In Memoriam: Pinangan KoBER 2014

  • Bagikan

Catatan Pementasan Pinangan
oleh Alexander GB

Pinangan karya Anton Chekov, Sutradara Ari Pahala Hutabarat
Gedung Sapta Pesona Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang,
Sabtu, 26 April 2014, pukul 14.00 Wib s.d. selesai.
Graha KEmahasiswaan (Gdg. PKM) Lt. 1 Universitas Lampung
Sabtru, 24 Mei 2014, pukul 19.30 WIB s.d selesai

Pinangan adalah satu lakon Anton Chekov yang familiar bagi Komunitas Berkat Yakin (KoBER). Pada tahun 2002 , lakon ini kami pentaskan di GedungTeater Tertutup taman Budaya Lampung. Sebagai salah satu penampil pada ajang Festival Anton Chekov, kolaborasi Teater Satu Lampung dan KoBER. Pinangan (2002) disutradarai oleh Imas Sobariah—Salah punggawa Teater Satu, dengan pemain Ade Suryana,Shinta Korsana, dan Maulana Suryaning Widi Subur. Event ini adalah tindaklanjut dari berdirinya Kober, yang resmi dideklarasikan pada 26 Mei 2002. Selain Pinangan, waktu itu kami juga mementasakan Nyanyian Angsa,Kisah Cinta Hari Rabu, dan SLA.

Lalu pada tahun 2006 lakon Pinangan kembali digarap dan dipentaskan di Universitas Lampung, SMA Fransiskus Bandarlampung, dan  Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Sutradaranya adalah Ari Pahala Hutabarat,  pemain Muhammad Yunus, Hendra Sukma, dan Eli Purwanti.

November 2008 lakon ini kembali kami pentaskan di Bandar Lampungdan Pusat Bahasa, Jakarta dengan sutradara Ari Pahala Hutabarat. Pemainnya Muhammad Yunus,Ratih Putria dan Ahmad Thohamudin. Pementasan ini mendapat sambutan yang baik dari Jajang C Noer dan Nano Riantiarno.

Tahun 2014, kami dipercaya oleh Teater Satu untuk menjadi salah satu penampil pada ajang Kala Sumatera III, yang di helat tanggal 24 – 27 April 2014 di Gedung Sapta Pesona Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya, Palembang.  Acaranya adalah Workshop dan Gelar Karya.  Kami mendapat kesempatan sebagai penampil pertama, yakni pada hari Sabtu, 26 April 2014, yang kemudian dilanjutkan pementasan dari Teater Petak Rumbia (Bengkulu) dan Teater Satu yang membawakan lakon Anak Yang Dikuburkan.

Lalu pada tgl 24 mei 2014, lakon ini kembali kami panggungkan untuk memeriahkan hari jadi Komunitas Berkat Yakin yang ke 12 di Gd. PKM UKMBS Universitas Lampung.

Pinangan atau The Merriage Proposal adalah salah satu karya dramawan Rusia, Anton Chekov. karya ini ditulis sekitar tahun 1888 – 1889 dan pertamakali dipentaskan pada tahun 1891.  Hingga sekarang mungkin sudah ribuan kelompok telah mementaskannya.  Namun, meski sering dipentaskan, lakon bergenre realis ini tetap menarik dan tidak kehilangan daya pukaunya.  Pinangan adalah drama komedi satu babak yang menampilkan hal konyol dari proses menikah orang kelas menengah ke atas yang saat itu lazim dijadikan sebagai upaya untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi. Pernikahan sebagai sarana stabilitas ekonomi bagi kebanyakan orang. Mereka menikah untuk mendapatkan kekayaan, harta, dan sekaligus lepas dari tekanan sosial. Tema yang kami rasa akan selalu kontekstual untuk Lampung dan Indonesia saat ini yang kian materialistik. Pinangan lakon yang satir, keributan yang dipicu persoalan sengketa tanah hinggaanjing di tengah proses lamaran (pernikahan).

Pada kesempatan ini lakon The Marriage Proposal diadaptasi dan ada seikit warna Lampung, nama tokoh dan tempat, logat,dan lain sebagainya. Sehingga naskah Rusia itu pun selayaknya berasal dari tempat kami bermukim.  Yulizar Fadli berperan sebagai Deswan (Ivan VassiliyitchLomov, 35 tahun), Ahmad Thohamudin berperan sebagai Om Ibrahim (Stepan Stepanovitch Chubokov, 70 tahun), dan Nevia Setiana sebagai Mega (Natalia Stepanovna, 28 tahun).

