Beranda Teras Berita ISIS (2)

ISIS (2)

285
BERBAGI
Nusa Putra
ISIS
menjadi topik hangat di Tanah Air. Pemerintah sangat serius meresponsnya. Sampai
ada penangkapan terhadap 7 orang yang baru saja pulang membesuk Abu Bakar
Ba’syir yang diduga menjadi pendukung ISIS. Sejumlah Pemerintah Daerah juga
melakukan respon cepat dengan secara resmi melarang ISIS. Majelis Ulama
Indonesia tak kalah sigap  mengharamkan ISIS. Sejumlah organisasi
masyarakat seperti GP Ansor sampai melakukan penelusuran ke berbagai tempat
untuk mencaritemukan kegiatan ISIS.
Sungguh respon yang cepat dan tepat.
Pemerintah dan masyarakat memang harus cepat tanggap terhadap berbagai potensi
ancaman yang bisa merongrong NKRI dan memecah belah masyarakat.
Negeri
ini sudah berkali-kali dirobek oleh pergerakan perlawanan dan terorisme yang
menjadikan agama sebagai dasar bagi tindakannya. Biaya sosial politiknya
teramat mahal karena membuat banyak orang tewas dan dendam membara. Cukuplah
sudah tragedi pengeboman gereja, Ambon, Poso, Sampit, dan Sampang. Kita harus
terus menjaga dan mengusahakan jangan ada lagi tragedi seperti itu. Sungguh
sangat merusak kebhinekatunggalikaan bangsa ini.
Tanggapan
cepat itu sangat penting karena sejumlah alasan. Pertama, di negeri ini
kelompok radikal dan terorisme nyata adanya, telah berusia sangat panjang, dan
bersifat patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu. Mesti kini ada
Densus 88 anti teror, kelompok radikal dan teroris itu ternyata masih
berkembang. Kesannya mereka jadi Densus 99, alias lebih kenyal dan tahan
banting, serta tak pernah mati.
Jika
kita tarik ke masa lalu, pada 1926/27 merupakan kemunculan kelompok radikal
berbasis ideologi komunis yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan
Belanda. Bila ditelusuri istilah yang digunakan oleh tokoh dari kelompok kiri
sendiri seperti Tan Malaka dan Amir Syarifuddin, mereka menyebut pemberontakan
itu dilakukan oleh kelompok radikal. Jika tokoh kiri saja menyatakan mereka radikal,
bagaimana membantahnya?
Sepanjang
sejarah Indonesia moderen setelah proklamasi, kelompok radikal ini terus saja
eksis dan menjadi problem tersendiri yang selalu merepotkan dan menimbulkan
korban jiwa. Atas dasar pertimbangan sejarah ini, agaknya sikap cepat tanggap
itu sangat tepat. Agar ISIS tidak diberi kesempatan untuk menacapkan
pengaruhnya di negeri ini.
Kedua,
semua kelompok dan gerakan radikal di Indonesia sejak dulu hingga kini
berbasis, berdiri dan bergerak atas dasar ideologi. Itu artinya mereka bersifat
ideologis. Dalam praktiknya mereka bermetamorfosa menjadi ideologis fanatis.
Semua
kelompok dan gerakan yang bersifat ideologis fanatis selalu berbahaya. Karena
mereka bersikap membabi buta terhadap ideologi itu. Mereka menjadi fanatikus,
bersikap fanatik terhadap ideologi tersebut. Terjadilah pendewaan ideologi dan
ketumpulan berpikir. Akibatnya, mereka menjadikan idelogi sebagai landasan,
pembenaran, dan alasan untuk melakukan apa saja, termasuk melakukan segala cara
yang haram. Mereka menjadi irrasional dan berani menentang dan membantah
fakta-fakta nyata, dan menjelaskan segala sesuatu hanya dengan ideologi
tersebut. Apapun yang tidak sesuai dengan ideologi itu pasti dinyatakan sebagai
salah dan sesat. Akibatnya, apapun boleh dilakukan termasuk membunuh.
Itulah
sebabnya cara berfikir ideologis fanatis ini selalu melahirkan pembantaian
fantastis tanpa ampun. Pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Hitler,
Pol Pot, dan Mao adalah contoh paling spektakuler tentang kejahatan dan
