Beranda Politik Ini Pidato Lengkap Prabowo soal Tampang Boyolali dan Masalah Ekonomi

Ini Pidato Lengkap Prabowo soal Tampang Boyolali dan Masalah Ekonomi

114
BERBAGI
Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, disaksikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (kiri), menyampaikan pidato saat mengunjungi Pondok Pesantren Darul Qur'an Salafiyah di Demakijo, Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah, Selasa, 30 Oktober 2018. Kunjungan tersebut sebagai ajang silaturahmi dengan umat Islam di Klaten. (ANTARA FOTO via TEMPO)

TERASLAMPUNG.COM — Pidato Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, di Kantor Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menuai kontroversi. Prabowo menyebut ‘tampang Boyolali’ pada pidatonya tersebut, akibatnya hal ini cukup berbuntut panjang.

Prabowo pada saat itu berpidato saat meresmikan Kantor Badan Pemenangan Prabowo Sandi, Ahad 30 Oktober 2018. Persoalan membesar pada saat pidatonya diunggah di platform berbagi video YouTube dan kemudian viral.

Tampang Boyolali disebutkan Prabowo dalam konteks pembicaraan kemiskinan di Indonesia. Ia membandingkan timpangnya ekonomi di Indonesia. Ia melihat pertumbuhan di Jakarta, sangat berbeda dengan daerah lain, indikatornya banyak gedung tinggi, termasuk hotel-hotel ternama dunia.

Prabowo kemudian menyebut “dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang Kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.”

Prabowo gusar dengan viralnya pidato ini. Meski tidak secara khusus menyebut Boyolali, ia merasa ruang geraknya dibatasi. “Jangan bicara ekonomi, tidak boleh bercanda, istilah emak-emak tidak boleh. Jadi sekarang saya bingung mau bicara apa,” kata dia.

Berikut naskah pidato Prabowo Subianto di Boyolali berdasarkan video yang diunggah oleh Gerindra TV.

“Salam sejahtera bagi kita sekalian. Marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT Tuhan Maha Besar, kita masih diberi kesehatan, diberi nafas, untuk bertatap muka pada siang yang baik ini di depan posko pemenangan koalisi adil makmur dalam rangka pemilihan umum tahun 2019 yang akan datang.

Di mana saya Prabowo Subianto dan saudara Sandiaga Uno mendapat kehormatan dan kepercayaan dari masyarakat Indonesia yang diwakili oleh empat partai politik besar.

Partai Amanat Nasional, partai bersejarah yang pernah memimpin reformasi di negara dan bangsa kita tahun 1998. Partai Keadilan Sejahtera, partai yang selalu setia membela kepentingan, kebenaran, kesejahteraan, keadilan dan kepentingan umat Islam di Indonesia.

Partai Demokrat yang telah melahirkan seorang Presiden Republik Indonesia, yang telah memimpin bangsa Indonesia 10 tahun dengan adem ayem, dengan tenang, dengan sejuk, dengan stabilitas dan tentunya Partai Gerakan Indonesia Raya, partai saya sendiri.

Tapi saya merasa bahwa tidak hanya empat partai tersebut, yang mendukung saya dan mengusung saya. Saya dimana-mana didatangi oleh berbagai kalangan ormas-ormas, sayap-sayap sebagai contoh para Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya.

Singa-singa tua yang turun dari gunung untuk membela negara dan bangsa kita walaupun mereka mungkin giginya sudah ompong. Giginya ompong semangatnya masih menyala, tapi terutama yang saya rasakan adalah dukungan dari emak-emak yang militan. Emak-emak ini militan. Mereka berani.

Saudara-saudara sekalian, kita menamakan diri koalisi adil makmur. Kenapa, karena keadilan dan kemakmuran adalah cita-cita pendiri bangsa republik Indonesia. Keadilan dan kemakmuran adalah tujuan kita merdeka. Keadilan dan kemakmuran adalah tujuan kita mendirikan republik Indonesia saudara-saudara sekalian.

Dan dirasakan sekarang saudara-saudara yang merasakan, sekarang saya bertanya kepada saudara-saudara sekalian apakah saudara-saudara sudah merasa adil, sudah merasa makmur.

Saudara-saudara, saya hari ini didampingi, ditemani oleh Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Pak Zulkifli Hasan. Tapi beliau juga kebetulan adalah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, ketua MPR RI pemegang perwakilan rakyat yang tertinggi di Republik Indonesia.

