Lampung (Isbedy Stiawan ZS, Ed, 1996); dll.

Di luar sastra, AYE mendirikan dan memimpin Komite Anti Korupsi (KoAK) (1999-2015). Sempat berhenti mempublikasika puisinya, tahun 2012 ia kembali aktif menulis puisi dan dimuat di berbagai media seperti Lampung Post, Kompas, dan Koran Tempo.

Buku puisinya: Perawi Tanpa Rumah (2013, edisi revisi 2018), Perawi Rempah (2018), Hara Semua Kata (2018). Sejumlah esainya dihimpun dalam beberapa buku digital.

Semenjak “Antologi 100 Penyair/100 Lebih Penyair Indonesia Modern” yang digagasnya menjadi kontroversial menjelang akhir tahun 2020, ia mengelola grup Facebook 100 Penyair Indonesia yang beranggotakan 770 anggota yang ia seleksi sendiri dan menjadi adminnya sendiri pula.

Dari grup ini pulalah semangatnya untuk menerbitkan buku 100 Penyair Indonesia Modern terus menyala. Satu per satu penyair yang berdasarkan penilaiannya memenuhi syarat untuk masuk dalam buku 100 penyair ini ia posting di grup ini. Tinggal beberapa waktu lagi, genaplah 100 penyair modern itu.

Terakhir, medio Januari 2022, AYE memberikan pengumuman untuk mengundang para penyair Indonesia untuk mengikuti seleksi guna melengkapi data 100 Penyair Indonesia Modern tersebut. Seleksi terakhir hingga 10 Februari 2022 (begitu yang tercantum di postingan AYE), ada tambahan empat nama yang lolos seleksi, termasuk saya.

Saya, mungkin juga teman-teman lain yang sering bertemu tatap muka dengannya, memiliki kesan yang berbeda antara AYE di dunia maya dan AYE di dunia nyata. Galak dan suka meledak-ledak di Facebook, tetapi ketika bersua langsung jauh dari situasi seperti itu. Saya tidak sering bertanya padanya, tetapi selalu mendengar dan membaca apa yang dia tulis. Harus saya akui, AYE sangat cerdas dan argumennya sulit dibantah. Dalam hati, saya mengatakan ia banyak benarnya. Padahal, saya termasuk susah menerima pendapat orang lain.

Karena itu, ketika ia menawarkan agar mengikut kelas puisi dan cerpen yang ia mentori, saya bilang ke AYE, “Saya lebih banyak menyimak saja. Takut tidak bisa disiplin mengikuti setiap sesi…” Tak ada jawaban dari dia atas penolakan saya. Tapi, kami tetap berkomunikasi lewat inbox Facebook.

AYE gudangnya ilmu ilmu sastra dan lainnya. Rasanya memang selayaknya ia sering kami jadikan kurator dan juri di berbagai even sastra. Dia sangat teliti. Ia sangat kesal misalnya, melihat tulisan yang tidak nalar, abai terhadap kaidah bahasa Indonesia, dan cuek dengan PUEBI.

“Buat kalimat yang benar terlebih dahulu baru bisa menciptakan prosa dan puisi yang bagus,” kata dia.

Dia benar adanya.

Selamat jalan, Erwin. Ilmu yang berikan sangat bermanfaat. Karya dan pemikiranmu menjadi peninggalan yang berharga bagi kami. Bahagialah dirimu di Kampungmu yang baru. Amin.***

* Sastrawan, pernah mendapat Anugerah Sastra Rancage untuk buku kumpulan puisi berbahasa Lampung, Mak Dawah Mak Dibingi

You cannot copy content of this page