Ini Kata Sahabat – Kolega tentang Almarhum Medi Syahrial Alamsyah

  • Bagikan
Medi Syahrial Alamsyah, S.H., M.H.

TERASLAMPUNG.COM — Hakim Ad Hoc Tindak Pidana Korupsi (Tikipor) PN Tanjungkarang, Lampung, Medi Syahrial Alamsyah, S.H., M.H. (62), meninggal dunia di RSU Abdul Moeloek (RSUAM) Bandarlampung, Sabtu petang (28/8/2021) pukul 16.02 WIB.

Meninggalnya Syahrial Alamsyah bukan hanya menorehkan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat dekatnya. Duka cita mendalam juga dialami para sahabat, para mantan aktivis, para juniornya, dan sejumlah kolega. Hal itu terlihat dari riuhnya linimasa media sosial di Lampung dan sejumlah grup WhatsApp, beberapa saat setelah pria yang akrab disapa Bang Iyal atau Bang Yal itu meninggal dunia.

Jauh sebelum diberi amanah sebagai hakim ad hoc tipikor, Syahrial Alamsyah sudah malang melintang di dunia pergerakan mahasiswa dan jejaring prodemokrasi di Lampung. Ia juga aktif di organisasi kepanduan (Pramuka) dan lingkungan hidup.

Ketika reformasi bergulir, Syahrial terjun ke dunia politik. Ia pun kemudian menjadi anggota DPRD Lampung peride 1999-2004 dari PDI Perjuangan. Namun, masa jabatannya sebagai anggota Dewan tidak dituntaskan Syahrial sebagai dampak ‘kisruh’ pemilihan Gubernur Lampung yang digelar DPRD Lampung pada 2002.

Pasca-ingar bingar politik Pilgub Lampung 2002, Syahrial pun kemudian kembali menekuni dunia hukum. Ia menjadi advokat/pengacara. Pada 2011 ia pun lulus dalam seleksi calon hakim ad hoc Tipikor. Syahrial seharusnya purna tugas sebagai hakim ad hoc tipikor PN Tanjungkarang pada 4 November 2021 mendatang.

Dari sekian banyak ucapan duka cita yang bertebaran di medsos, dapat disimpulkan bahwa kesan umumnya adalah: Bang Yal sangat baik dan peduli terhadap para juniornya sejak menjadi aktivis kampus. Ia juga sosok yang memiliki karakter tegas, punya prinsip, dan berintegritas. Ia akan berkukuh pada pendiriannya dan siap menanngung risikonya.

Bang Yal (kelima dari kanan) pada acara HUT Gudep XXXVII yang diadakan Aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Sabtu, 2 Februari 2019/Foto: Istimewa

Untuk merunut kembali jejak Bang Yal sejak aktif di organisasi mahasiswa hingga menjadi hakim ad hoc tipikor, berikut ini pendapat Abi Hasan Mu’an (advokat/pengacara), Budisantoso Budiman (jurnalis/aktivis prodem), Gustina Aryani (hakim ad hoc Tipikor di PN Tanjungkarang), Ahmad Rizani (Direktur Mitra Bentala), Gusti Heni Endrawati (Kepala Sekolah)/alumni FKIP Unila), Ichwanto M. Nuh (aktivis Watala, politikus), dan Heri Wardoyo (politikus, mantan Wabup Tulangbawang):

Abi Hasan Mu’an: Bang Yal Suaranya Keras tetapi Baik Hati dan Sangat Peduli Juniornya 

Bang Yal adalah senior saya di Fakultas Hukum Universitas Lampung. Dari dulu Bang Yal itu suaranya keras bila bicara, namun hatinya baik. Bahkan sangat peduli dengan para juniornya.

Kami di Komisariat Hukum HMI Cabang Bandarlampung sangat bangga saat Bang Yal terpilih menjadi Ketua Senat Fakultas Hukum Unila. Saat Bang Yal terpilih, saya baru menjadi anggota HMI. Saya belum punya pengalaman organisasi, kemudian  diintruksikan untuk menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), karena ketua senat mahasisawa FH Unila dipilih oleh BPM. Kami anggota pada waktu itu memilih Bang Yal menjadi Ketua Senat FH Unila.

Untuk periode kepengurusan senat selanjutnya dalam pemilihan ketua senat FH Unila, saya tidak sejalan dengan kemauan Bang Yal. Saya punya calon sendiri, yaitu Ahmad Iswan. Untuk menjadikan Iswan yang mesti dilakukan terlebih dahulu “menguasai” suara BPM FH Unila. Dalam proses pemilihan anggota BPM, saya tidak berkoordinasi dengan Bang Yal. Kami menjalankannya sendiri. Seingat saya waktu itu ada teman yang berkomunikasi dengan saya menyatakan diri untuk menjadi ketua Senat FH Unila.

