Beranda Pendidikan Ini Alasan Juri Memilih Teater SMKN Tulangbawang Tengah Jadi Juara I FLS2N...

Ini Alasan Juri Memilih Teater SMKN Tulangbawang Tengah Jadi Juara I FLS2N Provinsi Lampung 2016

151
BERBAGI
Teater SMKN Candipuro Lampung Selatan memenyaskan lakon "Sepasang Merpati Tua" karya Bakdi Soemanto dalam FLS2N SMK Lampung 2016.

TERASLAMPUNG.COM — Grup Teater dari SMKN Tulangbawang Tengah Kabupaten Tulangbawang yang mementaskan naskah berjudul “Lost Contact” menjadi juara I Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2016 Tingkat Provinsi Lampung 10-12 Agustus 2016 di Hotel Nusantara Bandarlampung.

Dewan juri teater yang terdiri atas Ari Pahala Hutabarat, Oyos Saroso HN, dan Jusmar memilih wakil SMK Kabupaten Tulangbawang Barat itu dengan sejumlah pertimbangan, berdasarkan hasil pengamatan dan penilaian saat 8 grup tampil.

Menurut Ari Pahala Hutabarat, dari delapan kelompok teater yang tampil di ajang FLS2N SMK Lampung 2016, penampilan kelompok teater SMKN Tulangbawang Tengah paling menonjol dalam hal penyutradaraan, keaktoran, dan penampilan secara keseluruhan (unity).

“Mereka bermain wajar, rileks, dan tidak artifisial. Tampak betul ada sentuhan sutradara. Mereka layak mewakili Lampung di ajang FLS2N SMK di Manado,” kata Ari.

Ari mengatakan, para juri tidak perlu berdebat panjang untuk menentukan juara I, II, dan III karena penilaian para juri hampir sama.

“Kami menilai, beberapa SMK memiliki aktor dan aktris bagus. Sayangnya, di FLS2N ini tidak ada juara untuk kategori aktor aktris. Selain itu, ada aktor dan aktris yang justru memainkan naskah kurang baik dan kurang ada sentuhan sutradara. Misalnya, para pemain grup teater SMK Way Kanan,” kata Ari.

Oyos Saroso HN, ketua Dewan Juri Teater, mengatakan kelemahan umum grup teater yang tampil dalam FLS2N SMK Lampung adalah pada penyutradaraan.

“Beberapa grup tampil dengan konsep yang tidak jelas. Pentas teater seperti disamakan dengan akting sebuah sinetron. Sutradara tidak paham konsep ruang dan waktu, para pemain seperti robot yang menghafal naskah, dan tidak ada penggarapan karakter tokoh,” katanya.

Oyos menilai peta keterampilan masing-masing grup teater tidak merata. Ada grup teater yang sudah bagus konsepsi penyutradaraannya, tetapi masih ada juga yang terlihat sama sekali tidak paham konsep menyutradarai pentas teater.

“Sebaiknya, para guru seni di sekolah-sekolah juga dilatih penyutradaraan sehingga tidak tersesat ketika melatih para siswa karena tidak paham,” katanya.