Beranda News Nasional Ini Kata Imam Masjid New York Terkait Kehadiran Setya Novanto dan Fadli...

Ini Kata Imam Masjid New York Terkait Kehadiran Setya Novanto dan Fadli Zon dalam Kampanye Donald Trump

198
BERBAGI
Fadli Zon selfi dengan Donald Trump (Foto: @fadlizon)
Fadli Zon selfi dengan Donald Trump (Foto: @fadlizon)

JAKARTA, Teraslampung.com– Dua petinggi DPR RI, Setya Novanto dan Fadli Zon, menjadi topik hangat di media sosial setelah foto mereka bersama taipan Donald Trump.

Donald Trump adalah taipan flamboyan yang kini sedang maju sebagai salah satu calon presiden AS. Foto Setya Novanto dan Fadli Zon bersama Donald Trump menjadi heboh ketika tersebar secara luas di media sosial. Bahkan, media mainstream kemudian menindalanjuti informasi itu lewat sejumlah berita.

Setelah dua hari menghiasi media sosial, kabar kehadiran dua politikus Indonesia itu berujung pada somasi dan petisi. Fadli Zon kemudian menyomasi Imam Shamsi, Imam Masjid New York, karena dinilai menyebarluaskan kabar yang salah tentang pertemua Fadli Zon dan Donald Trump.

Berikut penjelasan Shamsi Ali terkait informasi yang dia sebarkan di media sosial:

Dari semalam Fadhli Zon meminta saya meralat pernyatan saya…ini whatsapp yg saya terima:


Ass. Pak Shamsi Ali, apakah Bapak bisa meralat keterangan di FB? Soal kampanye Trump? Soalnya ini berawal dari keterangan Bapak yg salah. Sehingga isu melebar dan dimanfaatkan lawan politik. Apakah ini memang maksud Bapak. Klu sy, katakan yg benar itu benar dan yg salah itu salah. Yg Bapak katakan kampanye Trump itu salah. 3 menit itu salah. Soal Kongres reses itu salah krn kami di NY dlm rangka IPU. Tlg klarifikasi demi kebaikan bersama. Apakah benar Bapak Imam di Masjid New York? Setahu saya masjid yg dibangun Indonesia dan sdh tdk lagi. Terima kasih.
Dan ini jawaban saya:


Alaikumussalam…Nampaknya pak Fadhli mempertanyakan posisi saya sekarang ya? Apakah Imam atau bukan maksudnya? Sekarang saya memimpin masjid dg komunitas terbesar di NYC pak. Kalau masjid Indonesia memang dikenal Imam, dalam arti pemimpin komunitas. Bukan Imam sholat seperti yang dikenal di Indonesia. Mungkin Bapak bisa bertanya ke Kementerian luar negeri Amerika tentang saya. Insya Allah mereka akan berikan jawabannya.


Bapak meminta saya meralat pernyataan saya di FB dan media sosial lainnya. Saya kurang tahu mana yang salah. Yang saya ceritakan apa yang saya lihat. Dan itu jelas di video.
1. Tentang kampanye dan konferensi pers. saya kira siapapun yang melihat video itu akan memahami dg jelas jika acara itu adalah bahagian dari kampamnye DT. Dengan banners, bahkan Bapak sempat selfie dg wanita Amerika beserta banner dukungan untuk DT. Kampanye itu kan bukan cuma orasi di lapangan. Tapi boleh juga di acara konferensi pers seperti kemarin.
Jadi saya tidak salah kalau Ketua DPR dan rombongan memang hadir dalam acara konferensi pers sebagai rangkaian kampanye DT. Ini tidak bisa dibohongi.


2. Mengenai 3 menit itu juga ada di video. Terus terang, dengan melihat posisi ketua DPR dan wakilnya serta rombongan lainnua, dan posisi DT sebagai peserta konvensi salah satu partai, cara pengenalan dia kepada pendukungnya melecehkan. Tapi saya memahami. Kadang bangsa kita ini ada perasaan inferior kepada orang lain karena persepsi yang sudah terbangun kalau mereka hebat.


Maaf saya lihat diperkenalkan dengan cara seolah-seolah memperkenalkan anak kecil. Ditanya kayak anak SD dengan pertanyaan yang sangat tricky, dan jawaban pak ketua salah total: yes highly. Dari mana kebenaran jawaban ini?


Setelah itu seorang ketua DPR dan rombongannya ditinggalkan begitu saja seolah kebingungan. Kalau DT menghormati akan diajak jalan hingga ke pintu dan melepas dengan hormat. Maaf ini bukan seorang Setya dan Fadhli. Ini ketua DPR RI, sama dengan speaker of the house of US.
Saya tidak bisa bayangkan kalau John Boehner ke Indonesia lalu hadir di acara salah seorang peserta konvensi partai Golkar atau Gerindra. Setelah dikenalin lalu ditinggalin saja bersama khalayak ramai. Apa yang akan dikata oleh Amerika?


Ini yang saya dan banyak lagi anggap sebagai perendahan martabat bangsa.


3. Soal kehadiran ke konferensi IPU saya tahu. Itu sehari dan bukan masalah. Tapi yang jadi masalah adalah acara lainnya yang tidak sesuai keperluan, malah melanggar norma dan etika protokoler. Sekali lagi, sebagai seorang pejabat, bertemu dengan seorang kandidat di musim kampanye bisa sensitif. Apalagi hadir di acara yang memang di setting sebagai bagian dari acara kampanyenya? Bapak mau saya meralat ini. Tapi anak
SD saja tahu kalau ini memang bagian dari acara kampanye, dan kehadiran Bapak dan pak ketua di sana salah.


4. Saya tidak punya kepentingan politik apa-apa dalam hal ini. Kalaupun ada yang memakai ini untuk kepentingan politiknya itu urusan mereka. Saya tidak ada urusan. Dalam dunia keterbkaan memang susah menyembunyikan apapun. Video kehadiran ketua dan wakil ketua di acara itu tersebar cepat. Tanpa saya juga akhirnya orang tahu karena penyebaran informasi yg super cepat.
Saya sudah katkaan kemarin jika saya ini seorang aktifis, dan punya rasa tanggung jawab mengoreksi yang saya anggap salah. Bapak juga saya kira pernah seorang aktifis dan biasa membela kebenaran. Saya juga berada di posisi itu. Dan saya akan membela posisi saya karena tidak punya beban sama sekali.


Entah apa yang menjadikan Bapak seolaj mempertanyakan posisi saya sebagai Imam. Saya ajak kembali jalan-jalan ke NYC dan keliling ke berbagai komunitas muslim dan non Muslim biar tahu siapa dan apa yang saya lakukan. Saya bukan orang sepenting pak Fadhli. Tapi cara bapak mempertanyakan posisi saya bermakna lain dan cukup mengusik. Terima kasih

Bambang Satriaji