Beranda Hukum Inilah Kasus Hukum yang Menjerat Terpidana Mati asal Lampung Tengah

Inilah Kasus Hukum yang Menjerat Terpidana Mati asal Lampung Tengah

654
BERBAGI

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com– Kasus hukum yang menjerat Waluyo sehingga dia terancam hukuman mati termasuk sadistis. Pada waktu itu, kasus perampokan juragan kopi di Way Tenong, Lampung Barat dengan tersangka Waluyo, sempat menghebohkan warga. Korban dibunuh tidak dengan cara biasa–misalnya ditembak atau dibacok–tetapi dimasukkan ke dalam sumur.

Menurut berkas acara pemeriksaan (BAP) kepolisian, peristiwa memilukan itu terjadi Dusun Talang Sobri, Pekon Gunung Terang, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, pada  Sabtu (28 Juli 2001) sekitar pukul 23.00WIB.

Masyarakat  dihebohkan dengan adanya kasus pembunuhan terhadap korban Ramlan dan Saikan serta Sulasih yang ditemukan jasadnya berada di dalam sumur. Pembunuhan tersebut terjadi berawal saat Waluyo bersama Marsono (DPO) mendatangi rumah korban Ramlan dengan cara menggedor pintu sambil berteriak memanggil nama korban.

 Selanjutnya, korban Ramlan keluar dari rumah dan saat itu Waluyo mengancam korban menggunakan pisau sedangkan Marsono mengawasi keadaan sekitar. Disaat yang bersamaan, korban Saikin melintas dan melihat kejadian tersebut. Akan tetapi, Saikin disuruh Waluyo untuk tidur tengkurap mengikat tangan Saikin begitu juga dengan korban Ramlan.

Setelah berhasil mengikat kedua tangan korban, Waluyo dan Marsono menyeret kedua korban ke arah sumur yang berada dibelakang rumah. Sebelum diceburkan kedalam sumur, Waluyo mencekik leher korban Ramlan sedangkan Marsono mencekik leher Saikin hingga meninggal dunia. Melihat kedua korban tidak bernyawa lagi, akhirnya kedua korban diceburkan ke dalam sumur.

Usai menceburkan keduanya kedalam sumur, Marsono menjemput saksi Poniah sedangkan Waluyo mengambil buah kopi milik Ramlan sambil mengawasi istri korban bernama Sulasih. Setelah itu, Waluyo meminta kepada Poniah untuk menjualkan kopi hasil rampokannya  tersebut.

 Di hari berikutnya, Waluyo mendatangi lagi rumah korban Ramlan, dan kali ini yang menjadi sasaran pembunuhannya adalah istri korban Ramlan, Sulastri.

Sama dengan suaminya, Sulasih juga dibunuh dan diceburkan ke dalam sumur. Setelah itu, Waluyo membawa kabur satu unit tape merk Polytron, satu buah senapan angin, 10 potong pakaian dan biji kopi.

Pada 1997-2001, kopi di Lampung memang sedang naik daun. Harga kopi robusta melonjak bersamaan dengan krisis moneter 1997 sehingga pada masa itu banyak petani kopi di Lampung Barat kaya mendadak. Mereka kerap menjadi incaran perampok. Perampok tidak hanya merampas uang, tetapi merampas buah kopi kering yang disimpan di dalam gudang.

Zainal Asikin


Berita Terkait: Grasi Ditolak, Hukuman Mati akan Segera Dihadapi Warga Lampung Tengah