Beranda Headline Ini Alasan Brigadir Medi Ungkap Istri Pansor Terlibat Pembunuhan dan Mutilasi

Ini Alasan Brigadir Medi Ungkap Istri Pansor Terlibat Pembunuhan dan Mutilasi

2279
BERBAGI
Brigadir Medi Andika keluar dari ruang sidang PN Tanjungkarang, Rabu (12/4/2-17) usai menyampaikan duplik tentang keterlibatan istri M, Pansor dalam pembunuhan.

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Pengakuan terdakwa Brigadir Medi Andika dalam kasus pembunuhan M. Pansor dalam sidang di PN Tanjugkarang, Rabu (12/4/2017) membuat kehebohan baru. Itu karena saat menyampaikan duplik tersebut Medi Andika menyebut bahwa pembunuhan dan mutilasi anggota DPRD Bandarlampung itu justru diorder oleh istri Pansor sendiri, yakni Umi Kulsum.

Isi duplik Medi Andika itu sendiri tidak menyebutkan kenapa order istri Pansor yang hanya ingin ‘memberikan pelajaran’ untuk Pansor kemudian berubah menjadi pembunuhan dan mutilasi tubuh korban secara sadistis.

Ketika ditanya wartawan alasan dirinya baru menjelang putusan (vonis) hakim dirinya mengungkap ihwal keterlibatan istri Pansor, Brigadir Medi Andika mengaku hal itu karena dirinya sudah tidak tahan lagi dengan caci makian Umi Kulsum setiap usai menjalani sidang.

Medi mengaku tidak terima dirinya dicaci maki dan dihina oleh Umi Kulsum dan kerabatnya di semua persidangan.

“Saya tidak tahan karena selalu dihina dan dicaci maki istrinya Pansor, Umi Kulsum dan kerabatnya. Hinaan dan cacian itu saya terima mulai dari sidang pembacaan dakwaan, bahkan sampai replik kemarin,”ungkap Medi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (12/4/2017).

Menurutnya, hal tersebut sangatlah menyakitkan hatinya, karena sudah tidak tahan lagi dengan hinaan dan makian tersebut. Sehingga di persidangan ini, ia mengungkapkan yang sebenarnya yang terjadi bahwa terbunuhnya Pansor ada peran Umi Kulsum.

Dikatakannya, bahwa dirinya sebelumnya ingin menyimpan rahasia terbunuhnya M Pansor tersebut, bahkan dirinya siap menanggung apapun hukumannya. Akan tetapi, karena adanya orang yang tahu penyebab kematian Pansor dan tahu siapa pelaku pelaku sebenarnya. Karena selalu menghakimi dirinya sebagai pelakunya, dan hal itu sangat menyakitkan dan menyinggung perasaannya.

“Saya ungkapkan ini, bukannya saya takut menerima hukuman atas apa yang saya lakukan. Ungkapan ini bukanlah fitnah, apalagi untuk mencari sensasi tapi memang itulah yang yang sebenarnya terjadi,”ungkapnya.