Beranda News Nusantara Ini Dua Keanehan Gempa di Lombok yang Menewaskan Puluhan Warga

Ini Dua Keanehan Gempa di Lombok yang Menewaskan Puluhan Warga

616
BERBAGI
Satu unit sepeda motor tertimbun puing bangunan yang roboh akibat gempa di salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar, Bali, Ahad, 5 Agustus 201 (Foto: Antara via Tempo.co)

TERASLAMPUNG.COM — Ada dua keanehan dalam gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang terjadi pada 5 Agustus 2018. Pertama, gempa berpusat di darat, tapi mampu memicu tsunami. Kemudian, gempa ini juga disebut gempar doublet (kembar) tapi memiliki ciri unik yang berbeda dari sebelumnya.

M Arifin Joko Pradipto, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Timur Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, menjelaskan soal tsunami itu.

“Kenapa bisa menimbulkan tsunami padahal pusat gempanya di darat? Karena diduga jalur retakannya itu sampai ke laut sehingga bisa menimbulkan tsunami,” kata dia di Bandung, Senin, 6 Agustus 2018.

BMKG sempat melansir peringatan dini tsunami akibat gempa Lombok 7 Skala Richter tersebut beberapa jam kemudian. BMKG mencatat terjadi tsunami di Carik setinggi 0,135 meter dan di Badasr 0,1 meter.

“Retakannya sampai ke laut sehingga bisa menimbulkan tsunami, walaupun kecil,” kata Arifin.

Arfin mengatakan, sumber gempa tersebut berasal dari zona subduksi Flores Back Arc Thrust yang memanjang di perairan utara Lombok, Sumbawa, hingga Flores. Mekanisme sesar tersebut naik dari selatan ke utara, sebaliknya dari utara menghunjam ke daratan di bawah pulau-pulau tersebut.

Arifin mengatakan, kemungkinan gempa 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter dan gempa Lombok yang terjadi hampir sepekan kemudian pada 5 Agustus 2018 kemungkinan berada di jalur yagn sama.

“BMGK mengatakan gempa 5 Agustus ini main shock, tapi itu masih perdebatan juga, karena bisa jadi dua gempa ini gempa kembar atau doublet,” kata dia.

Arifin mengatakan, syarat gempa kembar atau doublet tersebut hampir dipenuhi oleh dua gempa yan berselisih sepekan ini. Dua gempa Lombok tersebut berada dalam jarak pusat gempa kurang dari 10 kilometer, dan memiliki kekuatan yang relatif hampir sama.

“Dua gempa ini mekanismenya sama persis,” kata dia. “Duga gempa ini berada di jalur yang sama, retakannya saja yang bergerak.”

Menurut Arifin, dua gempa disebut gempa kembar itu sedikitnya memenuhi tiga syarat. Pertama kekuatannya berselisih 0,2 satuan, berjarak kurang dari 100 kilometer, dan dengan selisih waktu kurang dari 3 tahun. “Kemungkinan ini gempa kembar. Tapi butuh penelitian lebih lanjut,” kata dia.

Arifin mengatakan, sejumlah analis juga menyebutkan ini gempa Lombok 29 Juli dan 5 Agustus gempa kembar. “Kita tidak memprediksi secara persis gerakan lempeng tersebut, gerakan lempeng itu apakah sedang menuju keseimbangan atau sedang bergerak,” kata dia.

Ia pun menilai ada keanehan pada gempa doublet kali ini. “Kalau biasanya main shock itu gempa utama, di ikuti gempa kecil menyusul, gempa-gempa kecil ini bagus karena dia menuju stabil. Tapi aneh kali ini, di sini tanggal 29 Juli gede, di ikuti gempa kecil-kecil, terus gede lagi pada 5 Agustus 2018,” kata dia.

Gempa berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang wilayah Lombok Barat dan Bali pada Minggu malam (5/8/2018) menyebabkan setidaknya 98 korban meninggal dunia.

Posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melansir, hingga Senin (6/8/2018) tercatat 98 orang meninggal dunia, 236 orang luka-luka dan ribuan rumah rusak akibat gempa dahsyat tersebut.

Sementara jumlah pengungsi mencapai ribuan jiwa yang tersebar di berbagai lokasi di Nusa Tenggara Barat

 

tempo.co

Loading...