Beranda Views Profil Isbedy Stiawan ZS, Paus Satra dari Lampung

Isbedy Stiawan ZS, Paus Satra dari Lampung

206
BERBAGI
Isbedy Stiawan ZS

MEMBINCANGKAN  tentang sastra modern Indonesia di Lampung, tidak lengkap kalau tidak membicarakan sosok Isbedy Stiawan ZS. Itu tak lain karena bapak lima anak dan kakek bagi dua cucu ini kini telah menjadi ikon sastra Lampung.

Isbedy menjadi lokomotif bagi para sastrawan Lampung generasi baru dan menjadi inspirasi bagi para yuniornya untuk menciptakan karya-karya kreatif. Maka, tak mengherankan jika kritikus sastra H.B. Jassin pernah menjuluki Isbedy sebagai “Paus Sastra Lampung”.

Jejak sastra Indonesia modern di Lampung memang relatif masih muda, yaitu dimulai tahun 1970-an. Ini berbeda dengan daerah lain di Sumatera seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara yang dimulai sejak tahun 1920-an. Geliat sastra di Lampung ketika itu dimulai dengan kiprah Isbedy Stiawan,Asrori Malik Zulqornain, Iwan Nurdaya Djafar, dan Syaiful Irba Tanpa.

Di antara empat nama itu, hanya Isbedy yang sampai kini bertahan sebagai sastrawan yang masih produktif menghasilkan karya-karya sastra. Hanya Isbedy pula yang hidup dari honornya sebagai pengarang, tanpa ada pekerjaan lain, sementara tiga rekannya kini menjadi birokrat. Isbedy sendiri pernah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Peternakan. Namun, pekerjaan itu dia tinggalkan karena lebih memilih hidup sebagai sastrawan.

Pada usianya yang mulai merambat tua, 47 tahun, gairah berkarya Isbedy justru makin luar biasa. Itu bisa dilihat dari buku yang diterbitkannya dalam tiga tahun terakhir dan banyaknya cerpen dan puisi yang dipublikasikannnya di berbagai media massa.

“Ketika dua cucu saya lahir dan berhenti sebagai wartawan, semangatku untuk menulis justru tidak terbendung. Saya tidak menunggu datangnya inspirasi, tetapi justru terus mencari inspirasi dan menciptakan momen-momen puitik,” ujarnya.

Selama tahun 2004 saja, misalnya, empat buku berhasil diterbitkannya. Antara lain antologi cerpen Bulan Rebah di Meja Diggers (Beranda, Agustus 2004), antologi cerpen Dawai Kembali Berdenting (Logung Pustaka, November 2004), antologi cerpen  Perempuan Sunyi (Gama Media, Desember 2004), dan cerita anak Dongeng Sebelum Tidur (Beranda, September 2004),

