Beranda Ekbis Bisnis Ini Penyebab Produksi Kopi di Lampung Tiga Tahun Terakhir Turun

Ini Penyebab Produksi Kopi di Lampung Tiga Tahun Terakhir Turun

120
BERBAGI
Biji kopi hasil panen warga Rgis Jaya, Kecamatan Air Hitam, Lampung Barat

TERASLAMPUNG.COM — Faktor cuaca menjadi salah satu penyebab menurunnya produksi kopi robusta di Lampung. Menurut Ketua Perencanaan, Pelatihan, dan Pengembangan Badan Pengurus Daerah (BPD) Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung, Muchtar Lutfie, penurunan produksi kopi robusta di Lampung setidaknya telah terjadi sejak tiga tahun terakhir.

“Estimasi volume panen robusta turun ini diperkirakan akan di bawah tahun lalu. Hal ini dikarenakan faktor cuaca ekstrem,” kata Muchtar Lutfie, Sabtu, 5 Agustus 2018.

Muchtar Lutfie memberi contoh, jika kopi sedang berbunga terkena hujan maka akan berubah menjadi tunas kecil . Namun, jika sudah menjadi biji muda dan terkena hujan, maka biji muda itu akan rontok.

“Kalau tanaman kopi berbunga pada musim panas dan tidak diselingi hujan, maka pohon kopi akan layu. Itulah sebabnya, sebaiknya di kebun kopi harus ada pohon yang lebih tinggi yang bisa dijadikan naungan. Kalau musim hujan naungannya dibesarkan,tetapi kalau musim kering naungannya dikurangi. Tetapi kalau sekarang tidak bisa karena susah diprediksi disebabkan cuaca,” kata Muchtar Lutfie.

Muchtar Lutfie memprediksi panen kopi robusta Lampung tahun ini akan turun sekitar 40 persen dibandingkan tahun lalu.

Selain faktor cuaca, penurunan produksi tersebut juga disebabkan para petani minimnya penguasaan petani tentang teknologi pengelolaan kebun kopi.

Muchtar Lutfie mengatakan trend produksi kopi di Lampung dalam beberapa tahun terakhir ini menurun. Bahkan, kata Muchtar, kebun kopi di Lampung Barat kini berkurang.

“Ada beberapa petani kopi yang mengganti kebunnya dengan tanaman kol.Misalnya di Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat,” katanya.

Menurut Muchtar Lutfie, rendahnya volume ekspor kopi Lampung tiap bulan yang terjadi akhir-akhir dipengaruhi beberapa hal. Pertama, karena harga lokal kopi lebih tiggi dari harga pasaran di dunia.

“Selain itu juga harga pasar eksport kopi ditentukan oleh pembeli dpasar dunia seperti Robusta di bursa kopi London dan Arabia di bursa kopi New York,” katanya.

Kedua, karena produksi kopi yang semakin berkurang. Banyak petani kopi yang mengeluhkan mahalnya biaya pengelolaan kebun kopi. Petani banyak yang kesulitan membeli pupuk.

“Maka, diperlukan adanya dorongan dari pemerintah, seperti tersedianya pupuk bersubsidi untuk kopi. Karena sekarang baru ada pupuk untuk tanaman pertanian, bukan untuk tanaman perkebunan/kopi,” katanya.

Ketiga, karena eksportir lokal yang selama ini menggunakan modal bank dalam negeri dibandingkan mereka /eksportir luar yang menggunsksn modal dalam bentuk dolar karena harga tinggi.

Sejumlah petani kopi di Lampung Barat mengaku, sejak tiga tahun terakhir hasil panennya merosot. Per hektar kebun kopi hanya bisa menghasilkan sekitar 7-9 kwintal alias kurang dari satu ton. Padahal, dulu per kebun kopi bisa menghasilkan 2 ton lebih.