Beranda News Liputan Khusus Inilah Irama Harapan Musisi Jalanan Pasar Kangkung Telukbetung

Inilah Irama Harapan Musisi Jalanan Pasar Kangkung Telukbetung

871
BERBAGI
Para musisi jalanan di Pasar Mambo (Pasar Kangkung), Telukbetung, Bandarlampung
Para musisi jalanan di Pasar Mambo (Pasar Kangkung), Telukbetung, Bandarlampung.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Lirik lagu Iwan Fals berjudul “Kupaksa Untuk Melangkah” terdengar dari sebuah warung kopi di Pasar Mambo Bandarlampung:  Kulangkahkan kakiku yang rapuh// Tinggalkan sepi kota asalku//Saat pagi buta, sandang gitar usang//Ku coba menantang, keras kehidupan//Datangi rumah-rumah tak jemu//Petik tali-tali senar gitarku//Dari tenda ke tenda warung yang terbuka//Lantang nyanyikan lagu oh memang kerjaku// Tak ….pasti jalur jalan hidup…Kutunggu putaran roda nasib//Ku …coba paksakan untuk melangkah.

Tak lama kemudian mengalun lagu kedua berjudul “Jangan Bicara”: Jangan bicara soal idialisme//Mari bicara//berapa banyak uang dikantong kita, atau brapa dahsyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa, onani//Jangan bicara//Soal nasionalisme// mari bicara//tentang kita yang lupa warna bendera sendiri, atau tentang kita yang buta bisul tumbuh subur diujung hidung yang memang tak mancung//

Jangan perdebatkan//Soal kedailan, sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan//Jangan cerita//Soal kemakmuran, sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan Polan//

Itulah sepenggal lirik dua buah lagu karya musisi ternama Indonesia , Iwan Fals,  yang saya dengarkan saat berada di sebuah warung kopi yang dinyanyikan oleh kelompok pengamen jalanan Telukbetung dengan memainkan gitar akuistik, benjo serta harmonika saat berada di depan pertokoan di Jalan Hasanudin Pasar Mambo (Kangkung) Telukbetung, Jumat malam 1 Juni 2018 sekitar pukul 23.00 WIB.

Dua buah lagu yang diyanyikan para musisi jalanan tersebut, menggambarkan sebuah kondisi sosial dan keresahan yang berada di tengah-tengah kita sekarang ini. Lagu tersebut juga menggambarkan perjalanan seorang musisi jalanan, bagaimana mengenai nasib mereka dan mengharapkan adanya sebuah perubahan dari seorang pemimpin.

Para musisi jalanan (pengamen) tersebut saat saya coba temui, mereka banyak menceritakan keluh kesah dan harapannya khususnya terhadap pemimpin.

Untung alias Uung (50) mengaku sudah mengamen sejak tahun 1986 saat itu usianya masih 18 tahun di seputaran Pasar Tengah dan Pasar Kangkung Telukbetung. Menurut dia, siapa pun pemimpinnya, nasibnya tetap sama dan tidak akan membawa perubahan, meski sebentar lagi Lampung akan melakukan Pemilihan Gubernur (Pilgub).

“Siapa saja pemimpinnya, nasib kami masih sama musisi (pengamen) jalanan. Jadi manusiakanlah kami kaum yang terpinggirkan layaknya seperti manusia,”ucapnya sembari meminum secangkir kopi.

Meski demikian, kata Uung, sapaan akrabnya, berbagai harapan kepada calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung terpilih nanti, agar nasib para pengamen jalanan perlu diperhatikan. Harapan tersebut, pastinya diinginkan sama oleh masyarakat kaum bawah seperti pemulung, tukang becak, petani, pedagang dan semua masyarakat pada umumnya khsusnya.

Dikatakannya, komunitas pengamen Telukbetung yang dipeloporinya, merupakan komunitas yang bukan hanya sekedar mengamen menjual suara dan bermain musik saja. Bahkan kegiatan sosial juga dilakukannya, yakni dengan mesnyisihkan sebagian uang dari hasil mengamen yang mereka kumpulkan bersama untuk membantu sesama.

“Jadi bukan hanya sekedar mengamen saja, kami juga melakukan kepedulian terhadap sesama meski pekerjaan kami mengamen. Hal ini kami lakukan, untuk membangun citra positif sebagai pengamen jalanan di masyarakat,”ungkapnya.

Komunitas pengamen jalanan Telukbetung ini, dibentuk atas agar para pengamen jalanan bersatu. Selain untuk menghindari tindakan kekerasan, juga agar kreativitas musisi jalanan agar tetap terbina dengan baik. Bahkan, para pengamen juga tidak boleh menggunakan alkohol dan narkoba. Apalagi sampai menggangu pengunjung pasar dengan meminta uang secara paksa, itu juga sama sekali tidak pernah dilakukan oleh kelompok pengamen jalanan Telukbetung ini.