Lakon ini memungkinkan kami untuk sekaligus menggali apa yang dimaksud dengan akting wajar sesuai dengan metode Stansilavski. Mencari dan menemukan kewajaran dalam akting. Yaitu terpenuhinya aspek dimengerti-understanding, yang menitik beratkan pada aspek bentuk, tata gerak, ekspresi wajah, artikulasi, penucapan, pengaturan blocking pemain, tata panggung atau aspek lahiriah pertunjukan, serta dipercaya-believeblenya atau aspek bathin sebuah pertunjukan, muatan emosional, tempat aktor menghidupi motif dan subteks setiap kalimat atau laku (akting)nya.

Setelah berkali mementaskan lakon ini, kami kian menyadari bahwa kewajaran dalam bermain pada akhirnya bukan sesuatu yang mudah diwujudkan. Mengucapkan dialog secara wajar dan spontan dipaggung pada beberapa aktor ternyata mengalami kendala, baik teknis keaktoran maupun pengalaman batin masing-masing aktor yang berbeda-beda. Kemudian kami dengan hati-hati mencermati subtek dan rasa bahasa, sikap tubuh, perkembangan watak,  irama pertunjukan, dan lain sebagainya yang belum optimal hingga pementasan dilangsungkan.  Namun memang begitu adatnya, selalu saja ada yang perlu diperbaiki.

Secara umum pertunjukan berjalan dengan baik, penonton terhibur dan merasa senang dengan tontonan semacam ini. Pinangan hadir dengan rasa melayu-Lampung, setting panggung yang sederhana dan musik yang turut mendukung pertunjukan. Semua berjalan dengan baik. Beberapa aspek yang perlu diperbaiki khususnya menyangkut teknik pemeranan, musik, hingga tata cahayanya. Terlepas dari semua itu, niat kami untuk bersilaturahmi dengan teman-teman di Palembang, Petak Rumbia (Bengkulu), danTeater Satu sudah terlaksana. Dan kami merayakannya. Kami berbahagia.

Kualitas pertunjukan sebagaimana yang kami harapkan belum terwujud seluruhnya. Baik aktor, pemusik, tata cahaya, maupun  sutradara merasa ada beberapa hal yangmasih perlu diperbaiki, diperhalus, dimatangkan.

Catatan lain.

Kami menuju Palembang melalui jalur Kereta Api pada tanggal 25 April 2014.  Kami naik  KA  Expres (Ekonomi-bisnis) yang berangkat pukul09.00 WIB. Kami memilih pagi biar bisa menikmati pemandangan alam sepanjang perjalanan, selain harga tiket yang jauh lebih murah jika dibanding tiket kereta yang berangkat malam hari. Jumlah rombongan 15 orang, 3 perempuan dan 12 laki-laki. Ke stasiun Tanjungkarang kami menyewa satu angkutan umum dan satu mobil pick-up untuk mengangkut properti. 11 jam waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Stasiun Kertapati, Palembang. Kami tiba pukul 20.00 di Stasiun Kertapati, 3 mobil dari panitia datang 30 menit setelah kami tiba di Kertapati, lalu mereka membawa kami ke Wisma Haji, tempat kami menginap selama 3 hari.

Kami baru melihat gedung Sapta Pesona pada Sabtu pagi. Tim setting lekas bekerja, sementara pemain melakukan beberapa latihan ringan untuk persiapan pemanggungan. Pukul 12.00 WIB setting panggung selesai, seluruh pemain dan kru makan siang. Panggung yang baru ini memang agak sempit di banding tempat kami berlatih, tetapi kami menyukainya. Mungkin dua panggung tambahan di sisi kiri dan kanan panggung yang justru membuat kami (semula)merasa sedikit terganggu karena lebih tinggi dari panggung utama. Akan lebihmenyenangkan jika panggungnya rata saja, atau malah tidak usah ada. Tapi itu bukan persoalan serius. Karena kami datang ke sini, yangt pertama adalah Silaturami, kedua adalah pementasan. Dan kami telah mendapatkannya. Karena itu kami sangat bahagia.

