Beranda Hukum Kriminal Inilah Kronologi Pembunuhan Pelajar SMA Mutiara Natar oleh Pasangan Suami-Istri

Inilah Kronologi Pembunuhan Pelajar SMA Mutiara Natar oleh Pasangan Suami-Istri

1803
BERBAGI
Kapolresta Bandarlampung, Kombes Pol Murbani Budi Pitono saat mengintrogasi pasutri, Agus dan Fita tersangka pembunuhan terhadap korban Merdi, pelajar SMA Mutiara Natar, Lampung Selatan.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Tersangka pasangan suami-istri warga Desa Tanjung Jati, Kecamatan Negeri Agung, Way Kanan, AN alias Ag (22) dan RE alias F (20) mengaku sudah merencanakan pembunuhan terhadap Merdi Irawan (17), pelajar SMA Mutiara Natar, Lampung Selatan yang ditemukan tewas di kamar kos di Jalan Kapten Abdul Haq, Rajabasa, Bandarlampung, pada Minggu (24/9/2017) malam lalu.

Kapolresta Bandarlampung, Kombes Pol Murbani Budi Pitono didampingi Kapolsekta Kedaton, Kompol Bismark mengungkapkan, agar aksinya berjalan mulus, kedua tersangka bersepakat untuk berbagi peran.

“Tersangka F berperan menjemput korban, sedangkan suaminya Ag menunggu di tempat kosnya Jalan Kapten Abdul Haq, Rajabasa, Bandarlampung,”ujarnya kepada awak media, Selasa (17/10/2017).

Sesampainya korban Merdi di tempat kosan, kata Murbani, tersangka Ag langsung memukul kepala korban dengan palu besi hingga korban terjatuh. Kemudian tersangka membekap mulut korban, sembari menggorok leher korban menggunakan pisau.

“Sebelum tersangka pasutri ini membunuh korban, mereka sempat mengobrol terlebih dahulu. Begitu berada di dalam kosan, tersangka Ag langsung menghabisi nyawa korban,”ungkapnya.

Setelah tersangka Agus membunuh korban, lalu istrinya Fita menutupi jasad Merdi dengan tikar dan gulungan kabel listrik. Kemudian kedua tersangka mengambil harta benda milik korban, seperti sepeda motor Yamaha Jupiter Z dan juga ponsel.

“Kedua tersangka melarikan diri membawa barang-barang berharga milik korban, mereka pergi dan bersembunyi di kampung halamannya di daerah Way kanan,”terangnya.

Sementara Kapolsekta Kedaton, Kompol Bismark menambahkan, korban Merdi diperkirakan tewas di kamar kos tersangka, sudah dua hari sebelum ditemukan tewas oleh warga dan pemilik kosan. Dari hasil penyelidikan dan keterangan saksi, korban sempat menawarkan air kelapa muda kepada penghuni kos lainnya.

Tak lama kemudian, lanjut Bismark, korban masuk ke dalam tempat kos tersangka, lalu penghuni kos lainnya mendengar suara musik cukup keras dari tempat kos tersangka. Pada saat itulah, tersangka pasutri tersebut menghabisi nyawa Merdi dengan memukul kepalanya dan menggorok lehernya.

“Tersangka sengaja menyetel musik yang suaranya cukup keras, agar aksi pembunuhan yang sudah direncanakan itu tidak diketahui dan didengar penghuni kos lainnya,”jelasnya.

Akibat perbuatannya, tersangka pasutri Ag dan F dijerat dengan pasal berlapis, Pasal 340 KUHP sub Pasal 338 KUHP sub Pasal 338 KUHP Tentang Pembunuhan Berencana dan Pasal 80 ayat 3 UU No.35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, dengan anacaman hukuman pidana 20 tahun penjara.