Beranda Views Opini Ini Cara Kapitalisme Menguasai Dunia

Ini Cara Kapitalisme Menguasai Dunia

622
BERBAGI
Oleh Astra I. Eisenring 

Ilustrasi

Dalam membicarakan “kemiskinan”, mau tidak mau kita akan berhadapan
dengan kenyataan adanya “Moda Produksi Kapitalis´vs “Moda Produksi
Non-kapitalis”. Sayangnya, dalam diskusi-diskusi obyek permasalahan,
“kelakuan” Kaum Kapitalis hanya dibahas secara partial, sehingga,
seolah-olah selalu ada cara (solusi) partial untuk terlepas dari
cengkraman Kapitalis.

Mencoba meneropong “kelakuan” Kaum
Kapitalis secara parsial akan menyebabkan kita tidak dapat memahami
secara holistik “anatomi” dan “metamorphosis” gerakan “Kapitalis”,
apalagi untuk memahami yang lebih jauh dari itu, “Neo-Kapitalis”.

Nah, tulisan di bawah ini dapat memberikan paling tidak gambaran
menyeluruh dari “anatomi” dan “metmorfosis” MONSTER KAPITALIS, dan
resourses yang menjadi “Makanan” bagi mereka dalam pertumbuhannya.

TAHAP 1 : PENCIPTAAN MESIN PENYEDOT UANG
(Melalui Lembaga Perbankan)

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi
hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi
kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot
uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa
uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan
“disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank
tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit)
dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha
besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini.
Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang
sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum
kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar.
Dengan cara apa?


TAHAP 2 : PENCIPTAAN PABRIK PENYEDOT UANG (Melalui Pasar Modal)

Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup
mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan
iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan
keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan
penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar
dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan
besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini,
apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup.
Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

TAHAP 3 : PENGKERDILAN PERUSAHAAN KECIL (Mencaplok / Membatasi Pertumbuhan Perusahaan Kecil)

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana
caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada
hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu
perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di
suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup
dibangun sebuah mal yang besar.
Dengan itu toko-toko itu akan tutup
dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan
ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu
perbankan dan pasar modal. Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar
lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar.

Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual
produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

TAHAP 4 : PENGUASAAN SUMBER BAHAN BAKU (Untuk mengkontrol harga dan menurunkan biaya produksi)

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti:
pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air,
dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan
baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua
lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

TAHAP 5 : PENCAPLOKAN BUMN (Untuk berada pada Urat Nadi Perekonomian Negara – Nonstop Supply)

Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya
adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).

Kita
sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor
publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi,
transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan,
kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan
bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas
bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya
Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini,
perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN
tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya,
yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika dengan cara ini kaum
kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya
tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

TAHAP 6 : MASUK KESEKTOR KEKUASAAN (Untuk menguasai dan Menyetir kebijaksanaan Ekonomi Negara)

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan
itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap
sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal
yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis
hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan
didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni
(pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud.
Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan
hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai
sampai di sini? Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat
nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem
baru. Apa problemnya?

TAHAP 7 : PEMBUKAAN MNC (HEGEMONI TINGKAT DUNIA) 
(Mencari Pasar baru di Negeri-negeri Jajahan)

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar,
yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di
dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen.
Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari
sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan
hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di
negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya
adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau
tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT),
sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa
halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas
proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis
dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di
negara-negara “jajahan”-nya. Untuk mewujudkan ekspansinya ini,
perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan
dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya
cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka
perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu
dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas
negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung
perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual
produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga
sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal
yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya
ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan
permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

TAHAP 8 : PENGUASAAN SUMBER BAHAN BAKU (DI NEGERI JAJAHAN)
(Mengulang sukses di Negeri-negeri Jajahan)

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih
ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan
menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte
lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat
menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.
Contoh yang
terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA),
yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di
Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang
lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan
asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU
Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

TAHAP 9 : MENURUNKAN HARGA BAHAN BAKU (DI NEGERI JAJAHAN)
(Tentunya berakibat Kemiskinan di Negeri Jajahan)

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin
lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan
baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan
nilai kurs mata uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini,
prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang
bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal
tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan
berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah
dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka
Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk
“mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya.
Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku
lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

TAHAP 10 : MEMPERMURAH UPAH TENAGA KERJA
(Upaya marginalisasi terhadap tenaga Kerja Potensial)

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara
selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa
menjadi semakin murah.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan
proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah
dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah
sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi
pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan
semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi.
Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di
perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong
dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan
sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang
sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu
lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana.
Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji
tinggi.

TAHAP 11 : MENEMPATKAN PENGUASA BONEKA
(Dan tentunya dengan Kabinet “Wayang Kulit”)

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia
di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu
tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain
lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan
dapat berjalan dengan mulus.

Bagaimana caranya? Caranya adalah
dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara
tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum
kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan
memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana
tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi
lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada
Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah
sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya
negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses
dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan
melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu
sendiri. Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin,
maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka.
Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di
sinilah diperlukan cara berikutnya.

TAHAP 12 : MEMBERIKAN PENDAMPINGAN PADA MASYARAKAT (NGO)
(Sekaligus Topeng Kebaikan)

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis
dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM.
Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat
(community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat
agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry),
seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya.
Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap
memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah
masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum
kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini.
Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis
dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan
tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang
terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri
besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia
tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum
kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih
ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan
bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap
terjadinya krisis ini.

TAHAP 13 : MEMAKSA PEMERINTAH MEMBERIKAN TALANGAN (BAILOUT)
(Yang tentunya dari APBN, yang sumbernya Pajak Rakyat)

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk
mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah
untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya
berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber
pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian,
jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya.
Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus
dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil
akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat
selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan
tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia.

Tulisan ini disadur dari tulisan Dwi Condro Triyono, Ph.D, dosen IAIN Surakarta

Loading...