Pementasan ternyata berlangsung lebih cepat dari biasanya. Lagu Khayalan Masa Lalu miliknya Ida Laila yang mengalun lirih sebagai penutupnya. Penonton bertepuk tangan, sebagian langsung keluar, sebagian memberikan ucapan selamat, lalu kami lekas berkemas, sebab akan ada pementasan  selanjutnya dari Teater Petak Rumbia.

Usai menonton pementasan Teater Petak Rumbia kami menikmati sore di tepi sungai Musi, di dekat Jembatan Ampera. Suasana begitu ramai dan meriah di sini.Anak-anak, remaja, dan orang dewasa berkumpul, berbincang, makan, ada sebagian yang memancing ikan.  Berbagai jenis mainan, makanan, asesoris dan cindera mata dijajakan di sini. Mereka menyebutnya Benteng. Tak kami sia-siakan untuk menikmati tepi sungai Musi hingga pukul 21.00 wib, waktunya untuk kembalike Wisma. Ilham dan Tiara yang datang menyemput dengan dua mobil kijangnya.

Minggu, kami ke Palembang Square, khususnya ke Toko Buku Gramedia hingga pukul 12.30.  Lalu kami menyewa angkutan umum menuju Gedung Sapta Pesona, di daerah Tangga  Buntung.Pukul 14.00 WIB, Teater Satu akan mementaskan lakon Anak yang dikuburkan.Pementasan berlangsung sekitar 2,5 jam.

Pukul 17.00Wib pementasan selesai. Kembali kami menuju tepi sungai musi, lalu mampir ke Seranak hingga pukul 22.00, lalu kembali ke Wisma Haji. Situasi wisma sudah sangat berbeda dari dua hari sebelumnya. Begitu ramai karena menurut petugas wisma seluruh kamar penuh di isi peserta FSL2N tingkat Provinsi  Sumsel 2014.  Usai makan malam kami bernyanyi (yang sebagian besar adalah lagu dangdut lama), semacam pesta perpisahan yang sederhana, hingga pukul 00.30. Kami istirahat.

Pukul 07.00WIB kami meninggalkan Wisma Haji Palembang menuju Stasiun Kereta Api Kertapati.Pukul 19.30 WIB kami sampai di Tanjungkarang, turun di Stasiun Labuhan Ratu yang terletak di satu sisi jalan Untung Suropati. Kami menuju Unila, minum the dankopi, lalu pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan berbeda-beda. Ada di antara kami masih terkenang dan mungkin ingin lekas kembali berkunjung ke Palembang, ada yang merasa bahwa Palembang adalah mula dari sebuah hubungan, ada yang berbahagia karena ini sebagai pengalaman pertama naik kereta, ada yang dijadikan sebagai alasan untuk merindukan, dan lain sebagainya.

Selepas dari Palembang semua tim kembali berlatih, tanggal 22-24 Mei 2014, Pinangan akan kembali dipentaskan, untuk mengenang 12 tahun lahirnya Komunitas yang sangat kami cintai ini, Komunitas Berkat Yakin. Acaranya sederhana yaitu Launching buku Puisi berbahasan Lampung “Suluh” karya Fitri Yani, pementasan pada Suatu Hari karya Arifin C Noer, dan terakhir pementasan Pinangan.

Di Oktober ini saya mengenangnya, sebuah perjalanan panjang yang seperti baru kemarin terjadi. Semuanya terlaksana dengan baik.Terimakasih atas kemudahan yang Engkau berikan. Ya, Allah. Terimakasih untuk semua kenikmatan dan kebahagiaan ini.

Terimakasih kami ucapkan kepada Teater Satu Lampung, Dwan Kesenian Lampung, Teman Teater di Palembang dan Lampung, untuk semua lembaga/instansi atau perorangan yang telah membantu sehingga kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik.

TIm Pinangan, 2014
Sutradara: Ari Pahala Hutabarat
Pelaku   : Ahmad Thohamudin, Nevia Setiana, Yulizar Fadli, Devin Nodestyo
Pemusik : Rudiansyah Putra, Rio, Hislat Habib, Marlia (Vokalis), Devin (Suling)
Setting Panggung : Rahmad Saleh, Evit Setiawan
Dokumentasi : Aris Porta, Andi
Kru : Imelda Astari, Virio, Kasro
Pimpinan Produksi : Alexander Gb

  • Bagikan