Kepadanya saya katakan kalau mau jadi ketua senat bantu dulu mengkondisikan pemilihan anggota BPM. Akhirnya teman saya bekerja untuk pemilihan anggota BPM. Dalam proses pemilihan tersebut teman saya dimarahi abis abisan sama Bang Yal. Saya melihat dari jauh teman saya dimarahi oleh Bang Yal. Bang Yal tidak tau kalau dalam proses tersebut saya juga punya andil, karena Bang Yal tidak tahu hubungan saya dengan Bang Yal baik-baik saja. akhir dalam proses pemilihan Ketua Senat FH Unila Ahmad Iswan terpilih menjadi Ketua Senat FH Unila.

Hubungan baik saya dengan Bang Yal, sangat saya rasakan juga pada saat saya menjadi Direktur LBH Bandarlampung. Bang Yal sangan peduli dengan kerja-kerja LBH dalam memberi bantuan hukum pada rakyat miskin.

Ada pengalaman yang menarik pada saat kami melakukan praperadilan di PN Metro menggugat Polres Lampung Tengah. Dalam proses persidangan kami menumpang mobil Bang Yal. Dalam sidang yang ketiga,  saat kami pulang dari sidang praperadila, di tengan jalan tepatnya di Jembatan Tegineneng mobil Bang Yal yang kami tumpangi dilempar pakai batu. Kaca samping mobil pecah. Tetapi Bang Yal tidak sedikit mengeluh. Apa lagi meminta kami iuran untuk mengganti kaca mobilnya.

Jasa yang tidak dapat saya lupakan saat saya mengurus ke MA untuk menjadi advokat. Bang Yal kala itu juga juga ingin menjadi advokat, tepatnya dari pengacara praktek menjadi advokat. Agar menjadi advokat harus mendapat SK dari Mahkamah Agung. Dalam mengurus SK advokat tersebut, finansial (biaya) saya bolak-balik Jakarta – Lampung Bang Yal yang membantu hingga saya mendapatkan penempatan wilayah kerja advokat.

 

Gustina Aryani:
Bang Yal Hakim Berintegritas, Tegas, dan Bertanggung Jawab

Bang Yal termasu senior saya di Fakultas Hukum Unila. Kami dalam beberapa tahun terakhir ini makin sering bertemu setelah sama-sama menjadi hakim ad hoc tindak pidana korupsi (Tipikor) di Pengadilan Negeri Tanjungkarang.

Saya mengenal Bang Yal sebagai pribadi yang baik. Di kantor, Bang Yal biasa dipanggil Pak Medi. Ia baik kepada semua orang. Dalam menjalankan tugasnya, Bang Yal termasuk hakim yang berintegritas dan tegas dalam persidangan. Ia sering mencecar saksi-saksi yang memberikan keterangan tidak benar.

Kami sangat salut terhadap tanggung jawabnya terkait pekerjaan. Meskipun beliau pernah terserang stroke yang mempengaruhi dan membatasi aktivitas fisiknya, namun beliau alm tetap rajin masuk kerja dan bersidang sesuai jadwal. Bahkan seringkali menggantikan tugas sidang teman sejawat yang berhalangan hadir.

Budisantoso Budiman: Bang Yal Aktivis Tulen 

Budisantoso Budiman/Foto:Istimewa

Medi Syahrial Alamsyah atau biasa saya sapa Bang Iyal/Yal adalah sosok yang ramah, tak sombong, santun, dan murah senyum. Di mana pun ketemu selalu menegur duluan. Aktivis tulen semasa mahasiswa sebagai senior di Kampus Unila. Sepak terjangnya di kanpus sangat dikenal oleh para aktivis pada masanya, termasuk saya sebagai juniornya yang aktif di pers mahasiswa Teknokra Unila. Lantas setelah akhirnya lulus, memilih karier menjadi advokat. Kemudian terjun ke politik sebagai Anggota DPRD Lampung dari PDI Perjuangan.

Bang Yal termasuk narasumber para jurnalis yang tak pernah menolak diwawancarai, bahkan bersedia memberikan data pelengkap yang diperlukan wartawan, termasuk info penting di balik layar. Setelah tak lagi di DPRD Lampung jarang ketemu. Tapi kemudian beberapa kali ketemu satu pesawat saat bertugas sebagai hakim ad hoc tipikor di luar Lampung.

