Ini Alasan Jusuf Kalla Mengunjungi Kampung Bugis di Lampung

  • Bagikan
Masjid Al-Anwar di Bandarlampung

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com – Sebelum mengikuti kampanye di Lapangan Merah Enggal, Bandarlampung, Selasa siang (24/6), Jusuf Kalla terlebih dulu mengunjungi wilayah Cungkeng, Kampung Bugis, Bandarlampug.

Kunjungan Jusuf Kalla ke Kampung Bugis bukan semata-mata untuk mencari dukungan terkait Pilpres 2014, tetapi juga untuk bersilaturahmi dengan orang-orang asli Suku Bugis yang sudah ratusan tahun menjadi warga Lampung.

Suku Bugis masuk ke Lampung diperkirakan pada abad ke-19, jauh sebelum orang-orang Jawa ke Lampung melalui program kolonisasi penjajah Belanda. Warga Kampung Bugis di Lampung sudah tinggal di wilayah pesisir Lampung jauh sebelum Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883. Hal itu bisa ditelusuri jejaknya dengan keberadaan Masjid Al-Anwar di Telukbetung, masjid yang dalam catatan sejarah menjadi masjid tertua di Lampung.

Masjid Al-Anwar dibangun oleh keturunan Bugis pada tahun 1839. Awalnya masjid tersebut hanya sebuah surau. Lalu, ketika Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dan menyebabkan tsunami dahsyat, surau tersebut hancur.

Pada 1888  lewat sebuahmusyawarah bersama para saudagar dari Palembang dan Banten, surau itu dibangun kembali menjadi Masjid Jami Al-Anwar yang berdiri megah hingga sekarang.

Suku Bugis tidak hanya menetap di sekitar Cungkeng, Bandarlampung, tetapi jejaknya juga bisa dirunut di wilayah  Menggala, Kabupaten Tulangbawang. Di Menggala sudah lama terdapat Kampung Bugis yang penduduknya kebanyakan berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan.

Ada dua versi alasan kedatangan suku Bugis ke Lampung pada abad ke-19. Versi pertama menyebutkan, kedatangan suku Bugis ke Lampung dirintis oleh seorang bangsawan Bugis yang terpaksa melarikan diri sampai Lampung karena terjadinya perang saudara di Kerajaan Bugis. Versi kedua menyebutkan bahwa suku Bugis yang datang ke Lampung pada abad ke-19 adalah para penyebar agamas Islam. Selain tokoh agama, suku Bugis yang datang ke Lampung pada abad  ke-19 adalah para nelayan.

Hinggga saat ini warga Kampung Bugis di pinggiran Kota Bandarlampung  pada umumnya berprofesi sebagai nelayan dan pengolah ikan. Beberapa di antaranya adalah pemilik kapal yang menyewakan kapalnya kepada para nelayan atau wisatawan yang ingin memancing di perairan Lampung.   (Mas Alina Arifin)

  • Bagikan