Beranda Seni Sastra Ini 47 Judul Puisi Nomine Pemenang Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

Ini 47 Judul Puisi Nomine Pemenang Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017

1415
BERBAGI
Isbedy Stiawan ZS
Isbedy Stiawan ZS

TERASLAMPUNG.COM — Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Krakatau Award 2017 sudah memutuskan puisi berjudul “Hikayat Buang Tondjam” karya Rahmad Saleh asal Bandarlampung menjadi juara dalam Lomba Cipta Puisi Krakatau Award tahun 2017.

Menurut Isbedy Stiawan ZS. salah satu anggota Dewan Juri, puisi karya Rahmad Saleh itu menyisihkan 365 puisi yang masuk ke panitia.

Dewan juri yang terdiri atas Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, dan Syaiful Irba Tanpaka juga menetapkan puisi “Pantai Mutun” karya Alexander Robert Nainggolan (Tangerang, Banten) sebagai juara dua, dan “Ihwal Secangkir Negeri” (Rahmat Sudirman, Kalianda, Lampung Selatan) menduduki urutan ketiga.

Menurut Isbedy, selain tiga pemenang tersebut, dewan juri juga memilih 47 puisi/penyair sebagai nomine pemenang.

Tiga puisi pemenang dan 47 puisi lain yang masuk nomine pemenang kan diterbitkan dalam buku antologi puisi Krakatau Award 2017 bertajuk Hikayat Secangkir Robusta.

Berikut ini daftar 47 karya peserta Lomba Cipta Puisi Krakatau Award, 47 yang masuk nomine dan akan dibukukan bersama tiga puisi pemenang:

1. Hikayat di Tulang Bawang, karya Muhammad Daffa (Banjar Baru, Kalimantan Selatan)
2. Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai, karya Benekditus Agung (Yogyakarta)
3. Cuaca Jernih dan Kawan Berdatangan, karya Joko Setyo Nugroho (Lampung Timur)
4. Senja di Teluk, karya I Nyoman Sukaya (Bali)
5. Yang Kuingat Hanya Lampung si Jelita, karya Viddy AD (Surabaya)
6. Sekura di Mataku, karya Neni Yulianti (Kota Cirebon)
7. Selembar Daun Sahang Mencari Serambut Akar, karya Agustinus Wahjono (Balikpapan)
8. Bakauheni, Kaki Krakatau, dan Seribu Kenangan Tentangmu, Ckarya HR Eti Hemawati (Semarang)
9. Mengepal Kenang, karya Bambang Widiatmoko (Bekasi)
10. Dalam Ketinggian Musim Krakatau, karya Budi Saputra (Padang)
11. Di Tanjung Bintang Saat Senyum dan Rindu Menjadi Sekeras Batu, karya Rusdi (Kebumen)
12. Kampung Halaman, Kata Pelengkap Sajak, karya Marsten L. Tarigan (Semarang)
13. Kenang-kenang di Pulau Pisang: Yang Lampau Yang Sekarang, karya Prahayanti Ainia (Depok)
14. Berkelana ke Negeri Lampung, karya Arif Hukmi (Bombana, Sulawesi Tenggara)
15. Nak (Sagata yang Gagal Tercipta), karya M. Insyafani (Way Kanan, Lampung)
16. Lelaki Sekura, karya  Riduan Hamsyah (Banten)
17. Ziarah Sunyi: Kepada Dayang Rindu, karya Adam Yudhistira (Muara Enim, Sumsel)
18. Kapal yang Berlari dari Laut, karya Yana Risdiana (Bandung)
19. Kaldera Tua: Ketika Aku Jatuh Cinta, karya Elok Teja Suminar (Bandar Lampung)
20. Mozaik Lampung, karya Zakiyah Azzahra (Abung Selatan , Lampung Utara)
21. Sigeh Penguten, karya Robi Akbar (Bandar Lampung)
22. Di Pelabuhan Bakauheni Sayang Impian-Harapan Mengalir Tiada Henti, karya Akhmad Sekhu (Tegal, Jawa Tengah)
23. Sekura Kamak, karya Vebri Yana (Lampung Barat)
24. Sebelas Gajah di Puncak Pesagi, karya Djuhardi Basri (Kotabumi, Lampung Utara)
25. Tamasya Keluarga dan Sedikit Catatan Lampung dalam Protret Pembangunan, karya Nanang R. Supriyatin (Jakarta)
26. S(u)atu Waktu – Tersesat di Bandar Ulun, karya Alek Brawijaya (Muba, Sumsel)
27. Di Pugung Raharjo, karya Dadang Ari Murtono (Mojokerto, Jawa Timur)
28. Sejuta Rindu untuk Lampung, karya Thamrin Effendi (Kotabumi, Lampung Utara)
29. Mutiara-Mutiara di Tanah Lampung, karya Nurlaela Isnawati (Kebumen, Jawa Tengah)
30. Di Teluk Kiluan Aku Bersaksi, karya Nurul Muslimin (Yogyakarta)
31. Diorama Gerbang Andalas, karya Sami’an (Jember, Jawa Timur)
32. Malam di Selat Sunda, karya Syarifuddin Arifin (Padang, Sumbar)
33. Surat untuk Bakauheni, karya Seruni Tri Padmini (Solo, Jateng)
34. Pulau Kubur, karya M Ibrahim MH (Yogyakarta)
35. Way Linti dan Upacara Pengantin Lampung, karya Heru Mulyadi (Banjarnegara)
36. Pada Kain Tapismu Tumbuh Pohon Hayat, karya Wayan Jengki Sunarta (Bali)
37. Janin Batu, karya Endang Supriadi (Depok, Jabar)
38. Tahiyatul Lampung, karya Ahmad Musabbih (Tegal, Jateng)
39. Kidung Pulau Sebuku, karya Nuwail (Sumenep)
40. Gelombang Kejut, karya Edi Supranoto (Banyumas, Jateng)
41. Tamasya Sebatang Roh di Kedalaman Rahim Lampung, karya Ahmad Ijazi Hasbullah (Pekanbaru)
42. Nama-Nama Benda dalam Sejarah Percakapan Makan Malam, karya Fina Lanahdiana (Kendal)
43. Ketika Perahu dan Pantai Jadi Satu, karya Ikal Hidayat Noor (Tuban, Jatim)
44. Narasi Sebiji Kopi, karya Anton Kurniawan (Lampung Utara)
45. Di Teluk Kiluan dan Isyarat-isyarat yang Samar, karya Budhi Setyawan (Bekasi)
46. Persaksian Tanah Tanjung—Tanah Lampung, karya Khalili (Madura)
47. Belantara Gagah Rajabasa, karya Abizar Purama (Gresik, Jatim)

Loading...