Beranda News Nasional Ini Tips Polri agar tidak Jadi Korban Pemerasan “Video Call Sex”

Ini Tips Polri agar tidak Jadi Korban Pemerasan “Video Call Sex”

1209
BERBAGI
Kasubbag Opinev Bag Penum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Zahwani Pandra Arsyad (Foto: Humas Mabes Polri | Istimewa)

TERASLAMPUNG.COM — Usai mengungkap kasus sindikat sextortion atau pemerasan melalui video call sex (VCS), Polri memberikan tips agar masyarakt terhindar dari pemerasan terkait pornografi online tersebut.

“Pertama, jangan terlalu sering memposting atau update foto-foto dan identitas yang bersifat pribadi ke akun sosial media, sehingga diketahui oleh publik dan akhirnya dimanfaatkan oleh pihak tertentu,” kata Kasubbag Opinev Bag Penum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Zahwani Pandra Arsyad, di Jakarta, Jumat (15/2).

Kedua, kata Arsyad, selalu sadar dan menjaga diri agar tidak menjadi obyek pornografi di depan kamera, baik secara offline maupun online.

Sebelumnya, tim  Subbit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) mengamankan warga asal Malaysia diduga catut nama Polwan untuk melakukan Penipuan.

Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap tersangka berinisial SF dalam kasus tindak pidana pemerasan dengan modus menyediakan layanan panggilan video seks (video call sex).

SF ditangkap polisi Rabu lalu (6/2) di Sulawesi Selatan. Ia beraksi bersama  AY dan VB (keduanya masih buron).

SF ditangkap karena memeras para korbannya dengan modus memberikan layanan video call sex  lalu mengancam menyebarkan video itu kepada korban.

Awalnya, tersangka menawarkan video call sex terhadap korbannya yang tergiur melihat foto perempuan, padahal foto tersebut palsu.

Dalam menjalankan aksinya, tersangka SF membuat sejumlah akun palsu di beberapa media sosia sosial. Dengan akun palsu tersebut, SF dkk  menawarkan jasa untuk melayani video call sex kepada para korban yang umumnya adalah laki-laki.

Setelah ada esepakatan, tersangka SF kemudian melakukan video call sex dengan berpura-pura menjadi seorang wanita.

Loading...