Saya juga didampingi oleh tokoh Jawa Tengah dan tokoh TNI yaitu mantan Gubernur Jawa Tengah Letnan Jenderal TNI Purnawirawan H Bibit Waluyo. Saudara-saudara di Jawa Tengah yang lebih tahu bagaimana seorang Bibit Waluyo itu. Orang gubernur yang bekerja keras untuk rakyat, untuk petani, untuk nelayan, untuk wong cilik di seluruh Jawa Tengah.

Bagian berikutnya, Prabowo mulai menyinggung masalah ekonomi dan tampang Boyolali.

Dengan semboyan balik deso bangun deso. Balik deso bangun deso berarti membangun bangsa dan negara. Saudara-saudara, saya kenal Pak Bibit Waluyo sudah lama. Sebenarnya beliau adalah senior saya, beliau yang dulu mlonco saya, yang menggembleng saya termasuk beliau. Karena saya termasuk dulu taruna yang nakal.

Tapi kalau saya nggak nakal, nggak jadi jenderal. Dan saya kenal beliau di daerah operasi kami ini. Tentara dulu bukan tentara di belakang meja. Kita bukan tentara di kota, kita tentara di lapangan. Kita naik dan turun gunung, kita membela negara ini pertaruhkan jiwa kita untuk menjaga keamanan negara ini. Dari sejak muda kami pertaruhkan nyawa kami untuk bangsa Indonesia untuk merah putih yang kita cintai.

Sekarang seharusnya kita pensiun, seharusnya kita istirahat, tetapi kita melihat bahwa negara dan bangsa kita masih dalam keadaan tidak baik, ekonomi kita tidak di tangan bangsa kita sendiri. Saya lahir di Jakarta. Saya besar di Jakarta. Saya memberi usia saya untuk untuk bangsa ini, saya memberi jiwa saya dan raga saya untuk bangsa ini. Tetapi begitu saya keliling Jakarta saya lihat gedung-gedung mewah, gedung-gedung menjulang tinggi, hotel-hotel mewah, sebut saja hotel mana di dunia yang paling mahal ada di Jakarta. Ada Ritz-Carlton, ada apa itu, Waldoft Astoria.

Namanya saja kalian nggak bisa sebut. Dan macam-macam itu semua, tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Kalian kalau masuk mungkin kalian diusir, tampang kalian tampang tidak orang kaya, tampang kalian, tampang Boyolali, ini, betul.

Saya sebagai prajurit, saya lihat kok negara saya bukan milik rakyat saya. Untuk apa saya berjuang, apakah saya berjuang supaya agar negara kita bisa jadi milik orang asing, saya tidak rela, saya tidak rela. Dan karena itulah saya melihat rakyat saya masih banyak yang tidak mendapatkan keadilan, dan tidak dapat kemakmuran, dan tidak dapat kesejahteraan. Bukan itu cita-citanya Bung Karno, bukan itu cita-citanya Bung Hatta, bukan itu cita-citanya Pak Dirman, bukan itu Ahmad Yani, bukan itu cita-cita pejuang kita.

Karena itu saudara-saudara Pak Bibit, Saya, lama tidak ketemu, saya tidak minta beliau mendukung saya, beliau yang menyatakan mendukung Prabowo dan Sandi. Saudara-saudara tokoh-tokoh seperti Pak Zul, tokoh-tokoh PAN, PKS, Demokrat, relawan-relawan dari mana-mana bergabung dengan Prabowo-Sandi apakah mereka berharap uang, tidak.

Kami partai-partai yang tidak berkuasa kalau mendukung kami jangan mengira, kami bisa membagi-bagi uang, membagi sembako, membagi apa, tidak. Yang bisa kami janjikan kepada rakyat Indonesia adalah keteguhan, ketekatan, kita untuk membela rakyat Indonesia, sebenar-benarnya. Yang bisa kami janjikan kepada rakyat Indonesia adalah bahwa kami akan menjaga dan akan mengelola kekayaan bangsa Indonesia, untuk sebesar-besarannya kemakmuran rakyat Indonesia.

Saudara-saudara sekalian bukan Prabowo tapi semua lembaga di dunia bahwa Indonesia ini terjadi ketimpangan yang sangat besar, yang menguasai kekayaan Indonesia hanya satu persen saja. Kurang dari satu persen. Ada empat orang Indonesia yang memiliki kekayaan lebih dari seratus juta orang Indonesia yang lain. Apakah ini cita-cita Indonesia?” kata Prabowo menutup pidato.

Tempo.co

Loading...