Beranda News Liputan Khusus Ini yang Dirasakan Warga Miskin di Kaliawi Saat Para Tetangganya Menerima Bantuan...

Ini yang Dirasakan Warga Miskin di Kaliawi Saat Para Tetangganya Menerima Bantuan Pemerintah

3481
BERBAGI
Kamar yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga Nuryadi bersama istrinya Siti Maisaroh (kiri) dan anak bungsunya Fajri Kamelia.
Kamar yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga Nuryadi bersama istrinya Siti Maisaroh (kiri) dan anak bungsunya Fajri Kamelia.

Dandy Ibrahim | Teraslampung.com

Bandarlampung — Siti Maisaroh (37), warga Jalan Raden Patah Gang Umi Mastiah RT 09, Lingkungan II, Kelurahan Kaliawi, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Bandarlampung mengambil alih tugas Nuryadi (45), suaminya, sejak suaminya sakit.

BACA: Hidup Miskin, Warga Lamsel Ini tidak Pernah Terima Bantuan Pemerintah

Untuk bisa menafkahi keluarganya, Maisaroh harus bekerja keras. Ia bekerja serabutan, dari buruh mencuci-menggosok di rumah tetangga hingga mencuci piring jika ada tetangganya menggelar pesta. Kerja apa pun ia lakukan, asal halal.

“Semenjak suami saya sakit hampir setahun ini, sayalah yang harus cari uang untuk menutupi kebutuhan keluarga. Saya kerja nyuci-gosok di rumah tetangga. Kalau ada tetangga yang hajatan, saya ikut bantu-bantu nyuci piring. Yang penting saya dapat uang,” ujar Siti Maisaroh yang akrab dipanggil Nong itu kepada teraslampung.com, Rabu, 28 Oktober 2020.

Dari kerja serabutan itu, Nong mendapatkan penghasilan Rp500 ribu tiap bulannya. Selain untuk makan sehari-hari, uang sebesar itu harus ia bagi-bagi lagi untuk biaya anak sulungnya yang mondok di ponpes di Bogor dan anak keduanya yang bersekolah di SMPN 4 Bandarlampung.

“Anak saya yang nomor dua di SMPN 4. Sekolahnya gratis,tapi buat ongkos dan jajannya kan harus saya siapin, untungnya sekarang ini libur,” ungkapnya sambil menangis.

Hidup dalam kondisi miskin tidak lantas membuat keluarga Nong mendapatkan bantuan dari aneka program pemerintah. Ia mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah pusat seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Non Tunai Pemerintah (BNTP), maupun  Bantuan Sosial Tunai (BST).

“Saya hanya dapat bantuan beras dari Pemkot Bandarlampung saja. Itu pun hanya tiga kali selama pandemi Covid-19. Bantuan-bantuan lainnya saya tidak dapat. Kalau lihat tetangga saya mengambil bantuan hati saya terasa diiris-iris,” katanya sambil menyeka air matanya.

Berdasarkan  penelusuran teraslampung.com, keluarga Siti Maisaroh semestinya berhak mendapatkan bantuan. Faktanya ia memang masuk kategori miskin. Para penerima bantuan pemerintah, masih banyak yang kondisinya lebih baik dibanding keluarga Maisaroh.

Untuk menuju rumah atau kamarnya harus melewati gang selebar 60 centimeter yang juga difungsikan untuk dapur, baru menuju kamarnya yang disebut rumah.

BACA: Pemimpin Miskin, Pemimpin Kaya

“Inilah tempat tinggal saya (Nong menunjukkan kamar ukuran 2,5×2,5 tempat dia dan suaminya serta satu anak perempuannya tidur). Di sini saya dan suami juga anak saya Fajri Kamelia (13) tinggal dan tidur,” katanya.

“Saya bingung kalau anak saya yang pertama M. Akbar (20) pulang dari pesantren di Bogor. Dia mau tidur di mana,” tambahnya disertai air mata yang menetes di pipinya.
Untuk itu dia berharap adanya bantuan dari pemerintah atau donatur untuk memperbaiki loteng rumahnya agar saat anaknya pulang dari Bogor, Jawa Barat ada tempat bagi anaknya untuk tidur.

Siti Maisaroh menunjukkan loteng yang rencananya akan buat tempat tidur anak pertamanya.
Siti Maisaroh menunjukkan loteng yang rencananya akan buat tempat tidur anak pertamanya.

“Kemarin Fajri Kamelia hampir tertimpa kayu dari loteng itu waktu dia mau mandi,” katanya sambil memperlihatkan kondisi loteng di atas kamar mandi yang kayunya sudah banyak yang rapuh.

Sementara itu suami Siti Maisaroh, Nuryadi mengatakan, tempat tinggalnya itu merupakan warisan dari orang tuanya yang kini keduanya sudah tiada.

“Ini warisan dari bapak saya, pak Mansur. Saya dapet kamar ini saja sedangkan kakak-kakak saya ada yang mengontrak di tempat lain,” jelas Nuryadi, anak keempat  (bungsu) keluarga Mansur.

Dari tempat tidurnya Nuryadi menjelaskan penyakit yang dideritanya. Menurutnya, ia sakit setelah  terpeleset di tangga saat dia bekerja sebagai pembantu tukang (kenek).

“Saya kerja jadi pembantu tukang, waktu itu saya kepeleset di tangga kejadiannya bulan Desember 2019. Saya sudah urut tapi sampe sekarang sulit untuk berjalan kadang-kadang buat bangun juga susah. Hari ini jadwalnya saya urut,” jelasnya.
Siti Maisaroh sudah mencoba membujuk suaminya untuk memeriksakan sakit yang diderita suaminya itu ke puskesmas atau ke rumah sakit sayangnya Nuryadi enggan mengikuti ajakan istrinya.

“Saya sudah bujuk pak untuk puskesmas atau ke rumah sakit, kan kalau di Kota Bandarlampung ke rumah sakit gratis. Suami sayanya tidak mau, dia bilang kalau di rumah sakit yang nungguin siapa, kalau saya yang nungguin bagaimana cari makannya,” ujar Maisaroh bingung.

Di tempat terpisah, tokoh masyarakat Kelurahan Kaliawi Agung Purnama berharap adanya bantuan dari pemerintah atau donatur untuk meringankan beban keluarga Nuryadi.

“Saya berharap ada bantuan baik itu dari pemerintah atau swasta juga perseorangan yang mau membantu meringankan beban hidup keluarga Nuryadi yang saya lihat memang sangat butuh bantuan,” harapnya.