Inilah Cara Anak Muda Lampung Menanggapi Meme “Begal Lampung” yang Terlalu di Facebook

  • Bagikan

Teraslampung.com — Sebuah meme bertema ‘begal di Lampung’ menghebohkan dunia maya sejak Kamis (26/2). Meme dengan gambar Menara Siger dan bertuliskan huruf besar berwarna kuning itu terutama beredar di kalangan remaja. Kalimat meme tersebut bernada bercanda, tetapi cukup telak sebagai ejekan bagi warga Lampung (terutama anak remaja).

Bagian atas meme itu tertulis: “SELAMAT DATANG DI SINI”. Gambar Menara Siger memperjelas bahwa yang dimaksud ‘di sini’ adalah di Lampung. Di bawahnya tertulis: “Di mana pergi ke sekolah dibegal, ke pasar dibegal, ke kantor dibegal, cabe-cabean dibegal, jones-jones dibegal, pacaran dibegal, mau ngebegal dibegal”.

Frasa terakhir (“mau ngebegal dibegal”) sangat menggelitik. Dan, bagi pembaca yang tinggal di Lampung, bisa jadi hal itu memang benar.

Meme tersebut ditulis Gandi Afriandi dan pertama kali diunggah di grup jejaring sosial Facebook MemeAndRageComicIndonesia. Hingga Sabtu malam pukul 23.00 WIB (28/2) tak kurang dari 5.798 memberikan jempol dan 300-an pemilik akun Facebook membagikannya.

Menariknya, meskipun bernada olok-olok–atau setidaknya bermaksud melucu yang membikin jengkel pihak yang dijadikan objek lelucon–para remaja Lampung menanggapi meme itu dengan sangat cerdas.

Mereka sama sekali tidak terpancing. Ada remaja yang menanggapi meme itu dengan santai. Misalnya adalah Rizki Akbar, yang berkomentar begini: ” tapi seenggak nya lampung gak banjir min….. BANDAR LAMPUNG mana suaraaaa nyaaaaa….”.


Eric Hose mengomentarinya agak panjang: “gw suku jawa sunda tapi dari kecil sampe skarang dah punya anak kecil hidup, cari ilmu, cari makan, cari duit di Lampung. gw bangga jd bagian dari Lampung. kalo bukan kita yg memajukan Lampung mau siapa lagi. saran gw kalo mau posting gambar atau status tentang Lampung yg positif2nya aja lah. kalo kita cari kejelekan pasti mudah. knapa gak kita coba munculin positifnya. di Lampung ada sentra kripik pisang. ada kiluan. ada way kambas. ada danau ranau. ada ombak pantai krui. banyak lagi deh…. ayo geh muli mekhanai Lampung kita bangun Lampung.”

Sedangkan Aqshal Vito Satria Pasya menulis: “Walaupun lampung terkenal dengan orang yg keras semua,tapi lampung aman. Mana suaranya yang orang lampung?”

Novitiyono Wisnu Hadita, warga Tangerang yang kini tinggal di Bandarlampung berkomentar: “Saya orang Tangerang dan sekarang tinggal di Lampung untuk sementara. Baru tinggal disini sekitar 3 tahun. Beberapa kabupaten di Lampung memang terkenal akan tindakan kriminalnya terutama bagian timur dan utara. Tapi beberapa daerah juga tergolong aman. Kalo Kota Bandar Lampung mayoritas orangnya baek-baek karena udah campur dari beragam suku.”

Ada pula  anak muda yang tinggal Lampung yang melontarkan argumentasi menarik untuk membela nama baik Lampung. Hal itu misalnya dilakukan Muhammad Fadillah Umar dalam komentarnya: “tapi lampung ada tugu adipura di bandar lampung,tugu pencak sama pepadun di gunung sugih(tempat gua nih),ada taman kota metro yang megah di kota madya metro,siger di kalianda,mau ngeliat sunset tinggal ke pringsewu,mau berenang banyak pantai bejejer,way kambas di lampung timur,kalianda resort di kalianda,kurang apa lagi coba?,paling cuma kurang aman doang,sampe org aja kaya udh biasa di begal,sampe terlambat kerja,sekolah,atau kuliah di tanya “wey dari mana aja kamu jam segini baru dateng?” di jawab”wey biasa baru di begal”  this is LAMPUNG SAI.”

Sementara  Maryamah, remaja asal Aceh yang tiinggal di Lampung, dalam komentarnya  menulis: “Marhamah Yg bikin post pasti org yg ga pernah tinggal di lampung. Saya org aceh, kerja dilampung. Dan lampung tidak seburuk itu.”

Benny Saputra dalam komentarnya lumayan cool: “gak gitu juga kale min  (admin) ane di lampung aman aman aja  karena begal nya udah pada pindah ke sekitaran jakarta.”

Cara remaja di Lampung menanggapi bombardir olok-olok di mediia sosial terkait “begal Lampung’ tersebut tentu cukup melegakan. Mereka tampak jauh lebih dewasa ketimbang sebagian orang atau media yang hanya memperlakukan ‘begal’ sebagai komoditas jualan dan alat menumpahkan kemarahan.

Rama Pandu/Bambang Satriaji/Mas Alina Arifin



Baca Juga: Label Keliru “Begal Kelompok Lampung”

  • Bagikan
You cannot copy content of this page