Inilah Seni Rupa String Art Langka Karya Mbah Surip

  • Bagikan
Mbah Surip menunjukan karya seni rupa string art gambar mantan Presiden Indonesia ke tiga, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J Habibie).
Mbah Surip menunjukan karya seni rupa string art gambar mantan Presiden Indonesia ke tiga, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J Habibie).

Zainal Asikin| Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Ada sekitar 200-an lebih karya seni rupa string art yang sudah dibuat Mbah Surip. Melalui karya seni rupanya itu, cita-cita atau keinginan besar Mbah Surip membuat rumah singgah khusus penyandang disabilitas di Lampung yang diberi nama “Omah Kedib” (Omah Keluarga Disabilitas Berkarya). Filosofi dari Omah Kedib khusus disabilitas ini, yakni sebuah kesetaraan.

Beberapa karya seni rupa string art yang telah dibuat Mbah Surip, sketsa wajah tokoh-tokoh nasional, seperti sketsa wajah dari 7 Presiden Indonesia mulai dari Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno hingga sekarang.

Lalu sketsa wajah Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan dan Putri Indahsari Tanjung. Selain itu juga terdapat gambar tokoh nasional lainnya, yakni Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J Habibie) dengan ukuran 1 meter x 1,20 meter. Gambar tersebut menghabiskan paku sekitar 4.000 ribu, benang warna sebanyak satu lusin dan proses penggarapannya selama dua minggu.

Kemudian, sketsa wajah Walikota Bandarlampung, Eva Dwiana dan masih banyak lagi karya string art tokoh-tokoh lainnya yang telah dibuat Mbah Surip di kediamannnya. Selain string art para tokoh, Mbah Surip juga telah membuat karya seni rupa string art musisi tanah air seperti Aril Noah, D’Begindas dan Hijau Daun.

“Ukuran standar atau rata-rata yang paling banyak dibuat, ukuran 61×61 centimeter dan lingkaran media gambarnya yakni diameter 58 centimeter. Untuk membuat satu karya string art menggunakan bahan satu warna benang, membutuhkan waktu selama satu minggu mulai bahan dasar dari nol. Tapi kalau hanya tinggal merajut benangnya saja, hanya satu hari sudah selesai,”kata Mbah Surip kepada teraslampung.com.

Dikatakannya, karya seni rupa string art yang telah dibuat dan diserahkannya secara langsung, yakni sketsa wajah Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Chusnunia Chalim (Nunik) di acara Seniman Lampung Peduli (Selpi) pada 24 September 2019 lalu di Elephant Park Bandarlampung, Kemudian, gambar string art proses pengolahan biji kopi yakni di El’s Coffee Rostery Bandarlampung dengan ukuran 2×5 meter.

“Selama menekuni seni rupa string art, karya yang paling sulit dan menantang saat membuat string art proses pengolahan biji kopi El’s Coffee Rostery yang ukurannya lumayan gede yakni 2×5 meter. Bahan benang warnanya saja, menghabiskan 19 lusin dan 45 ribu paku. Bobot berat string art ini, 180 kg dan dalam waktu empat bulan karya string art itu saya selesaikan dibantu dengan istri,”ujarnya.

Saat disinggung mengenai harga untuk satu karya seni rupa string art yang dibuatnya, awalnya Mbah Surip enggan mengungkapkannya. Namun karya seni rupa string art tersebut, telah dipasarkan di luar Provinsi Lampung seperti Palembang, Medan, Kalimantan dan Pulau Jawa.

“Jujur saja, bukan nilai rupiah yang saya kejar. Tapi rasa kepuasan yang tidak bisa dinilai dengan rupiah meski seni itu sebenarnya mahal. Yang jelas, dalam berkarya saya tetap konsekwen dan komitemen memberikan yang terbaik dari karya itu.”ucapnya.

Mbah Surip pun akhirnya membeberkannya, jika karya string art miliknya untuk per satu centimeter dihitung dengan Rp 500. “Paling murah harganya sekitar Rp 2 juta, dan paling mahal mencapai puluhan juta.”terangnya.

Selain itu, Mbah Surip juga membuatkan string art gambar gedung RS Imanuel. Ia memberikan karya tersebut, sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dirinya dan istrinya merayakan 100 hari anak ketiganya bernama Imam Chandra yang berusia 8 tahun sebagai penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP) yang di semen kakinya di RS tersebut oleh dokter Turman.

“Satu minggu karya string art itu saya buat, dan sudah saya serahkan tanggal 24 September 2021 lalu. Kami sangat berterima kasih sekali dengan dokter turman dan pihak RS Imanuel, sudah memberikan pelayannan terbaik kepada anak saya Imam Chandra,”ungkapnya.

Pengobatan anaknya sebagai penyandang disabilitas cerebral Palsy (CP) di RS Immanuel, kata Mbah Surip, dalam seminggu Chandra harus dilakukan kontrol, lalu per tiga minggu sekali dilakukan bedah ganti gif dan dilakukannya seperti bedah besar.

“Sudah empat kali anak saya Chandra dilakukan bedah di RS Imanuel, rencanya dalam waktu dekat ini akan dilakukan bedah yang kelima yakni rilif atau pemasangan gif untuk Cerebral Palsy (CP),”tandasnya.

Merawat anak bangsa termasuk didalamnya adalah penyandang disabilitas, merupakan tanggungjawab negara. Namun peran serta pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten), dirasa belum maksimal dalam membantu dan melindungi hak anak serta memberdayakan kaum perempuan dan kaum disabilitas.

“Sampai saat ini, belum ada dorongan maupun perhatian serius baik itu dari Pemprov Lampung maupun Pemkab Lampung Selatan untuk mensupport kegiatan anak-anak penyandang disabilitas,”kata Mbah Surip.

Mudah-mudahan, karya string art anak-anak disabilitas tersebut bisa kita bawa ke pemerintah pusat dan semoga mau membantu meneruskan pondasi yang telah dibangun, minimal anak-anak disabilitas yang sudah dewasa seperti Sinta agar karyanya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Hari penyandang disabilitas Cerebral Palsy (CP) Ini, merupakan momentum bagi pemerintah dalam mengambil perannya untuk memfasilitasi karya seni anak anak penyandang disabilitas,”ungkapnya.

Saat disinggung apakah Pemkab Lampung Selatan tidak merespon kegiatan serta hasil karya anak-anak penyandang disabilitas tersebut. Mbah Surip menuturkan, Saat itu Ia pernah bertemu langsung dengan Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto dan beliau sempat menegur jajarannya (Camat).

“Saat itu saya bilang sama beliau (Pak Nanang), kalau keseharian saya fokus sama anak disabilitas CP selain terhadap anak saya sendiri juga terhadap anak-anak penyandang disabilitas CP lainnya,”ucapnya.

Pada saat itu, Pak Nanang meminta kepada dirinnya untuk dibuatkan dua tokoh PDI Perjuangan yakni Megawati dan Puan Maharani untuk dijadikan sebagai cinderamata. Tetapi oleh dirinya, dibuatkan empat gambar sekalgus sketsa wajah Fatmawati, Megawati Soekarno Putri, Puan Maharani dan Diah Pikatan Orissa Putri Hapsari.

“Sketsa empat wajah karya seni string art itu sudah diserahkan ke Pak Nanang belum lama ini, dan diapresiasi meski dibawah harga bahan. Meski demikian, saya dan istri tetap mensyukuri,”tandasnya.

  • Bagikan