kekejian cara berpikir ideologis fanatis itu. Cara fikir ideologis fanatis
itulah yang melahirkan fasisme.
Ketiga, meski ada ideologi lain seperti
komunis, namun kelompok radikal dan teroris di Indonesia sejak dulu sampai kini
yang paling banyak adalah kelompok dan gerakan yang menjadikan Islam sebagai
basis ideologinya.
Ada
perbedaan sangat mendasar dan jauh seperti bumi dan langit ketujuh antara Islam
sebagai ajaran agama dengan Islam yang ditafsirkan dan dijabarkan sebagai
ideologi oleh kelompok-kelompok radikal tersebut.
Bukan
saja berbeda, bahkan penuh dengan pertentangan. Mereka dengan mudah menyebut
siapa pun yang tidak sejalan dengan  sebagai kafir. Mereka menghalalkan
perampokan disertai pembunuhan sebagai upaya untuk membiayai aksi teror yang
mereka yakini sebagai jihad, atau berperang di jalan Allah.
Sebagian
dari keyakinan ideologis itu bisa ditemukan dari buku yang ditulis oleh pelaku
bom Bali dan ceramah-ceramah Abu Bakar Ba’asyir. Dalam paparan mereka tampak
sangat jelas banyak lompatan pemikiran yang menunujkkan ketidakajekan cara
berpikir dan berargumentasi untuk membenarkan semua tindakannya. Bisa dikatakan
mereka menggunakan pendekatan anarkis dalam memberi tafsir terhdap ayat-ayat Al
Qur’an. Artinya, Al Qur’an ditafsirkan seenaknya saja sebagai upaya pembenaran
atas keyakinan ideologis mereka. Jadi sangat jelas terpapar, mereka bukan
menjadikan Al Qur’an sebagai landasan kebenaran, tetapi memfungsikannya sebagai
alat pembenaran saja.
Pada
titik inilah bertemunya gerakan radikal dan teroris di Indonesia dengan ISIS.
ISIS bukan saja membantai kaum non muslim, juga kaum muslim yang berbeda dari
mereka. PBB melaporkan pemerkosaan yang dilakukan oleh militan ISIS. Mereka
menjarah dan merampok harta warga Irak saat melakukan serangan. Bahkan, orang
nomor satu ISIS menggunakan jam tangan mahal. Padahal dalam ceramah, ia
melarang dan mengecam kebidupan mewah. Inilah sedikit gambaran tentang ISIS.
Belakangan terdapat bukti ada warga negara Indonesia yang berasal dari Lamongan
melakukan bom bunuh diri sebagai pejuang ISIS di Irak.
Ketersanbungan
ideologi antara ISIS dengan kelompok radikal dan terorisme di indonesia,
pastilah akan membuat ISIS bisa denggan cepat berkembang di Indonesia. Karena
itu reaksi dan respon cepat pemerintah, tokoh-tokoh agama, dan masyarakat
menjadi penting artinya.
Kita tidak mau negeri ini terus-menerus
diganggu oleh para penganut ideologi sesat tersebut. Dan juga menolak dengan
tegas pencederaan Islam oleh sekelompok orang keblinger yang karena kejumudan
berpikir tidak mampu melakukan analisis kritis terhadap berbagai persoalan yang
tumbuh kembang di negeri sendiri.
Tampaknya
mereka juga kurang faham apa yang sesungguhnya terjadi di negeri-negeri bara
api seperti Suriah dan Irak. Jika ada semangat analisis kritis yang ditunjukkan
dengan kemampuan memilah, memilih, dan mengolah informasi dan pemikiran yang
dikembangkan oleh pendakwah ISIS, pastilah mereka akan “ngeh” atau
sadar bahwa betapa mengerikan peran yang kini dilakukan ISIS.
Dalam praktiknya ISIS menganggap diri
sebagai “perpanjangan kaki Tuhan” yang seenaknya menginjak siapa saja
yang dianggap melawan perintah Tuhan. Tragisnya mereka menjadikan diri mereka
sekaligus sebagai polisi, jaksa, hakim dan eksekutor yang membunuh orang
seenaknya atas nama Tuhan. Rasanya mereka adalah iblis yang mencatut nama
Tuhan. Karena itulah negara, pemerintah, dan masyarakat harus tegas dan keras
menolak berkembangnya ideologi fanatis seperti ini, apapun nama yang
membungkusnya.
AGAMA ADALAH PEMBAWA DAMAI, BUKAN ALAT
UNTUK MENGHANCURKAN!

Loading...