Beranda Teras Berita Inilah Surat Pengunduran Diri Gus Mus sebagai Rais Aam NU Terpilih

Inilah Surat Pengunduran Diri Gus Mus sebagai Rais Aam NU Terpilih

615
BERBAGI
K.H. A. Mustofa Bisri (Foto: Istimewa)

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — K.H. Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus tidak berkenan untuk menjadi Rais Aam yang merupakan Pimpinan tertinggi Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Sikap ini di sampaikan Gus Mus melalui sepucuk surat yang ditulis tangan menggunakan tulisan pegon ( Huruf Arab berbahasa Indonesia ) kepada Tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA ) pada Muktamar ke 33 NU di Jombang, Rabu (05/08/15).

Isi surat yang di sampaikan kepada Tim AHWA ini menegaskan bahwa inilah sebenarnya sosok yang kita idam idamkan untuk menjadi panutan. Dizaman yang semakin mengedepankan popularisme, jabatan dan kekuasaan, sosok Gus Mus mampu menjadi oase bagi kita semua untuk sejenak berfikir bahwa Jabatan bukanlah segala galanya.

Menurut Katib Syuriyah PCNU Pringsewu Ustad Munawwir warga NU harus bersyukur masih memiliki ulama seperti Gus Mus yang sangat tawaduk mampu menjadi panutan dan mengedepankan kemaslahatan ummat dalam menghadapi masalah.

Munawir menambahkan bahwa seperti yang tertulis di dalam suratnya, Dasar utama Gus Mus tidak berkenan untuk menjadi Rais Aam adalah demi kemaslahatan Jamiyyah dan sekaligus mengayomi pihak pihak atau kelompok yang menjagokan tokohnya masing masing untuk menjadi pimpinan NU.
Munawir mengapresiasi sikap Gus Mus ini sehingga kepentingan kepentingan kedua belah pihak masing masing tidak menimbulkan perselisihan apalagi perpecahan.

Inilah selengkapnya Suray Gus Mus kepada Tim AHWA :

” Bismillahirrahmanirahim…
Hadrotil Afadil Sadatil Masyayikh ahlul halli wal aqdi Al a’izza Hafadzakumullah taala… Assalaamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.. Waba’du….


Seperti kita ketahui muktamar kita sekarang ini diwarnai oleh sedikit kisruh yang bersumber dari adanya dua kelompok yang masing masing menginginkan jagonya lah yang menjadi Rais Aam. Satu berusaha mempengaruhi muktamirin unyuk memilih A satunya lagi B dan sistem Ahlul Halli wal Aqdi pun dianggap sebagai alat oleh salah satu kelompok tersebut.


Oleh karena itu demi kemaslahatan Jamiyyah dan sekaligus mengayomi kedua belah pihak yang bersaing tersebut sebaiknya Ahlul Halli wal Aqdi tidak memilih dua nama yang dijagokan kedua belah pihak tersebut ( A maupun B ).


Jabatan Rais Aam biarlah diserahkan kepada salah satu dari Ahlul Halli wal Aqdi yang paling mendekati kriteria ( Afqohum wa Akbarihim ) sedangkan untuk Ketua Umum Tanfidziyyah biarlah Rais Aam terpilih merestui semua calon agar muktamirin bisa bergembira memilih pilihannya sendiri sendiri.

Terima Kasih dan Mohon Maaf “.

Kontributor : Muhammad Faizin, S.Pd

Loading...