“Ada sekitar 50-an pengamen jalanan di Telukbetung ini, yang menggantungkan nasibnya dengan menjual suara dan keahlian bermain musik. Saat ini ada juga yang main di kafe atau di hotel, tapi ya itu upahnya dinilai masih belum sesuai,”ujarnya.

Perhatian Kepala Daerah

Uung menuturkan, dulu sekitar tahun 1987-an pengaman jalanan di Telukbetung ini, pernah mendapat  perhatian khusus dari Walikota Bandarlampung Nurdin Muhayat.  Saat menjadi Walikota Bandarlampung, Nurdin Muhayat (almarhum) sempat membantu dengan memberikan alat musik seperti drum, gitar, dan soundsystem agar pengamen jalanan di Telukbetung ini menjadi lebih kreatif dan memiliki penghasilan layaknya musisi lainnya.

“Sebagai pemimpin, kepeduliannya beliau terhadap kaum bawah seperti kami ini sangatlah diakui. Dia justru memberikan ruang para pengamen jalanan untuk berkarya dan berkreativitas di wilayah Telukbetung ini,”bebernya.

Kemudian pada era Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, para pengamen jalanan juga diperhatikan. Beliu sangat respek terhadap nasib para pengamen jalanan, bahkan oleh beliau ia bersama teman-teman pengamen jalananan lainnya seringkali diminta untuk tampil manggung sepeti di hotel dan dibeberapa even yang digelar di Lampung. Selain itu, beliau pernah memberikan bantuan alat musik seperti drum dan gitar.

“Yang kami inginkan adalah  sosok pemimpin yang peduli dengan kaum bawah bukan pemimpin yang hanya mementingkan golongan tertentu saja. Jangan saat mau nyalon saja banyak yang dijanjikan, begitu sudah duduk lupa apa yang sudah dijanjikan. Kebanyakan kan begitu pemimpin sekarang ini, boro-boro mau lihat apalagi kenal sama kaum bawah,”kata dia.

Menurutnya, setelah Sjachroedin tidak lagi jadi Gubernur Lampung, kebijakan berubah. Pasar Tengah Mangga Dua di Telukbetung yang selama ini biasa dijadikan untuk mengamen atau mengais rezeki uang recehan dengan bermain musik dan menjual suara, saat ini sudah tidak diperbolehkan lagi oleh oknum dari Dinas Pariwisata untuk dijadikan tempat mengamen. Alasannya, pengamen mengganggu kenyamanan pengunjung pasar.

“Kalau hadirnya kami menggangu, kenapa tidak dari dulu saja dibubarkan dan kenapa baru sekarang? Kalau memang tidak diperbolehkan lagi, mestinya harus diberikan wadahlah buat kami untuk musisi jalanan Lampung. Perlu diketahui, bahwa lahirnya para musisi yang saat ini sukses di Ibukota Jakarta, justru mereka awalanya banyak berasal dari pengamen jalanan Telukbetung ini,”ungkapnya dan diamini juga oleh para pengamen lainnya.

Tentang Walikota Bandarlampung Herman HN, Uung menilai kepedulian Herman terhadap kaum bawah memang sangatlah bagus dan dapat dirasakan khususnya untuk masyarakat Kota Bandarlampung.

“Beliau banyak memberikan bantuan untuk anak-anak kurang mampu yang ingin bersekolah, pengobatan gratis, lalu kalau ada warga yang terkena musibah kebakaran atau banjir beliau langsung turun membantu. Selain itu juga, beliau menyediakan ambulans gratis khusus warga Kota Bandarlampung yang tidak mampu jika ingin memerlukan kendaraan tersebut. Bahkan Ambulans gratis itu juga, melayani warga di luar Bandarlampung jika ingin membutuhkan pertolongan menggunakan kendaraan tersebut. Mungkin bisa jadi, program beliau memberikan layanan ambulan gratis ini, menjadi satu-satunya yang ada di Lampung bahkan di Indonesia untuk pertama kali,” ujarnya.

Menurut Uung, meskipun Walikota Herman HN tidak memberikan bantuan peralatan, tetapi Herman HN sudah banyak membantu kaum bawah yang terpinggirkan sehingga hal itu juga berarti membantu para pengamen juga.

“Contohnya saja, anak saya dan teman pengamen lainnya yang saat ini masih sekolah SD, dapat bantuan mulai dari seragam, buku, tas sepatu dan lainnya. Hal seperti itu sangat membantu kami,” ujarnya.

