Beranda News Liputan Khusus Ini Cara Para Pemuda Desa di Lampung Selatan Cegah Virus Corona 

Ini Cara Para Pemuda Desa di Lampung Selatan Cegah Virus Corona 

576
BERBAGI
Penggiat literasi ‘Motor Pustaka’ Lampung Selatan, Sugeng Hariyono yang juga sebagai tim Satgas Penanganan Covid-19 Desa Pasuruan saat menunjukkan bilik penyemprot disinfektan yang dipasang di depan pintu masuk Kantor Desa Pasuruan.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN–Berbagai cara dilakukan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia untuk mencegah penyebaran virus corona baru atau Covid-19. Salah satunya adalah dengan membuat bilik penyemprotan disinfektan.

Para pemuda Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan mengantisipasi penyebaran Covid-19 dengan bilik penyemprot disinfektan yang mereka buat sendiri.

Dimotori penggiat literasi ‘Motor Pustaka’ Lampung Selatan, Sugeng Hariyono, para pemuda Pasuruan membuat bilik penyemprotan disinfektan dengan kerangka holo aluminium yang dibungkus plastik.

Bilik setinggi dua meter dengan luas 1, 36 meter persegi itu diberi tombol otomatis dan dua buah nozel yang bisa mengeluarkan cairan desinfektan yang disemprotkan ke tubuh.

Sugeng Hariyono mengatakan, ide pembuatan bilik penyemprot disinfektan karena ia prihatin melihat banyak warga di desanya khususnya pekerja buruh harian lepas, pedagang, dan lainnya yang tidak bisa melakukan kerja di rumah (work from home).

“Jika bilik penyemprot disinfektan itu ada dan dipasang di tempat umum, warga bisa memanfaatkannya. Setidaknya bisa meminalkan peluang penyebaran wabah virus corona,” ujarnya kepada teraslampung.com, Senin (30/3/2020).

Anggota Tim Satgas Penanganan Covid-19 Desa Pasuruan ini mengaku biaya untuk membuat bilik penyemprotan disinfektan berasal dari uang patungan alias swadaya para pemuda desa. Pembuatannya dilakukan secara bergotong royong.

Menurut Sugeng, perancangan bilik perlu waktu dua hari. Bahannya antara lain holo aluminium, plastik, penampung air (tong) untuk tempat cairan disinfektan, selang, mesin pompa air kecil, dan penyemprot (spray) atau nozel.

Bilik penyemprot disinfektan ( karya para pemuda Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan.

“Pembuatannya sengaja kami bentuk ringkas dan ringan agar bisa bongkar pasang . Selain itu juga agar mudah dipasang atau diterapkan di berbagai tempat,”ungkapnya.

Cara kerja bilik penyemprotan disinfektan tersebut, kata Sugeng,  pertama cairan desinfektan yang berada di dalam tabung (tong) ukuran sedang dihubungkan menggunakan selang dan masuk ke mesin pompa air.

Kedua, bilik itu diberi tombol yang terhubung langsung ke mesin pompa air. Jika tombol itu ditekan (on), maka cairan disinfektan akan keluar dari nozel yang terpasang di bagian kiri dan kanan di atas bilik.

Saat berada di dalam bilik, lanjut Sugeng, warga yang disemprot disinfektan disarankan memejamkan mata dan menahan napas sejenak sambil berputar 360 derajat. Hal itu dilakukan supaya seluruh tubuh mulai dari kepala hingga kaki terkena cairan desinfektan dan setelah itu baru keluar dari dalam bilik.

“Sementara ini baru ada satu bilik yang kami buat, dan bilik itu dipasang di depan Kantor Desa Pasuruan. Rencananya, kami akan membuat satu bilik penyemprotan disinfektan lagi tapi khusus untuk kendaraan dan nantinya bilik itu akan dipasang di jalur utama masuk ke Desa Pasuruan,”terangnya.

Sementara Kepala desa (kades) Pasuruan, Sumali, saat dikonfirmasi teraslampung.com menyampaikan sangat berterima kasih dan bangga atas karya para pemuda desanya yang telah berinovasi menerapkan teknologi tepat guna untuk warga yakni bilik penyemprotan disinfektan.

“Saya bangga atas dedikasi dan inovatif para pemuda desa kami yang begitu peduli memerangi penyebaran virus corona,” kata dia.

Menurutnya, ada beberapa warganya yang memang harus bekerja di luar rumah, seperti para pekerja buruh harian lepas.

Begitu juga dengan para pegawai desanya yakni Kepala urusan (Kaur) dan para pamong desa lainnya, mereka tidak bisa bekerja dari rumah karena harus tetap bekerja ke lokasi kerjanya masing-masing, terutama mereka yang bertugas sebagai Satgas Penanganan Covid 19 Desa Pasuruan.

“Dengan adanya bilik penyemprot disinfektan ini, warga yang keluar dari desa untuk bekerja dan saat kembali harus masuk ke bilik tersebut. Begitu juga untuk warga yang baru pulang merantau dan kembali lagi ke desanya, diwajibkan dilakukan pendataan dan sterilasi ke dalam bilik penyemprotan disinfektan lalu mengisolasi diri selama 14 hari di rumahnya,”terangnya.

Sumali berharap warga di desanya bisa memanfaatkan bilik tersebut agar selalu terjaga dari penyebaran Covid-19.

 

Loading...