Sampai Mei 2005, sudah dua kumpulan cerpennya yang terbit.Yaitu antologi cerpen Selembut Angin Setajam Ranting (LP Publishing House, April 2005), antologi cerpen Seandainya Kau Jadi Ikan (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2005). Juni 2005 akan segera terbit kumpulan cerpen terbarunya, yaitu  Hanya untuk Satu Nama (penerbit Bentang, Yogyakarta).
Sampai kini tak kurang dari 300-an puisi dan 100-an cerpen sudah Isbedy ciptakan. Selain dipublikasikan di hampir semua media cetak di Indonesia, puisi dan cerpen Isbedy diterbitkan dalam lima kumpulan antologi puisi tunggal dan puluhan antologi puisi bersama. Beberapa puisinya pernah dibacakan di radio Deutzwelle Jerman, dipentaskan dalam musikalisasi puisi oleh penyair Geof Fox dari Australia, dan dipentaskan di panggung teater di Lampung.
“Saya akan terus menulis puisi dan cerpen sampai tangan saya tak mampu menulis dan mulut saya tak bisa mengucapkan karya sastra. Ukurannya adalah kalau para redaktur budaya media massa dan penerbit menolak menerbitkan karya-karya saya. Selama karya-karya saya masih diterima, saya akan terus berkarya. Sebab, inilah gantungan hidup saya. Dari puisi dan cerpen-cerpen saya itulah saya menghidupi keluarga,” tuturnya.
Dalam empat terakhir ini, ketika dia berhenti sebagai seorang jurnalis—dulu Isbedy  sastrawan sekaligus jurnalis—dan total hidup dari menulis puisi dan cerpen, Isbedy sangat ketat dan disiplin dengan waktu. Kerja keras dan disiplin itulah yang menyebabkan karya-karya Isbedy terus mengalir dan menemui penggemarnya di banyak media. Dari honorarium karya-karyanya yang terbit di banyak media itulah Isbedy menghidupi seorang istri dan kelima anaknya.
“Sebagai pengarang, saya memiliki disiplin kerja yang ketat. Setiap hari saya menulis antara pukul 07.30 sampai pukul 12.00 dan pukul 19.30 sampai 01.00 WIB. Begitu di depan layar komputer, ide tulisan mengalir begitu saja. Saya tidak pernah merencanakan ending cerita harus seperti apa,” kata Isbedy.
Meskipun waktunya banyak tersita untuk bekerja di depan layar komputer untuk menulis cerpen dan puisi, Isbedy masih mau menyisihkan waktunya bertemu dengan teman-teman sesama seninan dan masyarakatnya. Jadwal kerjanya masih bisa digeser jika memang ada permintaan untuk menjadi pembicara seminar, memberikan orasi budaya, membaca puisi, bahkan ikut berunjuk rasa ke gedung DPRD untuk mendesak agar anggota legislatif memperhatikan anggaran untuk orang miskin.
Bahkan, begitu bencana tsunami di Aceh didengarnya, bersama para aktivis NGO, Isbedy ikut memprakarsai berdirinya lembaga Lampung Ikhlas. Yaitu wadah berbagai NGO dan individu yang bertujuan menyalurkan bantuan dan mengirimkan para relawan ke Aceh dan Sumatera Utara.
“Saya hidup di tengah-tengah masyarakat. Tokoh-tokoh
saya juga saya ambil dari masyarakat. Maka tidak mungkin saya mengasingkan diri
dari persoalan masyarakat dan tinggal di menara gading,” ujarnya,
memberikan alasan kenapa dia mau terlibat dalam berbagai kegiatan di luar dunia
mengarang.
Christian
Heru Saputro, sahabat sekaligus pembaca setia karya-karya Isbedy, mengatakan
dalam mempublikasikan karya Isbedy tidak memilih-milih media. “Dari jurnal
sastra sampai tabloid wanita dan radio pun dikiriminya naskah. Makanya,
penikmat cerpen dan puisi Isbedy bukan hanya para penikmat sastra serius,
tetapi juga para ibu rumah tangga dan remaja putri yang masih duduk di bangku
SMA,” kata Saputro.
Menurut
Saputro, puisi-puisi awal Isbedy mengandung unsur sufistik yang kuat. Namun,
dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah era reformasi, puisi dan
cerpen-cerpen Isbedy lebih banyak menampilkan potret sosial masyarakat.
Persoalan yang diangkat banyak diambil dari peristiwa sehari-hari.
“Kalau
ada kelemahan pada diri Isbedy, salah satunya adalah dia orangnya keras kepala
dan tak mau kompromi. Dia juga sering terlalu keras melancarkan kritik kepada
pemerintah daerah sehingga saya yang sama-sama menjadi pengurus Dewan Kesenian
Lampung (DKL) sering was-was, karena sumber dana DKL berasal dari APBD,”
kata Saputro.
Di kalangan seniman di Lampung, Isbedy memang terkenal
sebagai keras pendirian. Tidak segan-segan Isbedy akan mengkritik habis
kebijakan walikota atau gubernur yang dianggapnya bertentangan dengan
kepentingan rakyat banyak.
Namun, meski Isbedy sering mengritik lewat pernyataan dan
tulisannya di media massa lokal, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. justru