Harapan kepada Calon Kepala Daerah

Ismail alias Maing (42), pria yang mengaku menjadi pengamen sejak usianya 20 tahun dengan alat musik benjo, mengaku selama mengamen dirinya  tidak pernah menganggu ketentraman orang lain.

Saat mengamen pun ia bersama beberapa teman lainnya selalu berpakaian rapi dan sopan. Bahkan ia juga tidak menggunakan alkohol apalagi narkoba. Jadi janganlah menganggap kami meski sebagai pengamen seperti sampah, kami pun tidak ingin dilahirkan didunia yang akhirnya menjadi pengamen jalanan.

“Banyak kegiatan positif yang kami lakukan meski kerja kami sebagai pengamen jalananan, kami juga mengadakan kegiatan sosial membantu sesama meski pekerjaan kami tidak tetap dan dipandang rendah. Tapi kami bangga meski sebagai pengamen jalanan, bisa berbuat kebaikan dengan berbagi kepada sesama,” katanya.

Harapan lainnya, datang dari Rudi (52), salah seorang pedagang makanan yang sudah sejak puluhan tahun lalu berdagang di Pasar Kangkung menilai  pemerintahan saat ini baik, tapi alangkah baiknya lagi jika ada yang baru dan bisa lebih baik lagi.

Ia juga meminta, program-program yang akan dilakukan dapat membawa perubahan jangan lagi ada ketimpangan untuk kaum bawah.

“Pedagang kecil saat ini susah berjualan, saya berharap agar pedagang kecil juga perlu diperhatikan begitu juga dengan laiinya. Pengennya sih, bisa enak terus jualannya dan dapat untung. Ya semoga saja, yang kecil-kecil gini seperti saya juga diperhatikan,”ujarnya.

Ia berharap Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung yang terpilih nanti, bisa membuat Lampung dapat lebih aman, nyaman , dan sejahtera. Terlebih lagi, bisa mewujudkan janji-janji saat Pilkada.

“Selain itu juga bisa menjadi contoh untuk masyarakat kecil, baik itu pedagang, petani dan masyarakat bawah haruslah dilindungi dan diayomi. Seperti halnya kelompok pengamen jalanan juga, kalau bisa ya dibina dan diberikan tempatlah agar mereka juga bisa menunjukkan kreativitasnya dalam berseni musik. Terkadang saya juga kasihan sama mereka, padahal mereka ini mengais rejeki dari uang recehan untuk menghidupi keluarganya. Tapi saya salut dan bangga dengan mereka, karena tidak berbuat kriminal malah justru melakukan kegiatan sosial,” katanya.

Sementara musisi Kim Commanders yang saat itu juga tengah berada bersama para pengamen jalanan Telukbetung,  menuturkan bahwa para pengamen di Pasar Kangkung  bukanlah orang lain. Menurut Kim,  mereka adalah teman-teman dekatnya yang sudah seperti saudara sendiri dan dulunya juga mereka ini pernah ngamen bersama dirinya di Pasar Telukbetung.

“Jangan salah lho, saya ini juga dulunya pengamen dan sampai sekarang pun saya tetap sebagai musisi jalanan. Di sinilah aku dulu lahir maksudnya bisa bermain musik dan menciptakan lagu dan disini juga aku besar,”kata Kim.

Menurut pencipta lagu “Children With No Land” yang dianggap asing di tanah kelahirannya sendiri (Lampung), tapi justru dikenal dan diapresiasi oleh dunia ini, mengatakan pemerintah semestinya memberikan ruang atau diberikan pekerjaan tetap kepada kelompok pengamen jalanan di Kota Bandarlampung.

“Misalnya para pengamen diberikan tugas khusus untuk menghibur pengunjung seperti di taman-taman kota, sentra kuliner, cafe ataupun hotel maupun di acara yang digelar oleh Pemerintah Provinsi atau Kota untuk menghibur para tamu atau wisatawan. Kalau ditampung dan diberikan pekerjaan yang tetap, mereka ini punya wadah kesenian yang jelas. Selama ini kan tidak ada wadah kesenian yang jelas untuk menampung kreativitas dan aspirasi para kelompok pengamen jalanan ini,”ujar salah salah seorang penggiat seni asal Lampung ini.

Menurut Kim, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) semestinya memberikan pembianaan terhadap para pengamen jalanan ini. Berikan kesempatan terhadap mereka untuk pentas seperti disebuah event organizer, diberikan jadwal main hingga lokasi penggung pementasan. Harapannya, pengamen jalanan di Pusat kota Bandarlampung maupun yang ada di wilayah lainnya akan terbina dengan baik.

