Beranda News Nasional Inilah Menteri yang Diduga Menjelek-jelekkan Presiden Jokowi

Inilah Menteri yang Diduga Menjelek-jelekkan Presiden Jokowi

216
BERBAGI
Presiden Joko Widodo bertemu dengan para walikota dan bupati di Istana Bogor, Januari 2015 lalu (ilustrasi/dok)

JAKARTA, Teraslampung.com — Pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo tentang adanya menteri yang menjelek-jelekkan Presiden Jokowi, Sabtu (28/6) membuat publik penasaran, Rasa penasarasan itu menyebabkan sejumlah spekulasi bermunculan. Spekulasi menjadi menarik karena bergulir bersamaan dengan dorongan dari sejumlah kalangan agar Presiden Jokowi melakukan penggantian anggota kabinetnya (reshufle).

Salah satu analisis yang bisa disebut spekulasi diungkapkan oleh Koordinator
Barisan Rakyat Anti Korupsi dan Kriminalisasi, Hans Suta Widhya, Senin (29/6). Hans menduga  tudingan Mendagri Tjahjo Kumolo mengarahkepada Menteri BUMN Rini Mariani
Soemarno.

Menurut Hans, pernyataan Tjahjo bukanlah main-main. Sebagai pejabat dan politikus senior, Tjahjo diyakini memiliki kematangan untuk mempertimbangkan pernyataan yang akan dilontarkan. Ketika Menteri seperti Tjahjo mengekukakan pernyataan tentang perilaku koleganya yang tidak pas di belakang Presiden, tenu ada hal yang serius.

“Ini menjadi pertanyaan kenapa setelah bertengkar dengan Megawati,
sekarang Rini buat front dengan Presiden Jokowi, sehingga yang membuat marah
Menteri Dalam Negeri?” kata Hans dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin
(29/6).

Hans menilai, sinyal dari Mendagri sebaiknya ditanggapi serius  karena berpeluang menjadi friksi di antara para menteri itu sendiri. 

“Ini , akan menghambat jalannya pemerintahan. Roda Pemerintahan harus berjalan disiplin, dan Presiden RI harus punya
keputusan tegas dalam mengelola manajemen konflik,” katanya.

Sebagaimana diketahui, rekaman perbincangan yang beredar di kalangan pejabat
tinggi negara, termasuk yang diterima Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Menteri Tjahjo kemudian melempar bola panas dengan menyebutkan bahwa ada
menteri yang tidak pantas dan tidak etis, karena menteri itu menghina Presiden
Jokowi.

Setelah kabar tersebut muncul, langsung disambut oleh anggota DPR-RI yang juga
politisi PDIP Masinton Pasaribu yang membeberkan  beberapa “kata kunci” menteri
penggina presiden yang dimaksud. Pertama, dari Menteri Ekonomi. Kedua, tidak berasal dari parpol, dan ketiga perempuan.

Seperti apa, rekaman yang beredar? Berikut ini adalah transkripnya:
“Kalau memang saya harus
dicopot, silakan! Yang penting presiden bisa tunjukan apa kesalahan saya dan
jelaskan bahwa atas kesalahan itu, saya pantas dicopot! Belum tentu juga
Presiden ngerti, apa tugas saya. Wong Presiden juga nggak ngerti apa-apa!”
 

Meskipun ada bukti transkrip rekaman, fakta itu belum dapat dikonfirmasi kebenarannya. Menteri Rini Soemarno masih terlihat menjalankan tugas seperti biasa. Sejumlah petinggi PDIP, partai pengusung Jokowi pada Pilpres 2014, juga belum ada yang mau berkomentar.

Sebelum tersebar isi rekaman tersebut, publik di media sosial sempat mengira bahwa menteri yang menjelek-jelekkan Presiden adalah Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Susilo. Nama Indroyono dikaitkan dengan kemarahan Presiden Jokowi saat  Jokowi  tidak mendapat jawaban atas penyebabnya tertundangan jadwal keluar barang (dweling time) di Pelabuhan Tanjung Priok, 17 Juni 2015 lalu. Saat itu Jokowi sempat melontarkan pernyataan akan memecat orang yang bertanggung jawab atas masalah dweling tim di Pelabuhan Priok, termasuk menteri (Indroyono).

Sementara itu, Mendagri Tjahjo Kumolo mengaku bertanggung jawab atas pernyataan yang dia lontarkan. Ia mengaku siap pasang badan bagi siapa saja yang menghina Presiden Joko Widodo.

“Sebagai Mendagri, tadi pagi saya sampaikan kepada Presiden bahwa siapa saja yang menghina Presiden, menghina lambang negara, maka Mendagri siap membela (presiden). Siapa pun itu,” kata Tjahjo di Gedung Kemendagri, Senin (29/6).

Mendagri mengingatkan agar pendapat dan kritik tersebut disampaikan langsung kepada Presiden, bukan kepada media massa terlebih dahulu dengan menggunakan kata-kata tidak sopan.

“Para pimpinan partai, anggota DPR kalau mau memberikan masukan dan saran secara terbuka kepada media, pers, silakan saja. Tapi jangan kasar kepada Presiden,” kata dia. 

Loading...