Beranda News Sosial Infak Pemersatu Umat

Infak Pemersatu Umat

312
BERBAGI
Slamet Syamsuri (paling kanan) bersama sebagian pengurus TPQ Mar'atush Sholihah, Srimenanti, Lampung Timur bersama Manajer LAMPUNG PEDULI Umaruddinul Islam (kedua dari kiri)

BANDARLAMPUNG – Sedikitnya 17.000 buruh migran Indonesia (BMI) asal Lampung mengadu nasib menjadi pekerja di sektor informal di luar negara demi kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Lampung Timur kabupaten termiskin di Lampung. Jumlah BMI nya pun tertinggi di Lampung.

“Kabur” dari kampung halaman “yang kering”, bukan berarti BMI asal Lampung Timur ini tidak memiliki keinginan untuk memajukan daerahnya. Mar’atus Sholihah, perkumpulan BMI asal Lampung di Hong Kong membuktikan itu.

Dikungkung keterbatasan jauh dari negeri sendiri, di tengah perjuangan di Negeri Beton, para penyumbang devisa Negara ini masih bermimpi membangun negera. Mereka menyisihkan sedikit dari upah jerih payahnya sehingga terkumpul sejumlah dana untuk tujuan yang mulia. Membangun Taman Pendidikan Quran (TPQ) untuk anak bangsa menimba ilmu agama.

Pengujung 2012, LAMPUNG PEDULI mendapat kepercayaan dari Mar’atus Sholihah untuk menyalurkan dana mereka. Setelah melalui penilaian kelayakan dan kebutuhan,
dana ini disalurkan untuk membangun TPQ di Desa Sri Menanti, Kecamatan Bandar Sri Bhawono, Lampung Timur.

Para siswa-siswi TPQ Desa Sri Menanti, Kecamatan Bandar Sri Bhawono, Lampung Timur.

Daerah ini dipilih karena banyak penduduk desa yang menjadi BMI. Anak-anak usia sekolah yang ditinggalkan sang ibu sangat banyak. Anak-anak ini pun membutuhkan bimbingan keagamaan yang intensif.
Menurut Slamet Syamsuri, tokoh masyarakat setempat, sebelum ini TPQ sudah berjalan. “Selama ini anak-anak belajar di selasar masjid,” ungkapnya.

Sumbangan dari Mar’atus Sholihah yang LAMPUNG PEDULI kelola membawa angin segar bagi pengurus TPQ. Dana yang ada, ditambah dengan swadaya masyarakat dan sumbangan dermawan setempat yang direncanakan sedemikian rupa, akhirnya berdirilah gedung TPQ. Dua kelas dan satu ruang kantor pengajar dengan kekuatan konstruksi untuk dua lantai, TPQ itu mewarnai halaman Masjid Miftahul Huda, Desa Sri Menanti.

“Walaupun belum selesai total, TPQ langsung digunakan sesat setelah berdiri. Bahkan, jumlah santri bertam-bah 2 kali lipat,” tutur Slamet. Sebelum gedung TPQ dibangun, jumlah santri baru 60 orang. Sekarang sudah mencapai 120 orang. “Karena ruangan belum cukup, terpaksa selasar masjid dipakai lagi,” lanjutnya sambil tersenyum simpul.

“Alhamdulillah, keberadaan TPQ ini bisa menginspirasi siapapun kita, di mana pun kita, untuk turut membangun negara,” ungkap Umar. “LAMPUNG PEDULI siap menyampaikan amanah anda hingga pelosok Lampung.”

Cukup lama umat Islam di sekitar masjid Miftahul Huda itu pingin punya TPQ tersendiri. Agar tidak kehujanan atau kepanasan. Kini impian umat terwujud melalui infak umat di sekitar masjid hingga umat Islam asal Lampung di Hong Kong yang sedang mengadu nasib.

“Semoga persatuan ini Allah swt langgengkan hingga akhirat kelak,” doa Nur Halimah ketua Mar’atush Sholihah atas nama BMI Hong Kong asal Lampung.

(Lampung Peduli)

 

Loading...