Beranda Politik Pilpres 2019 Ini Alasan Polda Kalbar Larang Deklarasi #2019GantiPresiden

Ini Alasan Polda Kalbar Larang Deklarasi #2019GantiPresiden

299
BERBAGI
Spanduk berukuran besar bertuliskan #2019GantiPresiden saat Deklarasi Akbar Relawan #2019GantiPresiden di depan pintu barat daya Monas, Jakarta, 6 Mei 2018. TEMPO/M Taufan Rengganis

TERASLAMPUNG.COM — Kepolisian Daerah Kalimantan Barat melarang deklarasi #2019GantiPresiden di wilayah hukum mereka. “Hasil analisis dan penilaian kami, dari aspek Kamtibmas kegiatan itu lebih banyak mudaratnya, karena banyak resistensi, banyak yang menentang,” kata Kapolda Kalimantan Barat Inspketur Jenderal Didi Haryono, Ahad, 26 Agustus 2018.

Rencananya, sejumlah organisasi bakal menggelar deklrasi #2019GantiPresiden di Eks Cafe Nineteen, Pontianak hari ini. Acara ini pun menuai penolakan dari elemen organisasi kemasyarakatan lainnya.

Didi mengatakan keputusan polisi melarang deklarasi tersebut karena murni alasan keamanan dan ketertiban masyarakat. “Kamtibmas di sini kondusif sekali dan saat ini masih bergelut dalam menangani kebakaran hutan dan lahan sehingga jangan lagi dibebankan dengan masalah lainnya,” kata Didi.

Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengatakan sejauh ini belum mengetahui organisasi mana yang bakal menggelar deklarasi #2019GantiPresiden. Sebab, kelompok tersebut belum mengajukan izin. Makanya, ia menegaskan polisi tidak segan membubarkan kelompok masyarakat yang tetap nekat menggelar deklarasi.

Hari ini, gerakan #2019GantiPresiden dideklarasikan di beberapa tempat seperti Pekanbaru, Riau dan Surabaya, Jawa Timur. Namun, gesekan antara kubu pendukung dengan penolak gerakan tersebut cukup kuat. Di Pekanbaru, misalnya, penentang #2019GantiPresiden sampai menghadang aktivis gerakan tersebut, Neno Warisman, agar tidak bisa keluar dari bandara.

Pelarangan deklarasi #2019GantiPresiden banyak dikritik warganet. Sejumlah warganet menilai pelarangan tersebut membuktikan bahwa polisi tidak fair.

“Sebab, deklarasi Jokowi-Ma’ruf Amin tetap bisa dilakukan kok,’ kata Andi Rahmat, warganet yang tinggal di Bandarlampung,Minggu (26/8/2018).

Tempo/TL 

Loading...