Beranda News Nasional Ini Alasan Mahasiswa Unpad dan UI Dukung Harga BBM Naik

Ini Alasan Mahasiswa Unpad dan UI Dukung Harga BBM Naik

174
BERBAGI
Sebuah mobil Toyota Alphard turut mengisi BBM bersubsidi di SPBU Pertamina Jl Kartini Bekasi. Sebenarnya banyak mobil mewah berbagai merk yang turut antre untuk mengisi premium bersubsidi (Foto: jhonny sitorus/kompasiana)
Sebuah mobil Toyota Alphard turut mengisi BBM bersubsidi di SPBU Pertamina Jl Kartini Bekasi. Sebenarnya banyak mobil mewah berbagai merk yang turut antre untuk mengisi premium bersubsidi (Foto: jhonny sitorus/kompasiana)

Teraslampung.com- Hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM, aksi demontrasi terjadi di beberapa tempat. Bahkan, pada malam hari setelah pengumuman oleh Jokowi, para aktivis HMI yang bermarkas di Jl Losari , Jakarta langsung berunjuk rasa.

Unjuk rasa mahasiswa juga terjadi di sejumlah tempat. Antara lain di Papua, Jambi, Lampung, dan  Makassar yang berlangsung rusuh danj justru berganti musuh dengan warga yang marah.

Berbeda dengan para mahasiswa yang berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, para mahasiswa UI Depok dan Universitas Padjadjaran Bandung justru mendukung pemerintah menaikkan harga BBM. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi UI dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNPAD mendukung kenaikan BBM. Mereka menjabarkan sejumlah alasan.

“Tidak ada alasan lagi untuk tidak merealokasi Subsidi BBM ke subsidi sektor yang lebih dibutuhkan. Sangat jelas bukti bahwa Subsidi BBM sangat tidak tepat sasaran. Keuntungan dari Subsidi BBM hanya dinikmati oleh masyarakat yang berpendapatan menengah ke atas. Sehingga kebingungan pun muncul ketika ada orang yang menyuarakan ‘Tolak Kenaikan Harga BBM’,” kata siaran pers BEM FEB UNPAD, Rabu (19/11/2014).

Menurut mahasiswa FEB UNPAD, mereka sudah melakukan kajian yang melibatkan peneliti dari Center for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran sebelum akhirnya menyimpulkan bahwa harga BBM harus segera naik.

Kajian tersebut, menurut mahasiswa FEB UNPAZD, ada sejumlah temuan kerugian dengan subsidi BBM yang besar. Antara lain kerugian efisiensi (welfare loss) dari subsidi BBM sebesar Rp 64 triliun, opportunity cost dari subsidi BBM, subsidi BBM berdampak terhadap konservasi energi dan perubahan iklim (subsidi BBM merusak kredibilitas komitmen Indonesia di mata komunitas internasional yang di sesuaikan dengan Coppenhagen Accord Commitment).

“Subsidi BBM berdampak terhadap ketimpangan pembangunan sejak tahun 2008 hingga 2012 menunjukkan trend peningkatan kesenjangan pendapatan dan index Gini,” kata BEM UNPAD dalam rilisnya.

BEM FE UI idem ditto Mereka  juga mendukung kebijakan menaikkan harga

Menurut BEM FE UI, berdasarkan kajian yang mereka lakukan, pada kenyataannnya, subsidi BBM selama ini justru digunakan oleh sekitar 70% lebih masyarakat mampu.

“Merekalah masyarakat yang secara tingkat pendapatan ekonomi sanggup atau mampu untuk membeli barang pada harga pasar. Seiring waktu, konsumsi akan BBM premium kian meningkat. Hal ini tercermin dalam anggaran negara untuk subsidi BBM yang lebih dari 200 triliun. Sementara pembangunan produktif Indonesia yang lain membutuhkan modal yang tidak sedikit,” kata  BEM FE UI dalam pernyataannya, Rabu (19/11).

BEM FE UI menyoroti sejumlah alasan bahwa Subsidi BBM yang semakin membengkak telah membebani APBN dan mengurangi fiscal space, padahal, alokasi subsidi BBM sangat timpang dibandingkan alokasi untuk aspek lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial.

“Subsidi BBM merupakan salah satu faktor utama penyebab defisit ganda yang dialami oleh Indonesia, di mana dengan mengurangi subsidi BBM, APBN dan neraca pembayaran dapat diselamatkan. Subsidi BBM merupakan kebijakan yang mistargetted, di mana masyarakat berpendapatan menengah ke atas mendapat porsi paling besar dari subsidi. Subsidi BBM justru merupakan salah satu faktor penyebab semakin besarnya tingkat ketimpangan pendapatan di Indonesia,” kata  BEM FE UI.

Bambang Satriaji

Loading...