“Kita harusnya berusaha menjemput mereka yang tercecer, memberikan ruang untuk mereka untuk berimajinasi, berekspresi, mengembangkan bakat secara adil. Jangan justru menggiring rakyat ini tersingkir masuk ke dalam got (selokan). Pembangunan merata itu, seharusnya memanusiakan manusia,”ungkapnya.

Menurut Kim, hal itu memang tidak adil. Sebab, katanya, para musisi jalanan juga layak mendapatkan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat.

“Dengan begitu, mereka juga akan merasa menjadi orang yang berguna. Ketika kita menghargai seseorang, maka sudah pasti orang tersebut akan menghormati kita. Tapi jangan salahkan jika sebaliknya kalau prilaku musisi jalanan arogan, tapi berkacalah dulu bagaimana dengan tingkah kita. Mereka melakukan itu, karena mungkin awalnya kita yang tidak respek atau menyepelekan mereka. Musisi atau penyanyi jalanan juga, memiliki nilai rasa terhadap seni yang tinggi dan kreatif tanpa orientasi yang muluk-muluk,”bebernya.

Menurutnya, semua harus berperan dan berusaha menciptakan ruang ekspresi dan berinteraksi, melalui bina bakat yang harus dilakukan secara serius oleh pemerintah. Karena mereka adalah kita dan kita adalah mereka. Pemusik jalanan yang terdegradasi ruang kesempatan, ekspresi, imajinasi, berkarya dan ruang penghargaan. Mereka adalah musisi dan jati diri yang tercecer, yang tidak perlu lagi untuk bertanya karena siapa dan salah siapa.

“Mengenai jati diri yang tercecer, istilah ini menggambarkan begitu sempitnya ruang dan pengakuan pemerintah dan masyarakat terhadap kelompok sosial seperti pengamen jalanan ini. Sehingga mereka membentuk komunitas sebagai keluarga bayangan tempat mereka berbagi dan berusaha bertahan hidup sebagai manusia,”terangnya.

Fenomena musisi jalanan (pengamen), merupakan fenomena sosial dan kompleks yang umumnya terjadi hampir di seluruh perkotaan di negara ini. Kehidupan perkotaan yang semakin individualistis, mengakibatkan banyak manusia yang terpinggirkan tidak mendapat perhatian khusus dari sejumlah masalah kota dan kehidupan sosial. Hidup mereka dihabiskan di jalanan, dengan memanfaatkan segala yang ada demi untuk menyambung hidup juga dengan cara seadanya menjadi musisi jalanan adalah salah satunya.

Di beberapa kota besar, musisi jalanan bukanlah hal yang aneh, termasuk di Lampung salah satunya di wilayah Telukbetung, Bandarlampung. Di setiap Pasar di Kota Bandarlampung, pastinya kita akan menjumpai pengamen. Mereka membawakan lagu-lagu yang sedang hits (popular), bahkan mereka juga yang mempopulerkan lagu-lagu sebagian artis atau band musik di tanah air.

Sehingga menjadi akrab di telinga kita, beberapa lagu dari musisi tersebut akan menjadi tenar ketika lagu tersebut banyak dinyanyikan para pengamen jalanan. Bahkan peran musisi jalanan ini, memiliki andil besar dalam memasarkan atau memperkenalkan lagu-lagu baru dari musisi ternama ketelinga masyarakat.

Hal unik pun terjadi, ketika musisi jalanan memiliki daya kreativitas lebih tinggi seperti halnya yang dilakukan oleh kelompok pengamen yang ada di Pasar Kangkung. Lagu yang dimiliki oleh musisi tersebut, dikemas ulang dan menjadi lagu baru yang justru lebih asik untuk didengar. Musisi jalanan jenis seperti ini, biasanya berkelompok lengkap dengan berbagai alat musik yang unik dan menarik yang mereka mainkan.

Namun sayangnya, masyarakat kita masih banyak yang menganggap bahwa musisi jalanan atau yang akrab disebut pengamen ini sebagai sampah masyarakat dan menganggu kenyamanan. Paradigma seperti itupun jadi mengakar, akibatnya musisi jalanan seringkali dipandang sebelah mata. Tanpa melihat atau mendengarkan dulu lagu yang dibawakan oleh mereka, pastinya sudah disepelekan.

Pertumbuhan dan pembangunan Kota Bandarlampung yang pesat, membawa manusianya menjauh dan terdegradasi ke pojok-pojok kota. Termasuk musisi jalanan yang terdegradasi dari ruang-ruang kesempatan, ruang ekspresi, ruang imajinasi, ruang berkarya dan ruang penghargaan. Tak pelak lagi, para musisi jalanan ini menjelma jadi jatidiri yang tercecer yang tak perlu lagi bertanya karena siapa dan salah siapa.