Ini Bukti Proyek Jalan MP3KI di Sungkai Barat Dikerjakan Asal-asalan

  • Bagikan

Feaby/Teraslampung.com

Proyek jalan asal jadi di Sungkai Barat. 

KOTABUMI–Berbagai fakta menarik mulai bermunculan seputar pembangunan kedua proyek jalan lapen di Desa Gunung Raja, Kecamatan Sungkai Barat, Lampung Utara (Lampura) yang diduga dikerjakan asal jadi.

Sejumlah fakta menarik tersebut yakni ternyata dalam kedua proyek dimaksud, tak satu pun warga sekitar turut dilibatkan dalam pembangunan jalan yang berasal dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI). Padahal, seyogyanya pembangunan itu melibatkan warga sekitar. Selain itu, proyek kedua jalan tersebut diduga kuat dikerjakan oleh pihak rekanan.

Tak berhenti sampai di situ, berdasarkan pantauan di lapangan, Kamis (18/12) sekitar pukul 11:38 WIB, kualitas kedua jalan yang dibangun itu terbilang cukup buruk. Bebatuan baik di badan jalan maupun di tepi jalan dalam proyek peningkatan Jalan lapen sepanjang 2,8 Kilometer dengan lebar 3 meter ini sangat mudah terlepas jika dicungkil dengan tangan. Aspal yang semestinya menjadi perekat bebatuan jalan tersebut diduga kuat terlalu sedikit alias tak sesuai standar.

Salah seorang pekerja saat ditemui di lokasi pembangunan jalan penghubung Desa Gunung Raja dengan Desa Tanjung Jaya, mengatakan seluruh pekerja yang terlibat dalam pembangunan jalan tersebut berasal dari luar Kecamatan Sungkai Barat. Dikatakannya bahwa sejatinya proyek ini diborong oleh pria yang bernama Tikno asal Kotabumi.

“Tikno tukang yang ngeborong ini. Orang Kotabumi,” kata pria yang tidak mau disebutkan jati dirinya itu.

Sementara, Hajar, warga sekitar membenarkan bahwa warga di Desanya sama sekali tidak dilibatkan dalam pengerjaan kedua proyek dimaksud. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan buruknya kualitas pembangunan jalan yang menelan biaya tak kurang dari Rp688 juta tersebut kepada pihak Kecamatan pada tanggal 12 Desember 2014.

“Batunya cuma satu macam saja. Harusnya kalau jalan lapen itu tiga tahapan yakni jenis batu 1, 2, 2, 3, dan 3,5. Di lapangan cuma batu 3,5 saja. Batu kecilnya pun paling 2 atau tiga tumpuk saja,” tuturnya.

Belum lagi, masih menurutnya, jumlah aspal yang disediakan dalam pengerjaan proyek itu ditengarai tidak cukup untuk pembangunan jalan penghubung antara Desa Gunung Raja dan Tanjung Jaya. Hal ini terungkap kala masyarakat di Desanya menyaksikan pengaspalan sisa jalan sepanjang sekitar 250 meter yang belum dikerjakan. Ternyata pihak pekerja hanya menyiapkan 10 Drum aspal untuk sisa jalan sepanjang 250 meter itu.

“Harusnya 1 Drum aspal itu untuk 30 meter/persegi. Kalau seperti itu, hitungannya 75 meter/persegi,” papar dia.

Ia mengancam akan melapor ke Fasilitator Kabupaten (Faskab) dan Bupati Agung Ilmu Mangkunegara apabila kedua pekerjaan jalan dimaksud belum jua diperbaiki. “Kita akan laporkan ke Faskab dan pak Bupati kalau masih tidak diperbaiki,” tutup dia.

Sebelumnya, sejumlah proyek pembangunan jalan di Kecamatan Sungkai Barat disinyalir bermasalah. Pasalnya, proyek yang sumber dananya berasal dari program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) diduga dikerjakan asal jadi.

Adapun proyek – proyek jalan itu yakni proyek pembangunan jalan penghubung antara Desa Gunung Raja dengan Desa Tanjung Jaya. Kemudian, pembangunan jalan yang menghubungkan Desa Gunung Raja dengan Desa Kubu Hitu, Kecamatan Sungkai Barat.

Bahkan menurut sumber terpercaya, akibat diduga dikerjakan asal jadi tersebut, sejumlah warga yang mengatasnamakan warga Desa Gunung Raja menyatakan menolak hasil pengerjaan proyek MP3KI tersebut. Mereka kecewa dengan kualitas jalan yang tengah dibangun tersebut.

  • Bagikan