memberi hormat kepadanya. Buktinya, Isbedy pernah diundang secara khusus oleh
gubernur untuk membacakan puisi-puisinya tentang Aceh dalam sebuah acara
pengggalangan dana untuk korban tsunami Aceh. Isbedy juga diajak gubernur ke
Aceh untuk menyerahkan bantuan bagi korban tsunami di Aceh dan Sumatera Utara.
“Meski sering diundang para elite politik, saya tetap
berusaha independen. Makanya, dalam hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah
(pilkada) langsung, saya menolak diajak untuk menjadi tim sukses kepala calon
daerah. Biar saya tetap objektif menyampaikan kritik, saya harus menjaga jarak
dengan dunia politik praktis,” kata dia.
Isbedy mengaku pernah diminta oleh seorang tim sukses calon
walikota untuk menulis cerpen yang isinya menguntungkan salah satu calon
walikota. Tetapi, permintaan itu ditolaknya karena tidak sesuai dengan sikap
hidupnya sebagai pengarang. “Dibayar berapa pun saya tidak mau melacurkan
profesi saya. Saya mengabdi kepada kemanusiaan, bukan pada pihak-pihak
tertentu,” ujarnya.
Karier
Isbedy sebagai pengarang diawali dari kerja keras . Bermula dari ketekunannya  membaca saat menunggui warung kue milik orang
tuanya,akhir tahun 1970-an, Isbedy menuangkan hasil khayalan ketika menunggu
warung itu ke atas kertas menjadi puisi. Hasil goresan pena itu kemudian kirim
ke RRI Tanjungkarang untuk dibacakan di ruang remaja.
Pendidikan
terakhirnya yang “cuma” Sekolah Teknologi Menengah (STM), tidak
menyurutkan Isbedy remaja terus belajar. Ia belajar menulis puisi dan cerpen
secara otodidak. Jeda latihan teater, dimanfaatkan Isbedy untuk diskusi soal
sastra dengan teman-temannya. Dari sanalah daya kreatif Isbedy terus diolah dan
kreativitasnya berkembang sampai menjadi penyair terkenal.
“Namun,
sejatinya saya terinspirasi menjadi pengarang justru karena dipengaruhi oleh
komik-komik Asmaraman S. Kho Ping Ho. Saya pembaca berat karya-karya Kho Ping
Ho sejak SMP dan terkesan dengan filsafatnya yang dalam,” kata Isbedy.
Salah
satu pesan Kho Ping Ho yang diingat Isbedy adalah ungkapan bahwa seseorang yang
menyenangi seni tanpa memiliki ilmu beladiri akan lemah dan mudah dizalimi,
sementara orang yang memiliki ilmu beladiri tanpa diimbangi nilai seni maka ia
akan jadi zalim. Kegandrungan pada Kho Ping Ho pula yang menyemangati Isbedy
untuk belajar beladiri karate sampai menyandang sabuk hitam.
Bagi
Isbedy, menulis cerpen berarti kesempatan belajar pada kehidupan. Sebelum
menulis, Isbedy biasanya mengamati berbagai karakter orang yang ada di
sekitarnya. Dari sana kemudian karakter,seting, dan alur dia bangun.
“Saya
ingin menghidupkan tokoh-tokoh di dalam cerpen saya seakan benar-benar hidup.
Tokoh-tokoh itu bisa saja saya sendiri, teman, orang tua, istri, ibu, atau pun
anak. Tokoh-tokoh itulah, setelah cerita itu jadi, kembali mengajarkan saya
betapa pentingnya hidup yang lurus dan bersih. Tokoh-tokoh dalam cerita saya
itu juga seperti membuka mata dan hati saya kembali,” ujarnya.
Meskipun
banyak karyanya yang sudah diterbitkan dan sering diundang untuk membacakan
puisi, Isbedy mengaku penghasilannya sebagai pengarang belumlah cukup untuk
menambal kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab, berbeda dengan di negara-negara
Barat, penghargaan penerbit dan media massa di Indonesia terhadap karya sastra
masih rendah. Bahkan, dia sering tidak diberi honor ketika diundang untuk
membacakan puisi.
Isbedy
mengaku salah satu obsesi besarnya adalah menulis roman. Namun, untuk menulis
roman Isbedy mengaku masih ada kendala besar yaitu soal dana. “Menulis
roman jelas harus lebih konsentrasi dan tidak bisa diganggu dengan urusan
mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mungkin saya akan menabung
dulu biar segera bisa menulis roman,” ujarnya.
Dari
kelima anaknya, tak satu pun yang mengikuti jejak Isbedy sebagai pengarang.
Tetapi, mereka adalah pembaca karya sastra. Sebab, anak-anak Isbedy dengan
bebasnya mengambil dan membaca buku-buku itu di lemari yang sengaja tidak
dikunci.

 

Meskipun
puisi-puisinya sangat dipengaruhi oleh tradisi sastra Melayu, Isbedy mengaku
lebih suka disebut sebagai warga dunia. Menurut Isbedy, sentimen Melayu tidak
boleh dipahami dalam pengertian sempit. Sebab, Melayu adalah Indonesia dan
Indonesia tidak lepas dengan negara-negara lain di dunia.
Oyos Saroso H.N.
Sumber: thejakartapost
Loading...