Ini Delapan Kecamatan Daerah Endemis DBD di Lampung Utara

Nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah (DBD)/Ilustrasi
Nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah (DBD)/Ilustrasi
Bagikan/Suka/Tweet:

Feaby|Teraslampung.com

Kotabumi–Meskipun kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya masih terbilang sedikit, namun Dinas Kesehatan Lampung Utara mengimbau ‎warga untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungannya masing – masing. Menguras, menutup, mengubur merupakan hal yang wajib dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit DBD.

“Sampai tanggal 10 Januari 2022 ini, baru ditemukan empat warga yang terkena DBD,” jelas Kepala Bidang Pencegahan, dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Lampung Utara, Dian Mauli, Minggu (16/1/2022).

Ia mengatakan, penyebaran penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti ini dapat dicegah melalui tiga cara. Ketiga cara itu adalah menguras, menutup, dan mengubur tempat – tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Saat musim hujan seperti ini, lakukanlah 3M supaya penyebaran penyakit DBD dapat dicegah,” imbaunya.

Setiap warga khususnya warga yang tinggal di daerah yang dikenal sebagai daerah endemis DBD wajib melakukan 3M tersebut saat musim hujan seperti saat ini. ‎Di Lampung Utara sendiri setidaknya ada delapan kecamatan yang dianggap daerah endemis DBD. Kecamatan itu ialah Kecamatan Kotabumi, Kotabumi Utara, Kotabumi Selatan, Abung Selatan, Blambangan, Bukitkemuning, Sungkai Selatan, dan Bungamayang.

‎”Warga yang tinggal di daerah endemis wajib lebih ekstra peduli dengan kebersihan lingkungannya saat musim hujan,” kata dia.

Menurut Dian Mauli, penanganan yang tepat pada setiap pasien DBD merupakan kunci utama dalam mencegah terjadinya kematian akibat penyakit tersebut. Pasien DBD yang suhu tubuhnya dingin, tekanan darahnya turun, dan detak jantungnya berdetak agak cepat wajib segera dilarikan ke rumah sakit. Sebab, ciri – ciri tersebut merupakan ciri – ciri yang mengarah pada terjadinya syok yang berpotensi berujung pada kematian.

“‎Di masa kritis yang terjadi di hari kedua hingga kelima, pasien dapat saja mengalami syok. Dengan segera dirawat di rumah sakit, kondisi seperti itu dapat dipantau supaya tidak terjadi hal yang fatal pada pasien,” terangnya.

You cannot copy content of this page