Beranda Views Kisah Lain Inilah Saksi Bisu Saat Tsunami Selat Sunda Menghantam Pesisir Lampung Selatan

Inilah Saksi Bisu Saat Tsunami Selat Sunda Menghantam Pesisir Lampung Selatan

399
BERBAGI
Jam dinding jadul yang menunjukkan pukul 21.30 WIB dimana tepat terjadinya gelombang tsunami yang menghantam ratusan rumah di wilayah pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Jam didnding itu, berada di reruntuhan bangunan rumah milik Wahid (50), warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa.
Jam dinding jadul yang menunjukkan pukul 21.30 WIB dimana tepat terjadinya gelombang tsunami yang menghantam ratusan rumah di wilayah pesisir Kalianda, Lampung Selatan. Jam didnding itu, berada di reruntuhan bangunan rumah milik Wahid (50), warga Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Jumat sore, 28 Desember 2018,di Desa Way Muli, Wahid (50)  terlihat mengais-ngais barang di antara reruntuhan bangunan rumahnya yang rata dengan tanah. Memang sudah tidak ada barang di rumahnya yang tersisa.Namun, pria yang sehari-hari bekerja sebagai distributor bakso itu berharap masih ada satu-dua barang yang mungkin berharga untuk bisa ditemukan.

Saat sedang membolak-balik puing, tiba-tiba matanya melihat jam berbentuk kotak yang biasanya terpasang di dinding rumahnya. Sebelum musiban tsunami Selat Sunda menerjang rumahnya pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, jam itu masih menempel di dinding ruang tamunya.

Wahid kemudian memungut jam dinding dengan warna latar putih itu. Jam dinding jadul itu kacanya sudah pecah. Mesinnya mati. Hal itu tampak dari tidak bergeraknya jarum pendek dan jarum panjang jam tersebut. Dalam kondisi mati, jarum panjang dan jarum pendek jam itu menunjukkan pukul 9.30 atau pukul 21.30 WIB. Itulah saat yang diyakini sebagai momen tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember terjadi.

Desa Way Muli adalah desa di Lampung Selatan yang kondisinya paling parah akibat terjangan gelombang tsunami pada Sabtu malam,22 Desember 2018.  Tidak hanya banyak rumah yang hancur dan rata dengan tanah. Di desa itu juga banyak warga yang meninggal akibat tsunami.

Saat gelombang tsunami menghantam rumahnya, Wahid sedang membuat bakso.

Wahid (50), warga Desa Way Muli saat mengais barang-barang berharga miliknya di reruntuhan bangunan rumah miliknya yang sudah rata dengan tanah
Wahid (50), warga Desa Way Muli saat mengais barang-barang berharga miliknya di reruntuhan bangunan rumah miliknya yang sudah rata dengan tanah

“Ya memang benar mas, karena saat kejadian gelombang tsunami itu pukul 21.30 WIB dan saya sedang membuat bakso. Jam dinding ini tadinya tidak mati, ya rusaknya ini karena terimpa bangunan saat gelombang tsunami itu merobohkan rumah saya ini makanya mati,”kata Wahid saat ditemui Teraslampung.com di lokasi, Jumat 28 Desember 2018.

Dikatakannya, meski sudah tertimbun dengan reruntuhan bangunan rumah, dirinya berusah mencari barang-barang yang diperkirakan masih bisa terpakai yang ia gunakan untuk usaha membuat bakso.

“Usaha saya membuat makanan bakso, dan saya yang menyuplai bakso ke seluruh pedang bakso yang ada di wilayah Way Muli ini,”ungkapnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, pasca terjadinya gelombang tsunami yang terjadi pada Sabtu malam 22 Desember 2018 lalu, lokasi paling terparah yang terkena dampak gelombang tsunami itu adalah Desa Way Muli, Way Muli Timur dan Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Selain ketiga desa tersebut, wilayah lain yang terkena dampak gelombang tsunami itu adalah Desa Sukaraja, Canti, PPI BOM dan Pulau Sebesi. Kemudian, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo dan Pulau Legundi, Kabupaten Pesawaran.

Loading...