Ia selalu menegur dengan ramah duluan bila ketemu. Sempatkan bertegur sapa dan ngobrol sejenak. Belakangan beliau jadi hakim ad hoc tipikor di Lampung untuk mengabdi di bidang hukum yang digelutinya sejak mahasiswa hingga akhir hayatnya. Bang Yal benar-benar sosok aktivis tulen yang lengkap beragam profesi berhasil dijalaninya dengan baik: advokat, politisi, sekaligus pengadil bagi para koruptor.

Selamat jalan senior Bang Yal, kakak sekaligus sahabat yang baik.

 

Ahmad Rizani:  Bang Yal Sederhana dan Mau Banyak Mendengar

Ahmad Rizani/Foto: Istimewa

Bang Yal adalah sosok yang sederhana, tidak menunjukkan kesan orang penting. Begitu juga  dalam interaksi, pertemuan organisasi yang kami lakukan, tidak mau jauh masuk dalam perdebatan. Bang Yal  banyak mendengar, mengamati, pada akhirnya berkata jalankan yang mana menurut teman-temab baik untuk semua.

Bang Yal masih menjadi anggota Mitra Bentala hingga beliau wafat. Mungkin ia setia karena melihat organisasi Mitra Bentala tetap eksis (ada dan punya kegiatan) sampai sekarang. Bahkan, Mitra Bentala berkembang dan jalan sesuai dengan koridornya.

Setelah saya terpilih untuk menakhodai Mitra Bentala awal 2021, saya sebenarnyaingin sekali bertemu beliau untuk membicarakan banyak hal terkait perkembangan organisasi. Saya memahami pekerjaan beliau, apalagi kondisi pandemi saat ini, yg pada akhirnya hal tersebut tidak terwujud, sampai beliau wafat.

Semoga semua amal dan ibadah Bang Yal mengantarkan beliau menuju surga Allah SWT.

Gusti Heni Endrawati: Bang Yal Baik dan Selalu Ceria

Gusti Heni Endrawati/Foto: Istimewa

Untuk bercerita tentang kebaikan dan keceriaan bang Yal tidak pernah habisnya. Aslinya saya mengenal sejak SMP, saat saya aktif di Pramuka. Dia aktif sebagai Dewan Kerja Kwarda Lampung. Namun, kami jarang ketemu. Sesekali saja bila ada kegiatan perlombaan atau perkemahan.  Baru saat kuliah yang sering ketemu. Beliau aktif di kampus.

Betapa banyak sekali sahabat dan saudara yang kehilangan Bang Yal. Grup WA yang kenal beliau dan istrinya berisi kesedihan tentang wafatnya Bang Yal. Dari grup WA SD,  SMP, SMA, Racana Unila, Teknokra Unila, Ikatan Alumni Unila, semua merasakan kehilangan Bang Yal.

Kita doakan agar almarhum Bang Medi Syahrial Alamsyah, SH MH ditempatkan di jannah terindah-Nya Allah kelak. Al Fatehah. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Ichwanto M. Nuh: Bang yang Ramah dan Baik kepada Semua Orang

Ichwanto M. Nuch/Foto: Istimewa

Saya mengenal Kak Iyal sekitar tahun 1985-an. Kak Iyal, orang baik bahkan sangat baik berkawan dengan semua level, baik di kampus maupun di masyarakat/tetangga, hambel kalau ketemu dia lebih dulu yang menyapa.

Pada 1993 beliau adalah salah sesorang yang ada sebelah saya saat saya akad nikah. Kesan mendalam, belakangan ini beliau selalu me’like’ atas respons saya di status teman terutama tentang musibah/kematian.  Ini yang menjadi tanda tanya saya sampai sekarang. Semoga Bang Iyal mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amiiin.

Heri Wardoyo: Kalau Lebaran, Bang Iyal Duluan yang Sering Main ke Rumah Saya

Saya mengenal Bang Iyal sejak kuliah di Unila. Ia kakak kelas saya di Fakultas Hukum Unila. Bang Iyal itu iparku. Istrinya adik Dopi (FH Unila 1984). Istri Dopi dan istri saya kakak-adik. Keluarga besar Dopi, termasuk orang tua dan semua iparnya, memang akrab denganku, apalagi almarhum Kak Iyal.

Hampir tiap Lebaran malah almarhum yang main ke rumahku duluan. Kepergian almarhum jadi kehilangan besar bagiku juga.

Lahul Fatihah…

***

Oyos Saroso H.N.

  • Bagikan